Makassar, Respublica— Nama Andi Ina Kartika Sari kian santer dibicarakan menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah DPD I Partai Golkar Sulsel. Bupati Barru itu dinilai memiliki peluang besar untuk masuk dalam bursa calon ketua pada Musda mendatang.
Ia tidak menampik kemungkinan tersebut. Bagi Andi Ina, kiprah politik yang ia jalani selama ini tidak pernah terpisah dari Partai Golkar. Sejak awal terjun ke dunia politik, partai berlambang pohon beringin itu menjadi rumah sekaligus pijakan kariernya.

Dengan pengalaman panjang di legislatif hingga eksekutif, serta latar belakang keluarga yang juga lekat dengan Golkar, posisinya dipandang cukup strategis dalam konstelasi internal partai di Sulawesi Selatan.
“Sejak saya di DPRD, bahkan menjadi bupati, itu semata-mata karena Allah. Tetapi penjebatannya itu juga adalah Partai saya. Partai Golkar, Sulawesi Selatan,” ujarnya dalam Diskusi Publik, di Makassar, Selasa, (17/2/2026).
Menurutnya, Golkar bukan sekadar alat politik untuk meraih jabatan. Ia menyebut relasinya dengan partai telah terjalin lama dan dibangun melalui proses yang tidak singkat.
Pengalaman bertahun-tahun di struktur partai, kata dia, menjadi bekal penting apabila suatu saat dipercaya memimpin Golkar Sulsel.
“Buat saya, dari dulu saya selalu bersama Golkar. Terlalu banyak kebaikan-kebaikan yang diberikan Partai Golkar kepada kami. Dan, menurut saya, Partai Golkar itu sama dengan NKRI harga mati,” tegas mantan Ketua DPRD Sulsel ini.
Saat ditanya kesiapan maju sebagai calon ketua, Bupati Barru itu menjawab dengan nada tenang tanpa kesan ambisius, namun memberi sinyal keterbukaan.
“Kalau diminta bismillah, Golkar buat saya adalah partai yang membesarkan saya. Pokoknya Golkar sama seperti NKRI harga mati. Silahkan artikan sendiri,” tuturnya.
Ia mengungkapkan, secara resmi bergabung dalam struktur partai sejak 2004. Ketika itu, ia tercatat sebagai pengurus pleno, sementara ibunya berperan sebagai pembina. Namun secara kultural, kedekatannya dengan Golkar telah terbangun sejak lama karena latar belakang keluarga.
“Dengan pengalaman saya. saya alhamdulillah sudah berpartai, sudah masuk sebagai anggota partai itu secara langsung tahun 2004. Saat saya menjadi pengurus pleno dan ibu saya menjadi pembina. Karena saya ini lahir dan tentu juga berasal dari orang tua yang memang basic-nya Partai Golkar,” ujarnya.
Sementara itu, pengamat politik dan pemerintahan Andi Luhur Prianto menilai peluang Andi Ina untuk memimpin Golkar Sulsel cukup terbuka.
“Kalau Andi Ina jadi ketua Golkar di Sulsel, mobilisasi anggaran dari pusat itu jauh lebih besar peluangnya. Ini salah satu saran. Jangan kehilangan momentum, siapa tahu ada peluang,” ujarnya.
Secara politik, lanjutnya, pengalaman Andi Ina sebagai anggota DPRD serta kiprahnya sebagai politisi senior di Golkar menjadi modal penting dalam membangun konsolidasi internal dan komunikasi dengan berbagai pihak.
Ia juga menilai Andi Ina memiliki kemampuan meredam potensi resistensi di internal partai, sehingga kecil kemungkinan munculnya perpecahan apabila ia terpilih sebagai ketua.
“Kalau ada calon tidak bisa mengkonsolidasi tidak bisa membangun komuniksi dengan yang lain saya kira beliau bisa. Dan kalau ada calon itu yang resisten, misalnya kalau dia terpilih maka akan ada yang keluar, kalau beliau saya rasa tidak,” tutupnya.
Comment