Perang, Teknologi, dan Kelelahan Batin

Arnold Gehlen dan nasib subjek modern

Dalam lanskap filsafat abad kedua puluh, nama Arnold Gehlen sering muncul sebagai pemikir yang berusaha memahami manusia dari titik yang agak tidak nyaman. Ia tidak memulai dari gagasan heroik tentang manusia sebagai makhluk rasional yang agung, melainkan dari asumsi yang jauh lebih sederhana.

Manusia adalah makhluk yang rapuh. Ia miskin insting, rentan terhadap alam, dan tidak memiliki perlengkapan biologis yang memadai untuk bertahan hidup tanpa bantuan budaya. Dari asumsi inilah Gehlen mengembangkan apa yang ia sebut sebagai antropologi filosofis.

ads

Beberapa karya pentingnya memperlihatkan arah pemikirannya dengan cukup jelas. Dalam buku Der Mensch. Seine Natur und seine Stellung in der Welt yang terbit tahun 1940, Gehlen merumuskan tesis terkenalnya tentang manusia sebagai Mängelwesen, makhluk yang kekurangan perangkat biologis.

Dalam karya berikutnya Urmensch und Spätkultur tahun 1956, ia menguraikan bagaimana manusia membangun institusi untuk menstabilkan kehidupan sosialnya. Sementara dalam Moral und Hypermoral tahun 1969 ia mengkritik kecenderungan moralitas modern yang terlalu subjektif dan emosional.

Bagi Gehlen, manusia dapat bertahan hidup karena ia menciptakan sesuatu yang tidak dimiliki spesies lain. Sesuatu itu adalah institusi. Institusi bukan sekadar organisasi formal seperti negara atau gereja. Ia adalah jaringan kebiasaan, norma, tradisi, dan struktur sosial yang membentuk pola hidup manusia. Keluarga, agama, tradisi lokal, bahkan rutinitas sehari hari merupakan bentuk institusionalisasi yang memberi stabilitas bagi kehidupan manusia.

Institusi memiliki fungsi yang sangat penting dalam kerangka pemikiran Gehlen. Ia menyebut fungsi itu sebagai Entlastung. Secara sederhana konsep ini berarti pelepasan beban. Institusi mengurangi kompleksitas dunia sehingga manusia tidak perlu memikirkan segalanya dari awal setiap hari.

Tanpa institusi, individu harus terus menerus menentukan siapa dirinya, apa yang harus ia lakukan, dan bagaimana ia harus hidup. Beban mental seperti itu terlalu berat bagi makhluk biologis yang sebenarnya rapuh.

Di sinilah Gehlen melihat paradoks modernitas. Dunia modern memuji kebebasan individu, tetapi kebebasan itu sering datang bersama runtuhnya struktur institusional yang dulu menopang kehidupan sosial. Tradisi melemah, otoritas moral dipertanyakan, dan identitas sosial menjadi semakin cair. Individu modern akhirnya harus memikul tanggung jawab eksistensial yang sebelumnya ditopang oleh institusi.

Gehlen menyebut situasi ini sebagai subjektivisme modern. Identitas tidak lagi diberikan oleh struktur sosial yang stabil. Ia harus diciptakan secara pribadi. Setiap individu menjadi proyek yang harus terus menerus dirancang ulang. Modernitas menjanjikan otonomi, tetapi juga menghasilkan kelelahan psikologis karena individu dipaksa untuk selalu memilih.

Dalam banyak hal, diagnosis Gehlen terasa sangat relevan untuk membaca masyarakat kontemporer. Kita hidup di zaman yang penuh dengan pilihan identitas, pilihan gaya hidup, dan pilihan nilai moral. Namun pada saat yang sama, banyak orang mengalami kebingungan eksistensial yang tidak mudah dijelaskan. Modernitas memberi kebebasan yang luas, tetapi juga menciptakan ruang kosong yang tidak selalu mudah diisi.

Meski demikian pemikiran Gehlen juga memiliki keterbatasan. Kritik sering datang dari kalangan yang melihat pendekatannya terlalu konservatif. Dengan menekankan pentingnya institusi yang stabil, Gehlen kadang dianggap meremehkan potensi emansipasi individu dalam masyarakat modern.

Ada juga kritik yang mengatakan bahwa konsep institusi dalam kerangka Gehlen terlalu umum sehingga sulit diterapkan secara spesifik dalam analisis politik kontemporer. Namun justru dalam situasi krisis global, kerangka Gehlen sering terasa sangat tajam. Ia membantu kita memahami bagaimana manusia bereaksi ketika struktur stabil yang menopang kehidupan sehari hari tiba tiba terasa goyah.

Perang dan tabir teknologi

Perang di kawasan Teluk Persia dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan wajah konflik yang sangat berbeda dibandingkan perang pada abad sebelumnya. Teknologi militer berkembang dengan kecepatan yang hampir sulit dipercaya. Drone, satelit pengintai, rudal jarak jauh, dan sistem siber telah mengubah cara negara berperang.

Dalam situasi seperti ini, gagasan Gehlen tentang eksteriorisasi organ manusia menjadi sangat menarik. Bagi Gehlen, teknologi pada dasarnya adalah perpanjangan tubuh manusia. Alat adalah cara manusia memperluas kemampuan biologisnya. Pisau memperkuat tangan, teropong memperpanjang mata, dan kendaraan memperluas kaki.

Perang modern memperlihatkan proses eksteriorisasi itu dalam skala yang ekstrem. Drone tempur dapat beroperasi ribuan kilometer dari operatornya. Satelit memantau wilayah luas yang tidak mungkin dijangkau oleh mata manusia biasa. Rudal balistik mampu menjangkau target lintas benua dalam hitungan menit.

