Luwu Timur, Respublica— Kabupaten Luwu Timur (Lutim) selama ini selalu dikenal sebagai daerah pertambanga. Anggapan tersebut bukan tanpa dasar.
Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menunjukkan, sektor pertambangan masih jadi penopang utama ekonomi Lutim. Kontribusinya mencapai 47,95 persen dari total aktivitas perekonomian.

Angka ini menegaskan dominasi peran industri ekstraktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Lutim. Tapi di balik itu semua, Lutim menyimpan potensi ekonomi lain yang tidak kalah besar.
Sejumlah sektor non-tambang seperti pertanian, perkebunan, perikanan, hingga pariwisata mulai menunjukkan perannya sebagai penopang ekonomi daerah, bersama dengan pertambangan.
Salah satu sektor yang menonjol adalah perkebunan rakyat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Lutim tahun 2024 memperlihatkan luasnya areal komoditas perkebunan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Kakao menjadi komoditas unggulan dengan luas mencapai 11.147,2 ribu hektare. Hal tersebut menjadikannya sebagai terbesar di antara komoditas lainnya. Di posisi setelahnya, ada kelapa sawit yang juga memiliki peran tak kalah penting dengan luas 10.030,8 ribu hektare, sekaligus memperkuat basis ekonomi berbasis komoditas ekspor.
Selain itu, kelapa tercatat memiliki luas areal 1.337,5 ribu hektare, sementara cengkeh mencapai 503,3 ribu hektare. Komoditas lain seperti kopi seluas 129,5 ribu hektare dan pala 109,0 ribu hektare turut memperkaya struktur perkebunan di daerah ini.
Bahkan, tanaman sagu yang luasnya relatif kecil, yakni 30,6 ribu hektare, tetap menjadi bagian dari potensi lokal yang dapat dikembangkan.
Keberagaman komoditas tersebut menunjukkan, sektor perkebunan rakyat di Luwu Timur bukan sekadar pelengkap. Mereka memiliki kapasitas besar sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Terlebih lagi daerah ini dikenal sebagai penghasil komoditas unggulan seperti merica, kelapa sawit, dan kakao yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar domestik maupun global.
Tak hanya itu, peluang pengembangan ekonomi juga terlihat dari sektor biofarmaka. Data BPS tahun 2025 mencatat mulai berkembangnya budidaya tanaman herbal di Luwu Timur, meski skalanya masih terbatas.
Serai menjadi komoditas dengan luas panen terbesar, yakni 2.061 meter persegi, diikuti oleh lengkuas seluas 1.270 meter persegi dan jahe 408 meter persegi. Tanaman lain seperti kunyit, kencur, dan temulawak juga mulai dibudidayakan, meski dalam skala yang lebih kecil.
Sementara itu, jeruk nipis tercatat sebagai komoditas berbasis pohon dengan jumlah 663 pohon. Meski beberapa jenis tanaman herbal lainnya belum berkembang signifikan, data ini menunjukkan adanya arah diversifikasi pertanian yang mulai terbentuk.
Pengembangan sektor biofarmaka ini membuka peluang baru, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pasar terhadap produk herbal dan kesehatan alami.
Comment