Makassar, Respublica — Seorang diplomat senior terkait Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mohamad Safa, mengundurkan diri dari jabatannya setelah mengklaim adanya persiapan skenario penggunaan senjata nuklir terhadap Iran di tengah meningkatnya eskalasi konflik kawasan.
Safa yang menjabat sebagai Perwakilan Utama Patriotic Vision Organization (PVA) mengumumkan pengunduran dirinya melalui akun media sosial X pada Selasa (31/3/2026), disertai surat terbuka yang menyoroti kekhawatirannya terhadap potensi serangan nuklir tersebut.

Safa menyebut selama hampir 12 tahun dirinya bekerja sama dengan PBB di bawah berbagai Sekretaris Jenderal dan Presiden Dewan Hak Asasi Manusia. Namun, situasi terkini membuatnya memutuskan mundur demi menjaga integritas pribadi. “It has been an honor cooperating with the UN for nearly 12 years under different Secretaries-General and Human Rights Council Presidents… May God bless this world,” tulisnya.
Dalam pernyataannya melalui unggahan di akun X, Safa mengaku tidak dapat lagi menjalankan tugasnya setelah mengetahui adanya pembahasan terkait kemungkinan penggunaan senjata nuklir ke Iran.
“After much reflection… I have decided to suspend all my duties… I cannot in good conscience be part of or witness to what is happening at a time when the UN is preparing for possible nuclear weapon use,” tulisnya.
Ia juga menyebut bahwa beberapa pejabat senior PBB diduga melayani “lobi kuat” yang mendorong arah kebijakan menuju eskalasi konflik.
Safa secara khusus menyoroti risiko besar terhadap Teheran jika serangan nuklir benar-benar terjadi. Ia menegaskan bahwa kota tersebut dihuni hampir 10 juta penduduk sipil.
“Tehran is a city of nearly 10,000,000 people. Imagine nuking Washington, Berlin, Paris, London,” tulisnya,
Ia memperingatkan bahwa penggunaan senjata nuklir dapat memicu bencana kemanusiaan global dan kemungkinan “nuclear winter” atau musim dingin nuklir akibat perang skala besar.
Dalam unggahan lanjutan, Safa mengaku meninggalkan karier diplomatiknya untuk membocorkan informasi tersebut. Ia menyatakan tidak ingin menjadi bagian dari apa yang disebutnya sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan” dan menyerukan masyarakat dunia untuk bertindak.
Safa juga meminta publik internasional menyebarkan informasi dan melakukan protes global guna mencegah kemungkinan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran.
Pengunduran diri Safa memicu perhatian luas di kalangan diplomatik internasional, terutama karena klaim tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan konflik Timur Tengah yang berpotensi meningkat ke tingkat penggunaan senjata pemusnah massal.
Comment