Makassar, Respublica— Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menerima dan mendampingi kunjungan kerja Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Benyamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR.
Tujuan kedatangannya untuk meninjau langsung pelaksanaan program prioritas Presiden RI di sektor kesehatan, khususnya penanggulangan penyakit tuberkulosis (TBC).

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi ajang evaluasi terhadap inovasi Pemerintah Kota Makassar bertajuk “Hantu Mesra”, singkatan dari Hunting Tuberkulosis dengan Metode Mengetuk Sayang Rumah Warga.
Program ini mengusung pendekatan proaktif dan humanis dengan mendatangi langsung rumah warga guna mendeteksi dini TBC serta menekan laju penularan di tingkat komunitas.
Rangkaian agenda diawali di Kantor Kelurahan Ballaparang, Kecamatan Rappocini, Selasa (13/1/2026), sebelum dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke rumah penyintas tuberkulosis.
Wali Kota Makassar dan Wamenkes RI juga menyempatkan diri meninjau Puskesmas Ballaparang untuk melihat secara langsung kesiapan layanan serta peran tenaga kesehatan dalam mendukung keberhasilan program tersebut.
Kehadiran Wamenkes RI menjadi penegasan kuat atas komitmen pemerintah pusat dan daerah dalam mempererat kolaborasi, memastikan upaya penanggulangan TBC berjalan efektif, tepat sasaran, dan benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan.
Wamenkes RI dr. Benyamin Paulus Octavianus menyampaikan bahwa kunjungan ke Makassar bertujuan untuk melihat secara langsung langkah konkret pemerintah daerah dalam memberantas TBC, terutama melalui pendekatan aktif berbasis masyarakat.
“Hari ini saya melakukan kunjungan di Makassar, khusus ke Puskesmas Ballaparang bersama Pak Wali Kota. Tujuannya melihat dan menekan penurunan, sesuai arahan pak Presiden, adalah menjalankan program pemberantasan tuberkulosis secara nasional,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Wamenkes RI didampingi Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, serta jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan dan Dinas Kesehatan Kota Makassar.
Peninjauan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah pusat memastikan implementasi program hasil terbaik cepat (quick wins) Presiden RI di bidang kesehatan berjalan optimal hingga tingkat layanan dasar.
“Karena itu, kami datang ke Sulawesi Selatan untuk melihat apa yang sudah dikerjakan di lapangan, dan ternyata Puskesmas Ballaparang memiliki keunggulan tersendiri,” katnaya.
Keunggulan yang dimaksud terletak pada inovasi layanan kesehatan “Hantu Mesra”, yang menerapkan strategi active case finding dengan mendatangi langsung rumah warga.
Selain mendeteksi dini kasus TBC, program ini juga mengedepankan edukasi kesehatan bagi keluarga dan lingkungan sekitar.
“Melalui program ini, petugas mendatangi rumah warga, meningkatkan active case finding, dan jika ditemukan orang sakit langsung dilakukan prinsip TOSS TB, yakni Temukan, Obati, Sampai Sembuh,” jelas Wamenkes.
Ia menambahkan, pemerintah pusat memiliki tanggung jawab besar untuk menurunkan angka TBC secara nasional, dari Aceh hingga Papua. Karena itu, berbagai pendekatan yang terbukti efektif di daerah akan diadopsi sebagai bagian dari strategi nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Wamenkes RI juga mengungkapkan bahwa Sulawesi Selatan, termasuk Kota Makassar, menjadi wilayah prioritas nasional karena masuk dalam delapan provinsi dengan kasus TBC tertinggi di Indonesia, bersama Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Utara.
Berdasarkan data tahun 2025, Kota Makassar tercatat memiliki 9.885 kasus TBC yang telah diobati. Dari jumlah tersebut, pemerintah akan melakukan tracing atau penelusuran kontak erat terhadap seluruh anggota keluarga penderita.
“Kalau ada hampir 10 ribu kasus, berarti ada ribuan rumah yang harus dikunjungi. Seluruh anggota keluarga harus diperiksa gratis, bukan hanya untuk TBC, tetapi juga dicek gula darah, tekanan darah, dan dilakukan foto rontgen,” tuturnya.
