Jaga Daya Saing NasDem Sulsel, Tantangan Syahar–Cicu Pasca Mundurnya RMS

Makassar, Respublica— Pergantian kepemimpinan terjadi di tubuh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Sulawesi Selatan. Rusdi Masse (RMS) resmi mengundurkan diri dari jabatan ketua, dan posisinya kini diisi oleh Syaharuddin Alrif.

Bupati Sidrap tersebut diduetkan dengan Andi Rachmatika Dewi atau Cicu sebagai Sekretaris DPW NasDem Sulsel. Konfigurasi kepemimpinan baru ini menandai fase transisi penting bagi NasDem Sulsel setelah cukup lama dipimpin RMS, sosok yang selama ini identik dengan keberhasilan elektoral partai di wilayah tersebut.

ads

Pengamat politik dari Profetik Institute, Asratillah, menilai terpilihnya Syaharuddin Alrif sebagai ketua dan Andi Rachmatika Dewi sebagai sekretaris dapat dibaca sebagai langkah konsolidasi internal yang relatif aman. Keduanya dinilai bukan figur asing di lingkungan NasDem dan memiliki rekam jejak panjang di tubuh partai.

Menurut Asratillah, Syahar merupakan produk kaderisasi yang tumbuh dari struktur partai, sementara Cicu memiliki pengalaman elektoral dan organisatoris yang cukup matang. Dari perspektif tersebut, duet ini mencerminkan kesinambungan kepemimpinan, bukan perubahan drastis.

“NasDem Sulsel tampak ingin menjaga stabilitas pasca-pergeseran besar yang ditinggalkan RMS, sambil memastikan mesin partai tetap berjalan tanpa gejolak berlebihan,” ujarnya.

Meski demikian, Asratillah menilai bayang-bayang Rusdi Masse masih akan kuat mewarnai kepemimpinan baru. Sebab RMS bukan sekadar mantan ketua NasDem Sulsel.

Ia juga adalah simbol keberhasilan NasDem di Sulsel yang telah membentuk standar tinggi sekaligus meninggalkan warisan psikologis bagi para penerusnya.

Dalam konteks ini, Syahar dan Cicu tidak hanya diuji dari sisi administratif, tetapi juga secara simbolik. Tantangan utama mereka adalah meyakinkan kader dan publik bahwa NasDem Sulsel tetap solid dan kompetitif tanpa figur sentral lama.

“Apakah mereka mampu meyakinkan kader dan publik bahwa NasDem tetap solid tanpa figur sentral lama? Tantangan mereka bukan menandingi RMS dalam gaya, melainkan membuktikan bahwa NasDem Sulsel bisa bekerja secara institusional, bukan personalistik,” ujarnya.

Asratillah menilai duet Syahar–Cicu memiliki modal yang cukup untuk menjawab tantangan tersebut. Syahar dikenal memiliki kekuatan dalam kerja lapangan serta jejaring birokrasi dan politik yang luas.

Sementara itu, Cicu dinilai unggul dalam komunikasi politik dan memiliki basis elektoral yang signifikan, khususnya di Makassar. Pembagian peran yang jelas antara ketua dan sekretaris menjadi faktor kunci dalam menjaga efektivitas kepemimpinan partai.

Ketua berfungsi sebagai penggerak konsolidasi wilayah, sedangkan sekretaris berperan memperkuat organisasi serta membangun narasi politik partai. Dalam banyak kasus, duet yang solid justru dinilai lebih efektif dibanding figur tunggal yang terlalu dominan.

“Kuncinya ada pada kekompakan internal, karena duet yang solid sering kali lebih efektif dibanding figur tunggal yang terlalu dominan,” ujarnya.

Namun demikian, menjaga performa NasDem Sulsel ke depan tidak bisa hanya bertumpu pada nama besar atau struktur lama. Peta politik Sulawesi Selatan terus bergerak, kompetisi antarpartai semakin cair, dan karakter pemilih kian rasional sekaligus pragmatis.

Karena itu, Syahar dan Cicu dituntut melakukan pembaruan strategi, mulai dari memperluas basis dukungan di luar kantong tradisional NasDem, merawat loyalitas kader DPRD, hingga merekrut figur-figur baru yang relevan dengan kebutuhan lokal.

Ujian sesungguhnya, menurut Asratillah, bukan terjadi di ruang konferensi pers, melainkan di daerah pemilihan yang sunyi namun menentukan hasil politik. Terkait kemungkinan melampaui capaian Rusdi Masse, ia menilai hal tersebut masih terlalu dini untuk disimpulkan.

“Yang lebih realistis adalah menilai apakah mereka mampu menjaga NasDem tetap kompetitif dan tidak mengalami penurunan signifikan. Dalam politik, stabilitas pasca-transisi sering kali sudah merupakan capaian besar,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika duet Syaharuddin Alrif dan Andi Rachmatika Dewi mampu melewati fase konsolidasi ini dengan rapi, peluang untuk membuka lembaran baru kejayaan NasDem Sulsel tetap terbuka.

“Politik tidak selalu soal siapa yang paling besar namanya, tetapi siapa yang paling tahan mengelola perubahan,” tutup Asratillah.

Comment