Melihat teknologi ini, saya sering merasa bahwa manusia telah menciptakan sistem kekuatan yang jauh melampaui kapasitas tubuhnya sendiri. Mesin perang bekerja dengan presisi yang hampir mekanis, sementara manusia yang mengendalikannya tetap makhluk biologis yang rapuh. Di sinilah muncul fenomena yang bisa disebut sebagai tabir teknologi (Technological Veil).

Tabir ini adalah lapisan mediasi yang memisahkan tindakan dari pengalaman langsung. Dalam perang tradisional, pelaku dan korban berada dalam ruang sensorik yang sama. Kekerasan memiliki kedekatan fisik yang tidak bisa dihindari.

Dalam perang teknologi tinggi, jarak itu menjadi sangat besar. Operator drone dapat berada di ruangan kontrol yang jauh dari medan perang. Ia melihat target melalui layar monitor, bukan melalui pengalaman sensorik langsung. Realitas kematian berubah menjadi koordinat digital atau citra termal.

Tabir teknologi ini memiliki konsekuensi moral yang cukup serius. Ketika tindakan kekerasan dimediasi oleh sistem teknis, hubungan emosional antara pelaku dan korban menjadi lebih lemah. Empati yang biasanya muncul dari kedekatan manusia perlahan memudar.

Saya sering merenungkan paradoks ini ketika menyaksikan laporan tentang konflik di Timur Tengah. Kita dapat melihat gambar satelit, video drone, dan analisis militer yang sangat detail. Informasi tersedia dalam jumlah yang luar biasa. Namun justru karena mediasi teknologi yang begitu tebal, penderitaan manusia di balik data itu sering terasa jauh dan abstrak.

Tabir teknologi membuat perang terlihat seperti simulasi strategis. Padahal di balik setiap koordinat dan setiap target militer, ada kehidupan manusia yang nyata. Dalam situasi seperti ini, teknologi bukan hanya alat perang. Ia juga menjadi filter emosional yang mempengaruhi cara kita memahami kekerasan.

Perang Teluk Persia dan subjektivisme modern

Jika kita menggunakan kacamata Gehlen untuk membaca situasi sosial setelah perang di Teluk Persia meletus, satu fenomena segera terlihat jelas. Intensitas interaksi di media sosial meningkat secara drastis. Diskusi, perdebatan, dan konflik opini muncul hampir setiap hari di ruang digital. Platform seperti X dan TikTok berubah menjadi arena pertempuran simbolik. Netizen dari berbagai negara saling berargumen tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.

Sebagian mendukung Iran, sebagian membela Israel, dan sebagian lain mencoba mengambil posisi netral. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari konsep subjektivisme modern yang dibicarakan Gehlen. Ketika institusi yang biasanya memberikan orientasi moral melemah, individu merasa perlu membangun posisi identitasnya sendiri.

Media sosial menyediakan ruang yang sangat besar bagi proses itu. Setiap opini yang ditulis di linimasa bukan sekadar komentar tentang geopolitik. Ia juga merupakan cara individu menegaskan identitas moralnya di hadapan publik digital. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, menyatakan sikap menjadi cara untuk merasa memiliki tempat.

Namun proses ini sering kali justru meningkatkan beban psikologis, dan mengarah pada semacam “kelelahan batin”. Arus informasi yang terus menerus tentang perang, korban sipil, dan ancaman eskalasi membuat banyak orang merasa cemas. Perasaan itu diperparah oleh perkembangan ekonomi global, terutama lonjakan harga minyak yang menjadi dampak langsung dari konflik di kawasan Teluk.

Kenaikan harga energi segera memicu kepanikan di berbagai negara. Percakapan tentang biaya hidup, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi menyebar cepat di media sosial. Ketakutan individu kemudian saling memperkuat melalui jaringan digital.

Dalam perspektif Gehlen, fenomena ini memperlihatkan bagaimana subjektivisme modern bekerja dalam kondisi krisis. Individu modern hidup dalam sistem teknologi yang sangat kompleks. Ketika sistem itu terganggu oleh perang atau krisis energi, rasa aman yang biasanya menopang kehidupan sehari hari mulai retak.

Saya sendiri merasakan perubahan atmosfer itu ketika membaca linimasa media sosial beberapa minggu setelah konflik meningkat. Percakapan terasa lebih emosional, lebih tajam, dan sering kali lebih reaktif. Banyak orang seolah merasa harus memiliki opini tentang setiap perkembangan baru.

Padahal sebagian besar dari kita tidak memiliki pengaruh langsung terhadap dinamika geopolitik tersebut. Namun tekanan psikologis untuk tetap terlibat secara digital tetap sangat kuat. Situasi ini memperlihatkan dengan jelas bagaimana manusia modern mencoba mengatasi rasa tidak berdaya melalui aktivitas simbolik.

Gehlen mungkin akan melihat fenomena ini sebagai tanda bahwa manusia modern sedang kehilangan perlindungan institusional yang dulu memberi stabilitas bagi kehidupan sosial. Tanpa jangkar yang kuat, individu mudah terombang ambing oleh arus informasi global.

Perang di Teluk Persia dengan demikian bukan hanya konflik militer antara negara negara di Timur Tengah. Ia juga menjadi cermin yang memperlihatkan kondisi psikologis masyarakat global. Teknologi membuat kita terhubung dengan peristiwa yang sangat jauh secara geografis, tetapi kedekatan informasi itu tidak selalu diikuti oleh kedalaman pemahaman.

Dalam dunia yang dipenuhi mesin canggih dan jaringan komunikasi global, manusia tetap makhluk yang mencari makna dan stabilitas. Ketika struktur yang memberi makna itu melemah, kegaduhan digital sering menjadi pengganti yang sementara.

*Penulis adalah Direktur Profetik Institute

Comment