Perempuan di bawah salib yang tak usai
Saya selalu terpaku pada sunyi yang ganjil setiap kali menatap ikonografi Mater Dolorosa. Di sana, Maria tidak digambarkan sebagai ratu yang bertahta dengan mahkota emas, melainkan seorang ibu dengan tujuh bilah pedang yang menghujam jantungnya.
Nama itu sendiri (Mater Dolorosa, Bunda yang Berduka) terasa seperti sebuah gema yang memantul di dinding-dinding katedral yang lembap, sebuah pengingat bahwa dalam teologi mistik, kesucian seringkali tidak ditemukan dalam tawa, melainkan dalam kemampuan untuk menanggung pedih.

Dalam tradisi Katolik, kedukaan Maria bukanlah kecelakaan sejarah; ia adalah prasyarat. Saya teringat pada nubuat Simeon dalam Injil Lukas 2:35, yang berkata kepada Maria muda: “…dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” Kalimat itu bukan sekadar ramalan tentang kematian Yesus di depan mata ibunya, melainkan sebuah undangan bagi jiwa untuk masuk ke dalam ruang compassio, sebuah ruang untuk “menderita bersama”.
Maria adalah saksi yang tidak berpaling. Ia berdiri, stabat, di kaki salib. Ia tidak pingsan, ia tidak lari menyembunyikan diri dalam amarah. Ia hanya di sana, membiarkan duka itu membasuh kemanusiaannya hingga bersih dari segala pretensi.
Bagi saya, kontemplasi atas Mater Dolorosa adalah kontemplasi atas kerapuhan yang berdaulat. Di dalam Kitab Ratapan 1:12, ada sebuah tanya yang menghujam: “Tidakkah itu berarti bagimu, hai kamu sekalian yang lewat di jalan? Pandanglah dan lihatlah, apakah ada kesedihan seperti kesedihan yang ditimpakan kepadaku.” Ini bukan keluhan egois, melainkan seruan agar kita berhenti sejenak dari kesibukan dunia untuk melihat luka.
Sebagaimana yang diulas oleh Goenawan Mohamad dalam salah satu esai Catatan Pinggir (2012) tentang duka dan keadilan, luka seringkali menjadi satu-satunya cara kita mengenali kembali kemanusiaan yang tergerus oleh rutinitas. Dalam teologi mistik, luka Maria menjadi semacam “lubang kunci” di mana rahmat Ilahi merembes masuk.
Tanpa pedang yang menembus jantung itu, Maria mungkin hanya akan menjadi sejarah yang beku. Dengan duka itu, ia menjadi ibu bagi segala yang terluka. Di sini, duka bukan lagi sekadar emosi, melainkan sebuah metode spiritual untuk meruntuhkan dinding antara “aku” dan “yang lain”.
Bait al-Huzn
Namun, duka ini tidak hanya milik satu iman. Saya dan mungkin anda, menemukan jejak “pedang” yang sama dalam napas Tasawwuf, di mana duka cita bertransformasi menjadi al-huzn. Dalam tradisi mistik Islam, Sayyidah Fatimah al-Zahra seringkali dipandang sebagai narasi paralel dari Mater Dolorosa. Ia adalah Al-Batul, yang murni, namun hidupnya ditandai dengan apa yang disebut sebagai Bait al-Huzn, Rumah Duka.
Sebagaimana dicatat dalam fragmen sejarah yang kerap dikutip dalam The Mirror of My Heart: A Thousand Years of Persian Women Poets (Dick Davis, 2021), Fatimah mundur ke dalam ruang kesedihan yang dalam setelah wafat ayahnya, bukan karena ia tidak ridha pada takdir, melainkan karena duka adalah satu-satunya bahasa yang tersisa ketika wahyu terasa menjauh dari bumi yang kian bising.
Di sinilah mungkin nampak kaitan yang erat dengan ibadah Puasa Ramadhan. Bagi saya, Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dari fajar hingga maghrib. Ia adalah manifestasi ragawi dari konsep Mater Dolorosa. Ketika perut kita kosong dan kerongkongan mengering, kita sedang secara sengaja menempatkan diri dalam posisi “yang menderita”.
