Makassar, Respublica— Saat anak-anak bermain pesta teh dengan cangkir kosong atau bertarung pedang memakai ranting pohon, kita tahu satu hal: mereka sedang berpura-pura. Tidak ada teh sungguhan, tidak ada pedang asli.
Namun, pikiran mereka mampu menciptakan dunia imajiner yang terasa cukup nyata untuk dimainkan bersama. Selama ini, kemampuan semacam ini dianggap khas manusia. Tapi sebuah penelitian terbaru yang terbit di jurnal Science mengusik anggapan tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Bastos dan Krupenye menunjukkan bahwa kemampuan berpura-pura yang oleh ilmuwan disebut sebagai representasi sekunder, ternyata juga dimiliki oleh kerabat dekat kita di pohon evolusi: bonobo.
Tokoh utama dalam penelitian ini adalah Kanzi, seekor bonobo yang telah lama dikenal dunia sains karena kemampuannya berkomunikasi menggunakan simbol visual yang disebut leksigram.
Kanzi tidak hanya memahami perintah sederhana, tetapi juga mampu merespons instruksi verbal dalam konteks yang kompleks. Kali ini, para peneliti ingin tahu, apakah Kanzi bisa memahami sesuatu yang jelas-jelas “tidak nyata”?
Untuk mengujinya, para peneliti menciptakan situasi permainan pura-pura. Misalnya, seorang peneliti menuangkan “jus” yang sebenarnya tidak ada dari satu wadah kosong ke wadah kosong lainnya.
Setelah itu, Kanzi diminta menunjuk ke mana “jus pura-pura” tersebut berada. Tidak ada hadiah makanan, tidak ada petunjuk visual tersembunyi, dan semua wadah transparan sehingga jelas-jelas kosong.
Hasilnya, dalam tiga eksperimen berbeda, Kanzi secara konsisten menunjuk wadah yang “secara imajiner” berisi jus atau anggur. Ia bertindak seolah-olah ia mengikuti keberadaan objek yang hanya ada dalam konteks permainan pura-pura.
Dengan kata lain, Kanzi tidak sekadar meniru gerakan atau bereaksi terhadap kebiasaan lama. Ia benar-benar melacak sesuatu yang tidak nyata, tetapi disepakati bersama.
Para peneliti lalu menguji kemungkinan lain. Apakah Kanzi tertipu dan mengira jus pura-pura itu sungguhan? Untuk menjawabnya, mereka memberi pilihan antara jus asli dan jus pura-pura. Jika Kanzi tidak bisa membedakan, pilihannya akan acak.
Namun yang terjadi, Kanzi hampir selalu memilih jus asli. Ini menunjukkan bahwa ia tahu mana yang nyata dan mana yang hanya bagian dari permainan imajinatif.
Lebih menarik lagi, Kanzi tidak menunjukkan tanda frustrasi meskipun dalam permainan pura-pura ia tidak pernah mendapat hadiah. Jika ia benar-benar percaya jus itu nyata, seharusnya ia marah atau bingung saat tidak diberi minum.
Tapi itu tidak terjadi. Ia tetap terlibat, fokus, dan konsisten—seolah memahami bahwa aturan permainan memang berbeda dari kenyataan. Temuan ini penting karena representasi sekunder adalah fondasi dari banyak kemampuan kognitif tingkat tinggi.
Kemampuan ini memungkinkan manusia membayangkan masa depan, memahami pikiran orang lain, berbohong, bercanda, mencipta seni, bahkan membangun sistem kepercayaan.
Jika seekor bonobo mampu membentuk representasi semacam ini, maka akar kemampuan tersebut kemungkinan jauh lebih tua dari yang kita kira.
Para peneliti memperkirakan bahwa kapasitas kognitif ini sudah ada sejak 6 hingga 9 juta tahun lalu, pada nenek moyang bersama manusia dan kera besar.
Artinya, imajinasi—dalam bentuk paling dasarnya—bukanlah “ciptaan manusia modern”, melainkan warisan evolusioner yang kita kembangkan lebih jauh.
Memang, Kanzi adalah bonobo yang terenkulturasi, terbiasa berinteraksi dengan manusia dan simbol. Namun hal ini justru membuka pertanyaan menarik.
Apakah semua kera memiliki potensi serupa, tetapi sulit kita deteksi karena keterbatasan komunikasi? Ataukah lingkungan simbolik dan interaksi intens dengan manusia benar-benar memperluas kapasitas kognitif mereka?
Apa pun jawabannya, satu hal menjadi jelas. Batas antara “pikiran manusia” dan “pikiran hewan” tidak setegas yang selama ini kita bayangkan. Di balik permainan pura-pura sederhana—menuang jus yang tidak ada—tersimpan petunjuk besar tentang asal-usul imajinasi, kesadaran, dan mungkin juga tentang apa artinya menjadi manusia.
Sumber artikel:
Amalia P. M. Bastos, Christopher Krupenye, Evidence for representation of pretend objects by Kanzi, a language-trained bonobo.Science391,583-586(2026).DOI:10.1126/science.adz0743
Comment