Studi Psikologi: Orang yang Tidak Menarik Tak Sadar Dirinya Tidak Menarik, Bahkan Merasa Dirinya Oke-Oke Saja

Makassar, Respublica— Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa sebagian orang yang oleh banyak orang dinilai kurang atau tidak menarik merasa dirinya cukup menarik? Sebaliknya, orang yang dianggap menarik oleh lingkungannya sering merasa penampilannya biasa atau kurang istimewa.

Fenomena ini bukan sekadar anekdot sosial. Ia telah diuji secara sistematis dalam penelitian psikologi. Sebuah studi komprehensif yang dilakukan oleh Tobias Greitemeyer dan dipublikasikan dalam Scandinavian Journal of Psychology (2020) memberikan jawaban yang menarik.

ads

Melalui enam studi terpisah dengan total 1.180 partisipan, penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang secara objektif kurang menarik cenderung tidak menyadari ketidakmenarikan mereka. Mereka bahkan secara konsisten melebih-lebihkan daya tarik fisiknya dibandingkan dengan penilaian orang lain.

Ada kesepakatan sosial tentang daya tarik

Pertama-tama, penelitian ini menegaskan satu hal penting. Meskipun selera bisa berbeda-beda, manusia relatif sepakat tentang siapa yang menarik dan siapa yang tidak.

Baik peneliti, penilai foto, maupun partisipan lain menunjukkan tingkat kesepakatan yang tinggi ketika diminta menilai daya tarik fisik seseorang. Temuan ini sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa daya tarik fisik memiliki dimensi objektif.

Namun, kesepakatan ini  kontras dengan cara individu menilai dirinya sendiri. Hubungan antara penilaian diri dan penilaian orang lain ternyata lemah. Artinya, mengetahui bagaimana orang lain memandang penampilan kita bukanlah hal yang mudah.

Ilusi pada diri yang kurang menarik

Temuan paling konsisten dalam keenam studi tersebut adalah ini: individu yang dinilai kurang menarik oleh orang asing melebih-lebihkan daya tarik mereka sendiri.

Mereka cenderung menempatkan diri di atas titik tengah skala penilaian, seolah-olah berada pada level “rata-rata” atau bahkan sedikit di atasnya.

Yang lebih menarik, penilaian diri mereka hampir tidak berbeda dari penilaian diri individu yang secara objektif menarik. Dengan kata lain, dalam persepsi subjektif, orang yang kurang menarik dan orang yang menarik merasa diri mereka sama-sama “cukup menarik”.

Sebaliknya, individu yang menarik justru menunjukkan penilaian diri yang lebih akurat. Bahkan, jika ada bias, mereka cenderung meremehkan daya tariknya sendiri dibandingkan penilaian orang lain.

Bukan sekadar soal harga diri

Peneliti kemudian mencoba menjawab pertanyaan lanjutan: mengapa hal ini terjadi? Apakah orang yang kurang menarik sekadar ingin melindungi harga diri mereka?

Untuk menguji hal ini, Greitemeyer menggunakan pendekatan afirmasi diri. Yakni sebuah teknik psikologis yang biasanya dapat mengurangi sikap defensif seseorang.

Namun hasilnya jelas: memperkuat harga diri partisipan tidak membuat mereka menilai daya tariknya secara lebih realistis. Ini menunjukkan bahwa ilusi tersebut bukan terutama didorong oleh motivasi untuk merasa lebih baik tentang diri sendiri.

Penjelasan lain yang diuji adalah kemampuan metakognitif, yakni kemampuan untuk menilai penilaian diri sendiri. Individu yang kurang menarik memang terbukti kurang tajam dalam membedakan mana orang yang menarik dan mana yang tidak.

Mereka cenderung memberi nilai lebih tinggi pada orang-orang yang sebenarnya tidak menarik. Namun, kecenderungan ini tidak cukup untuk menjelaskan mengapa mereka secara khusus melebih-lebihkan penilaian terhadap diri sendiri.

Ada kesadaran samar, tapi tidak utuh

Menariknya, meskipun secara eksplisit menilai diri mereka cukup menarik, individu yang kurang menarik menunjukkan tanda-tanda kesadaran implisit.

Ketika diminta memilih pembanding, mereka cenderung membandingkan diri dengan orang-orang yang juga kurang menarik, bukan dengan yang menarik. Ini mengisyaratkan adanya kesadaran samar bahwa posisi mereka tidak setara dengan individu yang sangat menarik.

Namun, kesadaran ini tidak sepenuhnya masuk ke dalam penilaian diri yang eksplisit. Akibatnya, persepsi diri mereka tetap ilusif: merasa “biasa saja”, padahal penilaian sosial berkata lain.

Mengapa ilusi ini bertahan?

Penelitian ini belum menemukan mekanisme tunggal yang menjelaskan fenomena tersebut secara tuntas. Namun, penulis mengajukan kemungkinan bahwa ilusi ini justru memiliki fungsi adaptif.

Dalam perspektif evolusioner, kepercayaan diri yang berlebihan bisa memberikan keuntungan sosial, misalnya dengan membuat orang lain lebih mudah diyakinkan atau mengurangi rasa cemas dalam interaksi sosial.

Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari, orang tidak hanya menerima penilaian dari orang asing. Umpan balik positif dari teman, keluarga, atau pasangan bisa menjadi jangkar yang lebih kuat dalam membentuk persepsi diri, meskipun tidak selalu mencerminkan penilaian sosial yang lebih luas.

Kesimpulan: Kita tidak selalu tahu posisi kita

Penelitian Greitemeyer menyimpulkan sesuatu yang agak paradoksal. Sebagian besar orang sepakat tentang siapa yang menarik dan siapa yang tidak, dan orang yang menarik umumnya menyadari posisi mereka.

Namun, individu yang kurang menarik cenderung tidak menyadari ketidakmenarikan tersebut dan mempertahankan persepsi diri yang tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas sosial.

Seperti dikatakan dalam penelitian sebelumnya, “kita tahu siapa yang tampan atau cantik—dan mereka yang tampan atau cantik juga mengetahuinya.” Yang menarik, justru mereka yang tidak termasuk dalam kategori itu sering kali tidak menyadarinya.

Sumber artikel

Greitemeyer T. Unattractive people are unaware of their (un)attractiveness. Scand J Psychol. 2020 Aug;61(4):471-483. doi: 10.1111/sjop.12631. Epub 2020 Mar 11. PMID: 32157701; PMCID: PMC7384173.

Comment