Legislator Usul Patung Ayam Daya Direhabilitasi, Bisa Jadi Ikon Baru Makassar

Makassar, Respublica— Wakil Ketua DPRD Kota Makassar, Andi Suharmika, sukses melaksanakan reses kedua masa persidangan kedua di daerah pemilihan (dapil) III yang meliputi Kecamatan Tamalanrea dan Biringkanaya.

Usai reses, Suharmika menyampaikan bahwa ada sejumlah program lanjutan yang harus segera mendapat perhatian pemerintah kota, terutama yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.

ads

Salah satu isu yang paling banyak dikeluhkan adalah persoalan infrastruktur yang hingga kini belum sepenuhnya tuntas. Ia menyebut keterbatasan anggaran dari tahun ke tahun menjadi salah satu faktor penghambat penyelesaian pembangunan di wilayah tersebut.

“Dan insyaallah ini menjadi komitmen kami di DPRD untuk menjembatani agar bisa segera direalisasikan dan dioptimalkan penyelesaiannya di tahun berjalan,” jelasnya saat ditemui di Kantor Sementara DPRD Makassar, Jumat (20/2/2026).

Menurutnya, persoalan infrastruktur memang menjadi keluhan dominan warga, khususnya di Kecamatan Biringkanaya yang merupakan kawasan pemekaran baru di Kota Makassar sehingga kebutuhan pembangunannya masih cukup besar.

Selain infrastruktur dasar, aspirasi lain yang cukup menonjol muncul dari warga di wilayah Daya—yang juga merupakan tempat tinggalnya—yakni permintaan rehabilitasi ikon Patung Ayam Daya.

“Ini sangat substansial karena ikon tersebut berada di Biringkanaya dan perlu perhatian lebih dari pemerintah kota agar bisa dikembangkan menjadi ikon baru Kota Makassar sekaligus destinasi kunjungan, khususnya bagi warga Biringkanaya dan Tamalanrea,” katanya.

Ia menilai kawasan tersebut berpotensi dikembangkan menjadi ruang publik baru apabila dilengkapi fasilitas penunjang seperti jogging track dan sarana pendukung lainnya.

Dengan begitu, warga tidak perlu mencari lokasi rekreasi yang jauh karena Patung Ayam Daya dapat menjadi titik wisata alternatif.

Di sisi lain, persoalan persampahan juga menjadi perhatian. Sejumlah kelurahan menyampaikan keluhan terkait armada pengangkut sampah seperti mobil amrol atau mobil tongkang yang dinilai perlu peremajaan.

“Banyak warga meminta agar pengangkutan sampah lebih dioptimalkan. Sebenarnya armada tidak sepenuhnya kurang, tetapi banyak kendaraan yang usianya sudah tua dan membutuhkan peremajaan serta perawatan,” ungkapnya.

Ia menegaskan akan mendorong pemerintah kota agar mengalokasikan anggaran untuk pembelian maupun peremajaan armada, sehingga layanan pengangkutan sampah dapat berjalan lebih efektif.

Permasalahan lain yang turut disorot adalah distribusi air bersih dari PDAM, terutama di beberapa titik wilayah pinggir tol. Meski tidak terjadi secara merata, kebutuhan air bersih di sejumlah lokasi dinilai masih mendesak.

“Dari pihak PDAM dan pemerintah disampaikan bahwa masih menunggu penyelesaian proses tertentu, termasuk kerja sama teknis. Namun ini tetap menjadi perhatian kami agar tidak menjadi masalah berkepanjangan bagi warga,” tuturnya.

Secara umum, Suharmika menegaskan bahwa tantangan terbesar di Biringkanaya dan sekitarnya masih berkisar pada infrastruktur. Sebagai kawasan yang berkembang pesat, kebutuhan pembangunan dinilai jauh lebih tinggi dibanding kecamatan lain yang lebih dulu maju.

Pesatnya pertumbuhan perumahan di wilayah tersebut juga memerlukan pengawasan, terutama terkait penyerahan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) oleh pihak pengembang kepada pemerintah kota.

“Pemerintah harus jeli melihat perumahan mana saja yang perlu segera diproses penyerahan fasilitas umum dan fasilitas sosialnya agar warga tidak bertanya-tanya mengapa jalan dan lampu jalan belum dikerjakan. Ini juga akan kami sampaikan dalam forum resmi di hadapan wali kota,” pungkasnya.

Comment