Nasir Rurung: PSEL di Antang Lebih Murah dan Diterima Warga

Makassar, Respublica— Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, menyatakan dukungannya terhadap rencana pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang akan ditempatkan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar.

Persetujuan tersebut disampaikan Zulkifli Hasan saat melakukan kunjungan kerja sekaligus meninjau langsung kondisi TPA Antang pada Jumat (6/2/2026). Arahan itu sekaligus menjadi jawaban atas aspirasi warga Tamalanrea yang sejak awal menyatakan penolakan terhadap rencana pembangunan PLTSa di wilayah mereka.

ads

Keputusan tersebut mendapat respons positif dari Anggota DPRD Kota Makassar, Nasir Rurung. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap penetapan TPA Antang sebagai lokasi pembangunan PSEL, dengan pertimbangan efisiensi anggaran dan tingkat penerimaan masyarakat setempat.

Nasir menilai, pemilihan Antang sebagai lokasi proyek jauh lebih realistis dibandingkan memaksakan pembangunan di kawasan yang menghadapi resistensi warga. Menurutnya, aspek jarak dan efisiensi harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan lokasi proyek strategis tersebut.

“Ngapain jauh kalau ada yang dekat, yang lebih efisien daripada diambil yang jauh. Saya kira ini sudah tepat sekali, termasuk jawaban Pak Wali. Ngapain kita harus memilih lokasi yang ditolak masyarakat, sementara ada yang sudah menerima dan lebih efisien,” ujarnya.

Dari sisi kebutuhan investasi, Nasir mengungkapkan bahwa pembangunan PSEL di TPA Antang dinilai lebih hemat dibandingkan rencana pembangunan di Tamalanrea. Ia menyebut, kebutuhan anggaran di Tamalanrea diperkirakan menembus angka Rp3 triliun lebih, sementara di Antang hanya sekitar Rp2,7 triliun.

Selain itu, pemindahan lokasi ke Antang juga dinilai berpotensi menekan biaya operasional, khususnya dalam hal pengangkutan sampah. Nasir menjelaskan, apabila PSEL dibangun di Tamalanrea, Pemerintah Kota Makassar harus menanggung tambahan biaya logistik yang cukup signifikan setiap tahunnya.

“Ngapain kita ambil investasi yang mahal kalau ada yang lebih murah. Penghematan ongkos itu bisa terjadi karena kalau di Tamalanrea, biaya pengangkutan sampah bisa mencapai kurang lebih Rp20 miliar per tahun,” tegasnya.

Tak hanya soal anggaran, Nasir juga menyoroti kesiapan lahan dan infrastruktur di kawasan TPA Antang sebagai faktor pendukung penting. Ia menyebut, kebutuhan lahan untuk pembangunan PSEL mencapai sekitar 7 hektare.

“Saat ini Pemkot Makassar sudah memiliki sekitar 4 hektare. Kemarin juga sudah ada pembelian lahan tambahan, tinggal kekurangannya yang insyaallah akan segera disiapkan,” jelasnya.

Secara keseluruhan, Nasir menyatakan dukungan penuh terhadap langkah yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan bersama Wali Kota Makassar. Ia berharap proyek PSEL di TPA Antang dapat segera direalisasikan agar persoalan pengelolaan sampah di Kota Makassar memperoleh solusi jangka panjang.

“Kami harap secepat mungkin direalisasikan, supaya solusi persampahan di Makassar bisa terwujud dengan hadirnya PSEL sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Sampah,” tutupnya.

Comment