Makassar, Respublica— Musyawarah Wilayah (Muswil) PKB Sulawesi Selatan kembali menjadi ajang konsolidasi penting bagi para kader. Kegiatan yang digelar di Hotel Aryaduta, Senin (8/12/2025), tersebut dihadiri sejumlah tokoh.
Mulai dari Wakil Ketua Umum DPP PKB Cucun Ahmad Syamsurijal, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, hingga para anggota DPR RI dari dapil Sulsel, Syamsu Rizal dan Andi Muawiyah Ramli.

Dalam forum itu, Ketua DPW PKB Sulsel, Azhar Arsyad, memanfaatkan momentum untuk menegaskan pentingnya keteguhan dan kekompakan kader dalam menghadapi perubahan politik yang semakin cepat.
Ia menggambarkan perjalanan partai layaknya kapal yang terus bergerak menuju dermaga, menghadapi ombak dan badai yang tak terhindarkan.
“Di politik itu pasti ada gelombang, ada badai. Ada yang menyerah, ada yang bertahan. Muswil ini ibarat kita tiba lagi di dermaga untuk meneguhkan arah,” ujarnya.
Azhar menekankan bahwa proses pemilihan pemimpin merupakan mekanisme struktural yang sepenuhnya berada di ranah DPC dan DPP. Karena itu, setiap kader diminta menjaga marwah organisasi dan menghormati keputusan yang lahir dari musyawarah internal.
“Siapa pun yang terpilih, itu urusan DPC dan DPP. Bukan lagi urusan perorangan. Kita harus meneguhkan kembali semangat kolektif,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, ia juga memaparkan perkembangan PKB Sulsel dalam beberapa tahun terakhir. Perolehan kursi PKB secara nasional meningkat dari 51 kursi pada Pemilu 2019 menjadi 79 kursi pada Pemilu 2024, termasuk dua kursi DPR RI dari Sulsel.
Sambil bercanda, Azhar bahkan meminta tambahan dukungan dari Gubernur Sulsel agar representasi PKB dapat semakin bertambah. “Sekarang sudah 79 kursi dengan dua DPR RI. Nanti kita bisa minta bantuan Pak Gubernur tambahkan satu,” ujarnya.
Di tingkat provinsi, PKB tetap mempertahankan delapan kursi DPRD. Sementara di kabupaten/kota, perolehan meningkat dari 51 kursi menjadi 69.
PKB Sulsel juga untuk pertama kalinya berhasil menempatkan dua kader pada posisi pimpinan eksekutif, meski masih sebagai wakil kepala daerah. “Tidak apa-apa jadi wakil dulu. Ada waktunya, kalau takdir menghendaki, Anda akan jadi bupati,” ungkap Azhar memberi motivasi.
Dalam sambutannya, ia turut menyoroti kultur egaliter di tubuh PKB. Azhar menyebut partai berlambang bola dunia itu bukan dihuni oleh para pemilik modal besar.
“Kalau kita jujur, PKB ini tidak ada orang kayanya. Yang paling kaya hanya Fauzi Andi Wawo. Modal kita itu semangat juang. Ada juga yang jual tanah, tapi calo juga,” tambahnya.
Ia kembali menegaskan bahwa militansi kader menjadi kekuatan utama PKB dalam menghadapi tekanan politik. “Tidak ada pelaut ulung yang lahir dari ombak tenang. Harus ada ombak. Begitulah perjuangan kita,” tutupnya.
Comment