“Dengan begitu, jika ada penyakit lain seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan paru dan jantung, bisa ditangani lebih awal,” lanjutnya.
Untuk mendukung langkah tersebut, Kementerian Kesehatan RI akan menyalurkan bantuan alat kesehatan berupa rontgen portabel. Alat ini memiliki bobot ringan, sekitar tiga kilogram, sehingga dapat digunakan secara fleksibel hingga ke tingkat kelurahan maupun rumah warga.
“Kami akan menyerahkan alat rontgen portabel yang bisa dibawa ke mana-mana. Bisa digunakan di puskesmas, kantor kelurahan, bahkan langsung ke rumah warga. Ini akan sangat mempermudah proses diagnosis,” jelasnya.
Khusus untuk Kota Makassar, pemerintah pusat menargetkan penyaluran sekitar 20 unit rontgen portabel. “Dengan kapasitas satu alat melayani sekitar 3.000 pasien, kami perkirakan sebanyak 60.000 warga Makassar akan menjalani pemeriksaan sepanjang tahun 2026,” tutup Benyamin.
Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh pemerintah pusat dalam upaya penanggulangan TBC di Kota Makassar.
Ia menegaskan bahwa Pemkot Makassar terus mendorong inovasi layanan kesehatan yang menjangkau langsung masyarakat.
“Pak Wamen telah memberikan support yang sangat luar biasa. Ini tentu menjadi semangat bagi kami untuk menyelesaikan persoalan TBC di Kota Makassar,” ujarnya.
“Puskesmas-puskesmas kami, termasuk Puskesmas Ballaparang, memiliki inovasi yang sangat baik dan ini adalah tugas kita bersama untuk menyelesaikannya,” tambah Appi.
Ia menjelaskan bahwa program “Hantu Mesra” hadir sebagai solusi konkret atas tantangan sosial, di mana masih banyak warga enggan memeriksakan diri karena stigma dan rasa takut.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena tidak menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan, melainkan mendatangi mereka secara langsung.
Ini adalah cara yang tidak hanya menunggu bola, tetapi menjemput bola. Penyakit TBC ini banyak yang tidak mau diperiksa atau tidak mau diketahui kalau sakit. “Dengan metode mengetuk pintu rumah warga, ini menjadi jalan keluar yang sangat efektif,” jelasnya.
Munafri menargetkan, melalui intervensi serius dan kolaborasi lintas sektor selama dua hingga tiga tahun ke depan, angka kasus TBC di Kota Makassar dapat ditekan secara signifikan.
“Target kita jelas, nol TBC dalam 2 sampai 3 tahun ke depan. Kita intervensi secara maksimal, dan mudah-mudahan pada 2029 persoalan TBC di Makassar bisa kita tuntaskan hingga ke akar-akarnya,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa Pemkot Makassar terus berupaya memastikan program-program kesehatan dapat diakses secara luas oleh masyarakat, terutama dalam menghadapi penyakit menular yang masih menjadi tantangan serius.
“Pemerintah Kota Makassar terus melakukan berbagai inovasi di bidang kesehatan untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas” ” ungkapnya.
“Program-program ini harus benar-benar bisa diakses oleh masyarakat, salah satunya melalui inovasi yang dibuat oleh Puskesmas Ballaparang,” lanjut Munafri.
Dia menegaskan, program Hantu Mesra merupakan pendekatan yang sangat tepat karena tidak hanya menunggu bola, melainkan menjemput bola dengan menghadirkan layanan langsung ke rumah warga.
Menurut Munafri, pendekatan tersebut efektif karena selama ini masih banyak masyarakat yang enggan memeriksakan diri atau takut diketahui mengidap TBC, sehingga menghambat deteksi dan penanganan dini.
“Maka, inovasi ini menjadi salah satu jalan keluar yang dipersembahkan oleh teman-teman di Puskesmas Ballaparang,” ungkapnya.
Wali Kota Makassar berharap, melalui implementasi program “Hantu Mesra”, penemuan kasus TBC dapat dilakukan lebih cepat dan penanganannya berjalan menyeluruh hingga ke lingkungan keluarga penderita. “Dengan demikian, rantai penularan penyakit dapat ditekan secara signifikan,” tukansya.
Comment