AS Sepakat Gencatan Senjata 2 Minggu, Iran Ajukan 10 Syarat untuk Damai

Makassar, Respublica— Amerika Serikat dan Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara selama dua minggu pada Selasa (7/4/2026), di tengah eskalasi ketegangan yang nyaris berujung pada serangan militer langsung. Kesepakatan ini tercapai hanya sekitar 90 menit sebelum rencana serangan terhadap Iran dilaksanakan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan membatalkan operasi militer tersebut dan memilih membuka jalur diplomasi. Langkah ini diambil setelah Washington menerima proposal dari Teheran yang berisi 10 poin utama sebagai dasar negosiasi.

ads

Dalam pernyataannya, Trump menyebut proposal tersebut sebagai “dasar yang dapat diterapkan untuk bernegosiasi” dikutip dari The Guardian, menandai adanya peluang baru untuk meredakan konflik yang selama ini memanas di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, pemerintah Iran melalui media resminya menegaskan bahwa penghentian konflik secara permanen hanya dapat terjadi apabila seluruh rincian dalam rencana perdamaian tersebut disepakati. Proposal 10 poin itu dilaporkan telah dikirim ke Gedung Putih melalui perantara pemerintah Pakistan.

Sejumlah poin dalam proposal tersebut mencerminkan tuntutan lama Iran yang sebelumnya kerap ditolak oleh Amerika Serikat. Di antaranya adalah pencabutan seluruh sanksi ekonomi, baik primer maupun sekunder, serta pelepasan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri.

Selain itu, Iran juga menginginkan pengakuan atas kontrol berkelanjutan terhadap Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global. Teheran juga menuntut penarikan penuh militer AS dari kawasan Timur Tengah dan penghentian seluruh serangan terhadap Iran beserta sekutunya.

Tak hanya itu, Iran meminta agar kesepakatan yang dicapai nantinya diperkuat melalui resolusi Dewan Keamanan PBB sehingga bersifat mengikat secara internasional.

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, dalam pernyataan resminya yang diunggah di X menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Pakistan atas peran mediasi yang dinilai krusial dalam meredakan konflik.

“Atas nama Republik Islam Iran, saya menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada saudara-saudara saya yang terhormat, Yang Mulia Perdana Menteri Pakistan Sharif dan Yang Mulia Field Marshal Munir atas upaya tak kenal lelah mereka untuk mengakhiri perang di kawasan ini,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Iran bersedia menghentikan operasi militernya dengan syarat utama adanya penghentian serangan dari pihak lawan.

“Jika serangan terhadap Iran dihentikan, Angkatan Bersenjata kami yang perkasa akan menghentikan operasi pertahanan mereka,” lanjutnya.

Sebagai bagian dari komitmen awal, Iran juga membuka kemungkinan akses terbatas di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata. Jalur tersebut akan difungsikan sebagai koridor aman bagi pelayaran internasional, dengan pengawasan dan koordinasi bersama angkatan bersenjata Iran serta mempertimbangkan sejumlah batasan teknis.

“Untuk jangka waktu dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan batasan teknis yang ada,” ujarnya.

Daftar 10 poin tersebut, yang diterbitkan oleh media pemerintah Iran (@presstv), mencakup sejumlah syarat yang telah ditolak AS di masa lalu. Rencana tersebut mensyaratkan:

  1. Tidak melakukan agresi
  2. Melanjutkan kendali Iran atas Selat Hormuz
  3. Menerima pengayaan uranium
  4. Mencabut semua sanksi utama
  5. Mencabut semua sanksi sekunder
  6.  Mengakhiri semua resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Iran
  7. Mengakhiri semua resolusi Dewan Gubernur IAEA terkait Iran
  8. Pembayaran kompensasi kepada Iran
  9. Penarikan pasukan tempur AS dari kawasan tersebut
  10. Penghentian perang di semua front, termasuk melawan Perlawanan Islam Lebanon yang heroik.

Comment