Profesor yang tidak Ingin Dipanggil Profesor

Hari ini, Selasa, 28 April 2025, saya mengikuti kegiatan pengukuhan guru besar di UIN Alauddin Makassar. Orang yang dikukuhkan ini adalah orang asing—saya tidak kenal juga tidak kenal saya—Wahyuddin Halim. Undangan pengukuhan guru besarnya saya dapati dari sosial media—story WA Kak Maqbul Halim. Diundangan itu, Sang Profesor spesifik mesyaratkan agar tidak ada karangan bunga. Judul flayer yang tersebar itu adalah Pengukuhan Guru Besar Tanpa Karangan Bunga.

Wahyuddin Halim dan Maqbul Halim adalah saudara. Tapi, dari mereka berdua, hanya Kak Maqbul yang saya kenal. Termasuk satu saudara lainnya, Kak Ibe Halim—begitu saya sering menyapanya. Khusus, Wahyuddin Halim, ini pertama kali saya bertemu. Sebelumnya, hanya sepintas orang-orang menyebut namanya. Termasuk pernah sekali nama itu saya dengan dari Kak Maqbul.

ads

Jadi, bisa dikata saya orang buta jika berbicara tentang Wahyuddin Halim. Anehnya, saya langsung tergerak untuk hadir dipengukuhan guru besarnya. Dibalasan story WA Kak Maqbul dan Kak Ibe, saya mau datang. Keduanya pun dengan senang hati menyambut antusiasme saya.

Satu menyatakan akan hadir bukan karena saya kenal Kak Maqbul dan Kak Ibe—saudara Wahyuddin. Bukan itu. Saya ingin datang karena judul pidatonya—Siri’ Na Sara’. Saya terkesima dengan kalimat sederhana itu. Dan karena itu pulalah saya ingin datang dan mendengar langsung.

Ketika tiba di Auditorium UIN Alauddin, orang sudah banyak berkumpul dan siap menjadi pendengar orasi. Saya disodorkan panitia kotak kue dan dipersilahkan masuk. Saya kemudian berjalan di Tengah riuhan banyak orang. Saya tidak menghitung jumlahnya, tapi saya prediksi itu lebih dari 400san orang. Saya dipersilahkan panitia bergerak ke arah kanan, kebetulan di sisi kanan masih terdapat kursi kosong.

Saya berjalan sesuai petunjuk panitia dan secara kebetulan duduk tepat di belakang Kak Maqbul dan Kak Ibe. Saya menyapa dan memberi hormat dengan anggukan. Keduanya pun sama—menyapa dengan hangat. Saya duduk dan bercerita dengan Kak Ibe, sambil menunggu acara dimulai.

Tidak berapa lama, acara dimulai dan berjalan lancar; pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Himne UIN, pembacaan doa, lalu pembacaan profil akademik Wahyuddin Halim. Kemudian, sebelum orasi ilmiah, ada juga pemutaran video singkat. Dan, saya tidak hanya terperanjak tapi juga meminta restu ke Kak Ibe agar jejak cendekiawan Wahyuddin Halim merasuki tubuh saya. Mendengar itu, Kak Ibe tersenyum dan mengaminkan.

Wahyuddin Halim—Si Orang Asing ini bukan sembarang orang. Ia adalah orang yang berbeda dan spesial. Terutama ketika ia terungkap dalam video profilnya. Ia penerima beasiswa Fulbright dari Amerika Serikat juga penerima beasiswa dari Pemerintah Australia. Kajiannya sangat dalam. Risetnya bukan main. Dan, sejumlah buku bertumpuk merupakan hasil buah pikirannya. Dalam hati saya berkata “Oh Tuhan, saya tidak salah mengikuti pengukuhan ini”.

Siri’ na sara’

Sejujurnya, kalimat inilah yang membuat saya datang ke acara pengukuhan ini. Dan, itu tidak salah. Dalam penjelasan Wahyuddin Halim, Siri’ itu seringkali diasosiasikan dengan kalimat dalam Bahasa Makassar—Siri’ Na Pacce, juga dalam Bahasa Bugis—Siri’ Na Pesse. Tapi, kata Wahyuddin, ia ingin mengangkat Pacce atau Pesse itu ketingkat yang lebih tinggi.

