Makassar, Respublica— Berpikir positif (positive thinking) selama ini sering dianggap sebagai kunci kebahagiaan dan jalan menuju hidup yang lebih baik.
Dari seminar motivasi hingga akun media sosial bertema self-healing, semua seolah sepakat bahwa “pikiran positif adalah obat segalanya.” Namun, apakah benar selalu begitu?

Bagi penyandang masalah kesehatan mental, berpikir positif bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, optimisme memang membantu mereka melihat cahaya di tengah gelapnya stres, kecemasan, atau depresi.
Di sisi lain, tekanan untuk “selalu positif” bisa memperparah luka batin yang belum sembuh. Mereka tak hanya berjuang melawan pikiran negatif, tapi juga harus menghadapi stigma, diskriminasi, rendahnya harga diri, hingga hilangnya rasa percaya diri.
Riset berjudul The Good, Bad and Not So Bad of Positive Thinking and Recovery mengungkap bahwa berpikir positif tak selalu berakhir bahagia.
Studi tersebut mendefinisikan berpikir positif sebagai pola pikir yang membuat seseorang merasa baik, sejahtera, dan puas. Sebuah dorongan psikologis yang bisa menjadi sumber motivasi, tapi juga jebakan halus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berpikir positif memang punya banyak manfaat. Yakni memberi rasa nyaman, kebahagiaan, dan kepuasan. Namun, di sisi lain, ia juga bisa menimbulkan efek samping.
Yakni munculnya rasa ingin lebih banyak hal menyenangkan, ketergantungan pada perasaan positif, bahkan keinginan untuk mengabaikan realitas. Dalam beberapa kasus, orang bisa menjadi “kecanduan kebahagiaan,” merasa gelisah ketika tak bahagia, atau kehilangan toleransi terhadap hal-hal biasa.
Yang lebih ironis, berpikir positif kadang justru menimbulkan reaksi sosial negatif seperti kecemburuan, iri hati, atau jarak dari orang lain yang merasa “tak sepositif itu.” Tak jarang, sikap terlalu optimis malah dianggap tidak empatik terhadap penderitaan orang lain.
Dalam konteks pemulihan kesehatan mental, berpikir positif bisa jadi penyelamat. Ia bisa memberi harapan, makna, dan dorongan untuk bangkit.
Tapi ketika berubah menjadi obsesi, ia bisa menjadi racun halus, atau yang kini dikenal sebagai toxic positivity—saat seseorang menolak emosi negatif dan menutupi luka dengan senyum palsu.
Seperti halnya obat, dosisnya menentukan manfaat. Sedikit optimisme bisa menenangkan hati, tapi terlalu banyak bisa membuat seseorang kehilangan ruang untuk jujur pada dirinya sendiri.
Karena pada akhirnya, kesehatan mental bukan soal selalu bahagia, tapi tentang keberanian menerima bahwa tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja.
Comment