Makassar, Respublica— Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, belanja bukan hanya sekadar aktivitas memenuhi kebutuhan. Ia berubah menjadi pelarian, semacam cara instan untuk meredakan tekanan hidup.
Diskon besar, notifikasi flash sale, hingga kemudahan checkout dalam satu klik membuat aktivitas ini terasa menyenangkan. Namun, di balik itu, ada fenomena compulsive buying-shopping disorder (CBSD), atau gangguan belanja kompulsif yang semakin mendapat perhatian.

Sebuah kajian terbaru oleh Thomas dan kolega (2024) mencoba melihat satu hal yang selama ini kurang mendapat sorotan: peran stres dalam mendorong perilaku belanja kompulsif.
Ketika stres bertemu dorongan belanja
Selama ini, banyak teori tentang adiksi perilaku mengakui bahwa stres adalah faktor penting yang mendorong seseorang mencari pelarian, seperti kecanduan game atau media sosial. Anehnya, dalam konteks CBSD, faktor ini jarang dibahas secara mendalam.
Padahal, secara intuitif kita sering melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang lelah bekerja, tertekan secara emosional, atau mengalami masalah pribadi, tiba-tiba merasa “butuh” membeli sesuatu. Bukan karena perlu, tetapi karena ingin merasa lebih baik.
Penelitian ini mengumpulkan 16 studi berbeda untuk melihat apakah dugaan tersebut memang didukung oleh data ilmiah. Hasilnya, ada hubungan yang signifikan antara tingkat stres yang dirasakan seseorang dengan tingkat keparahan perilaku belanja kompulsif.
Dengan kata lain, semakin tinggi stres, semakin besar kecenderungan seseorang untuk terjebak dalam pola belanja yang tidak terkendali.
Bahkan, beberapa studi menunjukkan bahwa individu dengan perilaku belanja bermasalah memiliki tingkat stres yang jauh lebih tinggi dibandingkan orang pada umumnya. Efeknya cukup besar dan konsisten dalam berbagai penelitian.
Namun, tidak semua hasil penelitian sepenuhnya sejalan. Ketika peneliti mencoba menggunakan model statistik yang lebih kompleks, seperti regresi atau structural equation modeling, hasilnya menjadi lebih beragam. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara stres dan CBSD tidak sesederhana sebab-akibat langsung.
Belanja sebagai respons emosional
Salah satu temuan menarik datang dari studi yang secara sengaja menciptakan kondisi stres pada partisipan. Dalam situasi tersebut, kelompok dengan stres tinggi menunjukkan kecenderungan lebih besar untuk melakukan perilaku belanja kompulsif dibandingkan kelompok dengan stres rendah.
Ini menguatkan gagasan bahwa belanja bisa menjadi respons emosional, semacam mekanisme koping. Ketika seseorang merasa tertekan, membeli sesuatu dapat memberikan sensasi kontrol, kepuasan instan, atau bahkan ilusi kebahagiaan.
Namun, efek ini biasanya bersifat sementara. Setelahnya, tidak jarang muncul rasa bersalah, penyesalan, bahkan stres baru akibat masalah keuangan. Di sinilah lingkaran setan terbentuk: stres memicu belanja, belanja memicu stres baru.
Masalahnya tidak sederhana
Meski hubungan antara stres dan CBSD terlihat nyata, para peneliti mengingatkan bahwa fenomena ini sangat kompleks. Banyak studi yang ada masih bersifat potong lintang.
Maksudnya, hanya menangkap kondisi dalam satu waktu, sehingga sulit memastikan mana yang menjadi sebab dan mana yang akibat. Apakah stres menyebabkan belanja kompulsif? Atau justru kebiasaan belanja yang buruk membuat seseorang semakin stres?
Jawabannya bisa jadi: keduanya saling memengaruhi. Dalam kerangka model I-PACE (Interaction of Person-Affect-Cognition-Execution), stres tidak berdiri sendiri sebagai penyebab utama.
Ia berinteraksi dengan berbagai faktor lain—emosi, cara berpikir, hingga kemampuan mengendalikan diri. Artinya, stres lebih berperan sebagai “pemicu” dalam sistem yang kompleks, bukan sebagai satu-satunya penyebab.
Penelitian ini juga menyoroti keterbatasan studi yang ada. Metode, sampel, dan alat ukur yang digunakan sangat beragam, sehingga sulit menarik kesimpulan yang benar-benar pasti.
Ke depan, peneliti perlu menguji efek stres secara eksperimental, mengamati hubungan stres dan CBSD dalam jangka panjang , menggunakan indikator stres yang lebih objektif, bukan hanya persepsi subjektif Pendekatan ini penting agar kita bisa memahami fenomena ini secara lebih utuh.
Lebih dari sekadar kebiasaan buruk
Yang paling penting, temuan ini mengubah cara kita memandang perilaku belanja berlebihan. Ini bukan sekadar soal kurang disiplin atau gaya hidup konsumtif, tetapi bisa berkaitan dengan kondisi psikologis yang lebih dalam.
Di era digital, di mana belanja menjadi semakin mudah dan godaan semakin besar, memahami hubungan antara stres dan perilaku konsumsi menjadi semakin penting. Bukan hanya untuk penelitian, tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari.
Karena bisa jadi, saat seseorang menekan tombol “beli sekarang”, yang sebenarnya sedang ia cari bukanlah barang—melainkan rasa lega.
Sumber artikel:
Thomas, T. A., Schmid, A. M., Kessling, A., Wolf, O. T., Brand, M., Steins-Loeber, S., & Müller, A. (2024). Stress and compulsive buying-shopping disorder: A scoping review. Comprehensive Psychiatry, 132, 152482. https://doi.org/10.1016/j.comppsych.2024.152482
Comment