Kanibalisme pada Ular Ternyata Bukan Fenomena Langka, Studi Catat 503 Kasus

Ilustrasi: AI Generative

Makassar, Respublica— Selama ini, ular dikenal sebagai predator ulung dengan kemampuan memangsa tikus, burung, amfibi, bahkan hewan berukuran jauh lebih besar dari kepalanya sendiri.

Namun ada sisi lain yang jarang dibahas secara sistematis: ular juga dapat memangsa sesamanya. Perilaku kanibalisme ini selama bertahun-tahun dianggap sekadar kejadian langka atau kebetulan yang tercatat dalam laporan lapangan.

ads

Sebuah kajian komprehensif terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Biological Reviews oleh Falcão, São Pedro, dan Entiauspe-Neto (2025) menunjukkan bahwa kanibalisme pada ular ternyata jauh lebih luas, lebih terstruktur, dan lebih “masuk akal secara evolusioner” daripada yang selama ini diduga.

503 kasus, 207 spesies: bukan peristiwa pinggiran

Tim peneliti mengumpulkan 503 kasus kanibalisme yang terdokumentasi dalam literatur ilmiah. Kasus-kasus ini mencakup sedikitnya 207 spesies dari 15 famili ular, baik di alam liar maupun di penangkaran. Angka ini saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kanibalisme bukanlah fenomena anomali.

Sebagian besar kasus terjadi pada tiga famili besar: Colubridae (29,0%), Viperidae (21,2%), dan Elapidae (18,9%). Artinya, perilaku ini tersebar pada kelompok ular berbisa maupun tidak berbisa, dan pada berbagai tipe ekologi.

Dengan data sebesar ini, kanibalisme tidak lagi bisa dipandang sebagai “kecelakaan biologis”, melainkan sebagai bagian dari spektrum strategi makan ular modern.

Apakah kanibalisme itu acak?

Selama ini ada anggapan bahwa ular memakan sesamanya hanya jika “kebetulan bertemu” atau dalam kondisi ekstrem. Untuk menguji asumsi ini, para peneliti menggunakan teori strategi makan optimal. Yakni kerangka teoretis dalam ekologi yang menjelaskan bahwa predator cenderung memilih mangsa dengan rasio energi paling menguntungkan.

Hasilnya, terdapat korelasi positif yang sangat kuat antara ukuran predator dan ukuran mangsa dalam kasus kanibalisme (R = 0,81). Artinya, ular yang memakan ular lain tidak melakukannya secara sembarangan.

Mereka cenderung memangsa individu yang ukurannya masih “masuk akal” secara biomekanik dan energetik. Dengan kata lain, kanibalisme pada ular mengikuti logika yang sama seperti ketika mereka memangsa tikus atau katak: efisiensi energi tetap menjadi pertimbangan utama.

Berevolusi berkali-kali

Salah satu temuan paling menarik adalah bahwa perilaku ini tidak muncul sekali dalam sejarah evolusi ular, lalu diwariskan ke semua keturunannya. Melalui analisis filogenetik berbasis estimasi maximum-likelihood, peneliti menemukan bahwa kanibalisme berevolusi secara independen sedikitnya 11 kali.

Ini berarti bahwa dalam berbagai garis keturunan yang berbeda, tekanan ekologis atau peluang tertentu mendorong munculnya perilaku serupa. Evolusi “menemukan” solusi yang sama berulang kali.

Fenomena seperti ini dikenal sebagai evolusi konvergen—ketika sifat yang mirip muncul secara terpisah pada cabang evolusi yang berbeda karena menghadapi tantangan yang serupa.

Peran bentuk rahang

Tidak semua ular memiliki kapasitas anatomis untuk memakan mangsa besar. Studi ini menemukan bahwa kanibalisme terbatas pada ular dengan morfologi mandibula makrostomat. Yakni rahang bawah yang sangat fleksibel dan mampu membuka lebar.

Kelompok ini termasuk dalam Alethinophidia, yaitu kelompok besar ular “maju” yang memang dikenal memiliki kemampuan menelan mangsa berukuran besar. Sebaliknya, ular dengan mobilitas rahang yang lebih terbatas hampir tidak menunjukkan perilaku kanibalisme.

Temuan ini menegaskan bahwa perilaku tidak bisa dipisahkan dari anatomi. Evolusi bentuk tubuh membuka atau membatasi kemungkinan strategi makan tertentu.

Siapa yang paling sering kanibal?

Studi ini juga membedakan beberapa bentuk kanibalisme:

  1. Kanibalisme pada spesies pemakan ular (ofiofagus)
    Spesies yang memang secara alami memakan ular lain menunjukkan kecenderungan lebih tinggi melakukan kanibalisme. Namun, setengah dari kasus juga terjadi pada spesies generalis—yang makanannya beragam. Ini menunjukkan bahwa kanibalisme bisa menjadi strategi oportunistik.
  2. Kanibalisme maternal
    Paling sering tercatat pada ular boid (misalnya kelompok boa), yang dikenal dapat menunjukkan perilaku perawatan induk. Dalam kondisi tertentu—terutama stres—induk dapat memakan anaknya.
  3. Kanibalisme seksual
    Tampaknya terbatas pada boid dan mungkin merupakan bagian dari strategi makan, bukan sekadar agresi.
  4. Kanibalisme saat “tarian pertarungan” (combat-dance)
    Hanya tercatat pada dua spesies elapid yang juga pemakan ular.
  5. Kanibalisme antar anakan
    Jarang, tetapi mungkin berkaitan dengan kompetisi saudara kandung atau keterbatasan sumber daya.

Faktor stres, terutama kekurangan makanan atau kondisi penangkaran, juga tampak berperan dalam beberapa kasus.

Oportunistik, bukan kejam

Dari sudut pandang manusia, kanibalisme terdengar ekstrem atau “kejam”. Namun dalam perspektif evolusi, perilaku ini tidak bermuatan moral. Ia adalah strategi.

Jika seekor ular bertemu mangsa yang bernilai energi tinggi, mudah ditangkap, dan secara anatomis dapat ditelan—maka secara evolusioner tidak ada alasan untuk menolaknya hanya karena mangsa itu satu spesies.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa kanibalisme pada ular kemungkinan besar merupakan perilaku oportunistik yang terkait dengan sejarah evolusi, spesialisasi morfologi, pola makan, lingkungan, serta kondisi ekologis setempat.

Sumber artikel

Falcão, B.B., São Pedro, V.A. and Entiauspe-Neto, O.M. (2025), Occurrence and evolution of cannibal behaviour in extant snakes. Biol Rev. https://doi.org/10.1111/brv.70097

Comment