Al-Quran dalam Surah Al-Baqarah 155 mengingatkan: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Puasa adalah “duka yang disiplin”. Jalaluddin Rumi, dalam Masnavi, pernah bersenandung bahwa hanya hati yang hancur yang bisa menjadi wadah bagi cahaya Sang Kekasih. Bagi Rumi, lapar bukanlah hukuman, melainkan instrumen “musik” spiritual. Ia menyairkan bahwa ketika lambung dikosongkan dari roti, ia akan diisi oleh mutiara pengetahuan Ilahi.
Lapar dalam Ramadhan adalah cara kita menghancurkan hati tersebut agar Tuhan punya tempat untuk bersemayam. Sejalan dengan itu, Ibnu Arabi dalam Fusus al-Hikam (Abad ke-13) menekankan konsep faqir atau kefakiran eksistensial.
Bagi Sang Syaikh al-Akbar, manusia mencapai puncak kesempurnaannya justru saat ia mengakui ketiadaannya di hadapan Yang Ada. Lapar adalah pengingat paling jujur bahwa kita adalah makhluk yang butuh, yang rapuh, yang “berduka” karena terpisah dari asal-usulnya.
Kita tidak bisa mencapai Hieros Gamos, pernikahan suci antara jiwa dan Tuhan, jika jiwa kita masih kenyang dengan makanan duniawi dan kesombongan. Kita harus menjadi “Ibu yang Berduka” atas dosa-dosa kita sendiri sebelum kita bisa menjadi “Mempelai” bagi kebenaran. Lapar itu adalah pedang Simeon yang kita hujamkan sendiri ke dalam ego kita, memaksa kita untuk merasa rapuh, membuat kita menatap mereka yang selama ini terpinggirkan dengan mata yang baru, mata seorang ibu yang kehilangan anaknya.
Sebagaimana diajarkan Ali al-Hujwiri dalam Kasyf al-Mahjub (Abad ke-11), penderitaan fisik adalah gerbang menuju pengenalan diri yang paling radikal. Melalui lapar, kita mencuci cermin hati dari debu-debu kepuasan diri, hingga yang terpantul di sana bukan lagi wajah ego kita yang rakus, melainkan wajah “Yang Lain” yang sedang menangis di luar pintu rumah kita.
Lapar dalam tradisi ini akhirnya menjadi sebuah bentuk estetika perlawanan terhadap berhala kebendaan. Rumi dalam Fihi Ma Fihi menegaskan bahwa manusia adalah sebuah “astrolab” Tuhan, namun astrolab itu tak akan bisa membaca bintang-bintang jika ia tersumbat oleh kerak-kerak keduniawian.
Dengan mengosongkan perut, kita sedang menyetel ulang instrumen ruhani kita. Ibnu Arabi menambahkan lapisan yang lebih radikal dalam Al-Futuhat al-Makkiyyah, beliau melihat lapar bukan sebagai peniadaan hidup, melainkan sebagai cara untuk “mencicipi” sifat kebersahajaan Tuhan yang tidak membutuhkan apa pun (Ash-Shamad).
Dalam konteks Bait al-Huzn, lapar dan air mata adalah sepasang sayap; yang satu meruntuhkan keangkuhan fisik, yang lain membasuh kekeruhan batin. Maka, ketika seorang sufi atau seorang yang berpuasa menangis dalam lapar, ia tidak sedang meratapi nasibnya, melainkan sedang merayakan runtuhnya tembok ego yang selama ini memisahkan dirinya dari penderitaan sesama ciptaan.
Di sinilah “Lapar yang Mencuci Hati” menemukan muara sosiologisny,: ia mengubah rasa haus pribadi menjadi kepekaan universal, sebuah duka yang tak lagi pasif, melainkan duka yang menuntut agar tidak ada lagi perut yang dibiarkan kosong oleh ketidakadilan sistemik.
Panggilan untuk sebuah transformasi politik
Kini, kita bermukin di Indonesia, menatap cakrawala yang kadang kelam dalam setahun terakhir. Kontemplasi saya atas Mater Dolorosa tiba-tiba terasa begitu nyata dan menyakitkan ketika saya membaca berita dari Sumatera. Banjir bandang yang menerjang bukan sekadar “kemarahan alam”, melainkan duka atas pengrusakan hutan yang sistematis.
