Makassar, Respublica— Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Luwu Timur dari sisi pengeluaran menunjukkan kinerja yang relatif solid sepanjang 2025. Meski demikian, mulai memunculkan sinyal kewaspadaan dalam jangka pendek.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Luwu Timur per 11 Desember 2025, ekonomi daerah ini tumbuh 5,36 persen secara tahunan (y-on-y). Berdasarkan data tersebut, investasi dan konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama.

Analisis dari sisi pengeluaran memberi gambaran strategis mengenai kekuatan permintaan agregat yang berasal dari konsumsi masyarakat, aktivitas investasi, serta belanja pemerintah.
Pendekatan ini sekaligus mengurai perilaku konsumen, investor, dan pemerintah dalam menyerap output perekonomian daerah.
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Luwu Timur terutama didorong oleh menguatnya iklim investasi. Hal ini tercermin dari pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mencapai 9,99 persen.
Selain itu, permintaan domestik juga tetap kokoh. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 6,89 persen. Sementara itu, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) tumbuh lebih moderat di angka 1,61 persen.
Namun, pada basis triwulanan (q-to-q), dinamika yang muncul cenderung kontras. Investasi dan belanja pemerintah justru melonjak signifikan, dengan PMTB tumbuh 12,99 persen dan PK-P meningkat 10,67 persen.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi tipis sebesar minus 0,16 persen. Kondisi ini dinilai sebagai anomali yang patut dicermati. Karena berpotensi menjadi indikasi awal melemahnya daya beli masyarakat dalam jangka pendek.
Adapun secara kumulatif sepanjang tahun (c-to-c), konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi dengan laju 5,28 persen. Investasi juga masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 2,40 persen.
Berbeda dengan dua komponen tersebut, belanja pemerintah justru mengalami kontraksi kumulatif sebesar minus 1,77 persen. Hal ini mengindikasikan perlambatan realisasi belanja dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi struktur pengeluaran, PDRB Luwu Timur menegaskan peran fundamental konsumsi domestik sebagai fondasi utama perekonomian daerah. Pengeluaran konsumsi rumah tangga mendominasi dengan kontribusi 42,69 persen terhadap total PDRB.
Angka ini menunjukkan bahwa daya beli dan belanja masyarakat masih menjadi mesin utama penggerak ekonomi. Komponen investasi melalui PMTB menyusul dengan kontribusi 30,09 persen. Hal ini menandakan peran strategis aktivitas penanaman modal.
Sementara itu, pengeluaran konsumsi pemerintah memiliki porsi relatif kecil, yakni 4,62 persen. Analisis sumber pertumbuhan memperjelas kontribusi masing-masing komponen terhadap kinerja ekonomi.
Secara tahunan, konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,93 poin persen terhadap total pertumbuhan 5,36 persen. Investasi menyumbang 1,36 poin persen, sedangkan konsumsi pemerintah berkontribusi 0,18 poin persen.
Sebaliknya, pada pertumbuhan triwulanan, peran utama justru diambil alih oleh investasi yang menyumbang 3,36 poin persen, diikuti konsumsi pemerintah sebesar 0,40 poin persen. Konsumsi rumah tangga pada periode ini memberikan kontribusi negatif sebesar minus 0,06 poin persen.
Secara keseluruhan, dinamika pertumbuhan dari sisi pengeluaran menunjukkan bahwa ekonomi Luwu Timur masih ditopang kuat oleh permintaan domestik dan investasi dalam kerangka tahunan.
Namun, kontraksi konsumsi rumah tangga pada basis triwulanan menjadi sinyal awal tantangan daya beli masyarakat yang perlu diantisipasi.
Comment