Rezeki Nur: Pemuda Kini Bukan Objek, Tapi Arsitek Masa Depan Bangsa

Makassar, Respublica— Anggota DPRD Kota Makassar, Rezeki Nur, S.Kep., Ns., M.Kep menggelar kegiatan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Angkatan II bersama Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Makassar di Hotel Karebosi Premier, Jumat (3/4/2026).

Kegiatan ini turut menghadirkan Kepala Bidang Pengembangan Pemuda Dispora Makassar, Brian Ramadhan, sebagai pemateri, bersama Kasman, S.Kom.

ads

Dalam sambutannya, Rezeki Nur menegaskan bahwa paradigma pembangunan saat ini telah mengalami pergeseran mendasar. Pemuda tidak lagi diposisikan sebagai objek yang hanya menerima hasil kebijakan. Ia adalah subjek yang aktif terlibat dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan.

“Pemuda bukan lagi objek, tetapi subjek pembangunan, arsitek negara yang akan menentukan masa depan bangsa ini,” ujar legislator PKS Makassar itu.

Lebih jauh, Rezeki Nur juga menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif di kalangan generasi muda agar mampu melihat peluang sekaligus menjawab tantangan zaman.

Menurutnya, kualitas pemuda hari ini akan sangat menentukan wajah Indonesia di masa depan, sehingga investasi terhadap pengembangan kapasitas pemuda menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

“Saya yakin dari kita akan lahir pemuda hebat. Materi ini penting disimak bersama sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tambahnya.

Sementara itu, Brian Ramadhan dalam pemaparannya menjelaskan kondisi pemuda di Kota Makassar berdasarkan indeks pembangunan pemuda yang diukur melalui beberapa domain utama, seperti pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan partisipasi kepemimpinan.

Pada sektor pendidikan, ia mengungkapkan masih terdapat wilayah dengan tingkat pendidikan pemuda yang relatif rendah, seperti di Kecamatan Sangkarrang, Tallo, dan Bontoala, di mana sebagian pemuda belum menuntaskan program wajib belajar sembilan tahun.

Di sisi lain, pada domain kesehatan, indeks menunjukkan capaian yang cukup baik, meskipun masih ditemukan persoalan terkait kebugaran fisik di beberapa wilayah seperti Panakkukang, Ujung Pandang, dan Mariso.

Untuk aspek ketenagakerjaan, Brian menilai bahwa kondisi pemuda saat ini tidak bisa serta-merta dikategorikan sebagai pengangguran.

“Ini bukan berarti pengangguran. Sekarang ada istilah pekerjaan fleksibel seperti freelancer. Anak muda memiliki skill, hanya saja kesempatan kerja yang sesuai belum sepenuhnya tersedia,” jelasnya.

Sementara pada domain partisipasi dan kepemimpinan, ia menyoroti masih adanya sikap apatis di sejumlah kecamatan seperti Rappocini, Biringkanaya, dan Tamalate, terutama dalam hal keterlibatan pemuda di organisasi.

“Kita melakukan penghitungan ini agar bisa mengetahui wilayah mana yang menjadi prioritas dalam pelaksanaan kegiatan kepemudaan,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa pemuda memiliki peran strategis sebagai katalisator perubahan, terutama dalam memanfaatkan bonus demografi untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Lebih lanjut, Brian mengingatkan bahwa kemajuan tidak akan tercapai tanpa adanya kemauan dari diri sendiri. Ia mendorong pemuda untuk terus mengasah keterampilan, berani mencoba, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan.

“Kalau bukan dari diri kita sendiri yang mau maju, maka itu sama saja bohong. Misalnya ingin menjadi pengusaha, maka harus belajar dari dasar. Kalau tidak bisa, cari jalan lain,” tuturnya.

Comment