Anies Baswedan Serukan “Tobat Ekologis” Usai Bencana di Sumatera

Sumber foto: @aniesbaswedan

Makassar, Respublica— Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, ikut menanggapi bencana ekologis berupa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir.

Melalui unggahan berjudul “Catatan reflektif tentang bencana” di platform X, mantan calon presiden pada Pilpres 2024 itu menyampaikan pandangan kritis mengenai akar persoalan di balik rangkaian bencana tersebut.

ads

Dalam narasinya, Anies menilai,  rentetan peristiwa alam mulai dari badai, hujan ekstrem, gunung meletus, hingga satwa yang kelaparan, tidak bisa lagi dilihat sekadar sebagai musibah alamiah. Menurutnya, bencana itu mencerminkan cara manusia memperlakukan lingkungan.

“Badai, hujan lebat, gunung meletus, adalah peristiwa alam yang telah berlangsung jutaan tahun. Namun, kita memperparah dan mengubahnya menjadi bencana ketika kita memperlakukan alam tanpa etika,” tulis Anies.

Anies kemudian menyoroti praktik pelanggaran tata ruang, penebangan hutan tanpa kendali, pencemaran pesisir, dan perusakan habitat satwa sebagai faktor yang memperburuk dampak bencana.

Anies mengingatkan kembali diskusi publik tentang pentingnya tobat ekologis, sebuah refleksi terhadap “dosa kolektif pada bumi” yang menurutnya harus diikuti perubahan pola hidup dan kebijakan negara.

Ia menyebut kerusakan lingkungan sebagai hasil pilihan kolektif, mulai dari kebijakan yang longgar, minimnya analisis risiko, hingga pengabaian terhadap pelanggaran aturan demi keuntungan jangka pendek.

“Hari ini kita harus jujur bahwa kita terpaksa hidup berdampingan dengan bencana. Terlalu sulit untuk mencegah semuanya. Iklim sudah berubah, bentang alam sudah banyak dilukai,” tulisnya.

Meski begitu, ia menilai risiko masih bisa ditekan melalui tata kelola transparan, penegakan hukum tegas, gaya hidup ramah lingkungan, keberanian menolak proyek perusak alam, dan pendidikan mitigasi bencana yang serius.

Anies pun menyampaikan pandangan yang ia sebut sebagai opini tidak populer: “bumi tidak peduli pada kita, dan bumi tidak butuh kita peduli padanya. Yang sedang terancam punah bukanlah planetnya, tapi keberlangsungan hidup kita sendiri.”

Karena itu, ia menegaskan kembali pentingnya tobat ekologis sebagai upaya memulihkan batas-batas etis dalam mengelola bumi demi masa depan generasi mendatang.

“Tobat ekologis, sebuah pengingat dari Paus Fransiskus, adalah upaya yang harus kita jalankan untuk mengembalikan batas. Batas serakah, batas abai, batas melanggar aturan. Demi bumi yang lebih layak dihuni untuk anak dan cucu kita semua,” tutupnya.

Comment