Sosialisasi Empat Pilar, Rudianto Lallo Tekankan Integritas dan Karakter Transformatif

Makassar, Respublica — Dinamika kehidupan kampus dinilai sebagai miniatur negara. Di dalamnya terdapat struktur kepemimpinan, perbedaan pandangan, hingga tarik-menarik kepentingan yang membentuk kultur organisasi layaknya masyarakat dalam skala kecil. Dari ruang-ruang diskusi, mimbar aksi, hingga forum senat mahasiswa, proses kepemimpinan ditempa sebelum benar-benar diuji di panggung kebangsaan.

Hal itu disampaikan Anggota DPR RI Komisi III, Rudianto Lallo, saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI di Rumah Aspirasi Anak Rakyat, Jalan AP Pettarani No. 5 C, Makassar. Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa dari berbagai kampus dengan latar belakang disiplin ilmu yang beragam.

ads

Rudianto mengisahkan perjalanan hidupnya ketika masih berstatus mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Ia mengaku aktif menyuarakan isu-isu nasional dan lokal, baik sebagai demonstran maupun saat menjabat Ketua Senat Mahasiswa Hukum Indonesia Regional Kawasan Timur Indonesia.

Menurut dia, pengalaman berorganisasi di kampus bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan proses pembentukan karakter dan kepemimpinan. “Mahasiswa hari ini harus memiliki kekuatan karakter kepemimpinan transformatif, fokus pada inspirasi dan motivasi serta komitmen pada nilai-nilai kebenaran meskipun kita digoda oleh oknum-oknum yang dapat mengkapitalisasi idealisme. Saya yakin interaksi seperti itu akan kalian hadapi, di situlah nilai dan komitmen Anda diuji sebagai negarawan,” ujarnya.

Ia menekankan, disiplin keilmuan yang diperoleh secara akademik perlu disertai pengalaman organisasi agar berdampak secara sosial. Kombinasi antara kapasitas intelektual dan kepekaan sosial, kata dia, akan melahirkan transformasi kepemimpinan yang relevan menghadapi perubahan zaman.

Dalam forum tersebut, Rudianto juga menggarisbawahi pentingnya Empat Pilar Kebangsaan—Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika—sebagai fondasi berpikir dan bertindak bagi mahasiswa. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi jangkar moral di tengah arus pragmatisme dan politik transaksional.

Mahasiswa, lanjutnya, memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sekaligus kontrol sosial. Peran itu menuntut keberanian menyuarakan kebenaran dan integritas dalam setiap tindakan. “Nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan dan karakter kepemimpinan transformatif diharapkan menjadi landasan filosofis yang membentuk pola pikir mahasiswa agar tidak terjebak pada target akademis jangka pendek, tetapi visioner dan adaptif dalam memecahkan persoalan sosial,” katanya.

Kegiatan sosialisasi tersebut diharapkan mampu mendorong mahasiswa mengoptimalkan potensi diri dan membangun karakter kepemimpinan yang berintegritas, sebagai bekal menghadapi dinamika kebangsaan di masa depan.

Comment