Makassar, Respublica — Upaya meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap isu perubahan iklim terus dilakukan. Salah satunya melalui program pengabdian kepada masyarakat yang digelar Tim Universitas Negeri Makassar (UNM) di SMA Negeri 23 Makassar, dengan menitikberatkan pada penguatan literasi lingkungan dan kesadaran ekologis siswa.
Program bertajuk Peningkatan Literasi Lingkungan dan Kesadaran Ekologis Siswa melalui Model Edukasi Partisipatif sebagai Upaya Mitigasi Perubahan Iklim ini berlangsung selama tiga bulan, sejak September hingga November 2025, dan mencapai puncaknya pada Kamis (13/11/ 2025).

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Muhammad Ansarullah S. Tabbu, M.Pd. dari Program Studi Pendidikan Geografi, bersama Zulfikri, S.Pd., M.Pd. dan Nur Fadhilah Umar, S.Pd., M.Pd. dari Program Studi Bimbingan Konseling, serta Asri Nur Aina, S.Sos., M.A.P. dari Program Studi Administrasi Perkantoran.
Menurut Muhammad Ansarullah, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menjawab tantangan perubahan iklim melalui jalur pendidikan.
“Isu perubahan iklim tidak bisa hanya dibahas di level kebijakan. Pendidikan memiliki peran strategis untuk membangun kesadaran sejak dini, dan sekolah menjadi ruang yang sangat penting untuk itu,” ujarnya.
Program pengabdian ini berangkat dari masih rendahnya literasi lingkungan dan kesadaran ekologis siswa, khususnya di wilayah perkotaan. Melalui pendekatan edukasi partisipatif, siswa didorong untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran, tidak hanya memahami konsep, tetapi juga membangun kepedulian dan kebiasaan ramah lingkungan.
“Model edukasi partisipatif kami pilih agar siswa tidak sekadar menjadi pendengar, tetapi menjadi subjek pembelajaran yang aktif, kritis, dan reflektif terhadap persoalan lingkungan di sekitarnya,” kata Ansarullah.
Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap dan sistematis. Tahap awal diawali dengan sosialisasi dan koordinasi bersama pihak sekolah, disertai pre-test untuk mengukur tingkat awal literasi lingkungan siswa.
Tahap selanjutnya kata Ansarullah diisi dengan pelatihan dan workshop mitigasi perubahan iklim, yang membahas pengurangan sampah plastik, penghematan energi dan air, serta praktik penghijauan melalui diskusi kelompok dan simulasi.
Selain itu, siswa juga dilibatkan dalam pemanfaatan media digital dan media sosial sebagai sarana pembelajaran sekaligus kampanye lingkungan. Pada tahap ini, siswa menyusun dan menyebarluaskan konten edukatif bertema kepedulian lingkungan kepada warga sekolah.
“Kami ingin siswa menjadi agen perubahan. Lewat media digital, pesan kepedulian lingkungan bisa disampaikan dengan cara yang kreatif dan dekat dengan keseharian mereka,” jelas Ansarullah.
Tahap pendampingan dan evaluasi dilakukan melalui observasi lapangan serta post-test untuk mengukur dampak program. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan, dengan nilai rata-rata siswa meningkat dari 58 pada pre-test menjadi 82 pada post-test.
Lebih lanjut, perubahan perilaku positif juga terlihat, seperti meningkatnya kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekolah, berkurangnya penggunaan plastik sekali pakai, serta kebiasaan menghemat energi.
Sebagai tahap akhir, tim pengabdian menyusun rencana keberlanjutan program melalui pembentukan dan penguatan kelompok lingkungan sekolah, serta integrasi literasi lingkungan ke dalam program dan aktivitas sekolah.
“Kami berharap apa yang sudah dimulai di SMA Negeri 23 Makassar ini tidak berhenti setelah program selesai, tetapi menjadi bagian dari budaya sekolah,” tutup Ansarullah.
Comment