Saya melihat foto-foto warga yang meratap di atas puing rumah mereka, dan saya melihat wajah Maria di sana. Hutan kita, yang seharusnya menjadi rahim kehidupan, telah dikoyak oleh izin-izin tambang yang rakus.
Catatan dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI, 2024) menunjukkan bahwa degradasi ekologi kita seringkali berkelindan dengan hilangnya kedaulatan warga, di mana angka deforestasi yang mencapai ratusan ribu hektar per tahun tetap menjadi luka terbuka di jantung khatulistiwa.
Alam, dalam pandangan ekoteologi, adalah “tubuh Tuhan” yang sedang disiksa, dan kita hanya berdiri menonton layaknya kerumunan yang mengejek di jalan menuju Golgota. Duka itu memuncak saat kita mendengar kabar tentang seorang anak kecil di NTT yang mengakhiri hidupnya karena kemiskinan yang merajam.
Di sebuah provinsi di mana angka kemiskinan ekstrem masih sangat tinggi 9menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024, NTT tetap berada dalam jerat kemiskinan dengan persentase penduduk miskin mencapai 19,96%), kematian anak ini adalah sebuah vonis bersalah bagi kita semua.
Ia adalah martir dari sebuah sistem yang gagal mendistribusikan keadilan. Di sudut lain, saya melihat seorang driver online yang rubuh, menjadi martir saat demonstrasi menuntut martabat di tengah gempuran ekonomi digital yang predatorik.
Sebagaimana dikemukakan oleh Hannah Arendt dalam The Banality of Evil, kejahatan yang paling mengerikan seringkali muncul dari ketidakmampuan untuk berpikir dan merasakan penderitaan orang lain. Di Indonesia, banalitas itu mewujud dalam senyum para elit politik yang tetap asyik bersiasat saat rakyatnya meregang nyawa.
Namun, di tengah duka itu, saya justru melihat sesuatu yang sangat profan, korupsi yang kian banal. Sementara anak di NTT itu mati karena lapar, pejabat kita memanipulasi hukum demi melanggengkan kekuasaan dinasti. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia yang stagnan di angka 34 menunjukkan bahwa integritas telah menjadi barang mewah. Korupsi ini adalah bentuk pengkhianatan paling keji terhadap Mater Dolorosa.
Para pemimpin kita tidak lagi memiliki compassio. Mereka tidak lagi menderita bersama rakyat; mereka justru berpesta di atas penderitaan tersebut. Integritas para elit yang luntur ini, sebagaimana diperingatkan oleh Y.B. Mangunwijaya dalam Sastra dan Religiositas, adalah tanda dari hilangnya religiositas sejati yang digantikan oleh berhala kekuasaan.
Maka, refleksi atas Mater Dolorosa dan praktik Puasa Ramadhan seharusnya tidak berhenti di sajadah atau bangku gereja. Keduanya adalah panggilan untuk sebuah transformasi politik. Jika lapar kita dalam Ramadhan tidak membuat kita merasa perih atas kemiskinan di NTT, maka puasa kita hanyalah diet massal yang sia-sia.
Jika duka Maria tidak mendorong kita untuk menggugat rusaknya hutan Sumatera, maka devosi kita hanyalah sandiwara. Transformasi politik harus lahir dari “Politik Ibu yang Berduka”, sebuah gerakan yang menempatkan rasa sakit rakyat sebagai pusat kebijakan negara.
Kita butuh kepemimpinan yang berani memiliki “hati yang hancur”, yang merasa pedang menembus jiwanya setiap kali melihat hukum dipermainkan. Sebagaimana Ibnu Arabi melihat duka sebagai jalan menuju penyatuan, maka duka kolektif bangsa ini harus menjadi jalan menuju penyatuan kembali politik dengan etika.
Transformasi politik Indonesia harus dimulai dari titik nadir ini, memaksa kekuasaan untuk kembali memiliki rasa malu yang lahir dari empati yang radikal. Kita harus belajar bahwa hanya melalui pedang duka yang jujur dan lapar yang memurnikan batin, jantung republik ini bisa kembali berdetak untuk keadilan yang sejati.
Penulis adalah Direktur Profetik Institute
Comment