Bahwa, kata dia—dalam orasinya—Pacce dan atau Pesse bukan karena telah kehilangan makna. Tapi, Pacce dan atau Pesse harus hadir dalam bentuk empati. Sementara Sara’, kata Wahyuddin, merujuk pada syariat Islam dalam khasanah masyarakat Bugis-Makassar. Dan, itu kemudian dijelaskan tidak hanya merujuk pada hukum formal, tetapi juga mencakup dimensi batin seperti al-ḥayā’ (malu) dan taqwā (takwa).

Pada tahap itulah, Wahyuddin menitipberatkan bahwa ia sedang tidak menggeser makna Pacce dan atau Pesse tapi membawanya pada dimensi yang sangat dalam. “Ampe sibawa kedo pannesai tau. Kode de’ tau-taumi yaro” adalah kalimat pepatah Bugis yang disampaikan Wahyuddin—sebagai representasi bagaimana harusnya kesalehan dan iman seseorang.

Oleh karena itu, ketidakhubungan konsep inilah yang menurut Wahyuddin mengakibatkan terjadinya korupsi. Berdasarakan data Transparency International 2025, Indonesia berada diperingkat 109 dari 182 negara yang menempatkannya jauh dari Denmark, Finlandia dan Singapura—yang mana tiga negara itu tidak memiliki puasa satu bulan penuh seperti yang ada di Indonesia. “Ada apa?” tanya Wayhuddin. Inilah paradoks kesalehan itu.

Sebuah pertanyaan yang kemudian disebut sebagai paradoks kesalehan itu tidak lahir begitu saja. Wahyuddin menelusuri lebih jauh—literatur yang telaten dan fakta sejarah melalui pendekatan antropologi agama. Hasilnya, “belajar” agama lebih khusus hubungannya dengan budaya dan karakter manusia bertumpu pada konsep; pewahyuan (tanzil), pemahaman (tafaqquh) dan penumbuhan (tajassud).

Konsep pertama, menurutnya ketika wahyu itu diturunkan kepada para nabi—yang pada akhirnya memberikan konsep tentang tata cara ritual dan revolusi harkat dan martabat kemanusiaan.

Selanjutnya, pemahaman melalui sistem pembelajaran yang lebih kompleks seperti fiqih, tafsir, ilmu kalam dan seterusnya. Terakhir, konsep penumbuhan bagaimana agama tidak hanya dipahami dan diinternalisasi tapi berwujud dalam bentuk gerak dan dampak secara karakter.

Konsep ini kemudian hubungkan ke dalam system moralitas budaya lokal, terutama Bugis-Makassar yakni sadda mappabati ada, ada mappabati tau, dan gau mappabati tau sebagaimana pepatah bugis yang telah dijelaskan sebelumnya.

Saya kira, disinilah konsep ideal yang dipikirkan Wayhuddin pada akhirnya terbentur oleh realitas sosial hari ini. Bagaimana kita seringkali mendengar istilah “islam KTP”—di masjid seringkali terbentuk kesalehan yang kuat dan di ruang bisnis berubah menjadi keuntungan “sebesar-besarnya”.

Fakta lain yang diterangkan Wahyuddin yakni bagaimana sistem pembelajaran di sekolah. Menurutnya, ketidakotomatisan tanzil melahirkan tafaqquh dan tafaqquh melahirkan tajassud perlu dianalisis secara jujur. Jika saya mencoba menafsirkan kata “jujur” maka kita harus siap-siap menerima pil pahit—obat kan memang pahit. Dan saya kira itulah obatnya yang ditawarkan Wahyuddin seperti yang dituliskan dalam makalahnya.

“Sistem pendidikan agama di Indonesia, termasuk yang paling formal dan paling intensif sekalipun seperti madrasah atau sekolah Islam terpadu (SIT), cenderung berhenti di fase tafaqquh. Seseorang bisa bergelar doktor ilmu agama, hafal ratusan ayat dan hadis, fasih membaca kitab kuning, namun belum serta-merta mencapai tajassud. Pengetahuan agama yang luas tidak otomatis menghasilkan karakter yang baik”.

Tahun 2025 lalu, saya menerbitkan buku dengan judul “Sekolah Bukan Pabrik”. Buku itu hasil refleksi mendalam saya tentang sistem pendidikan—baik ditingkat dasar maupun perguruan tinggi. Sebagaimana yang diungkap Wahyuddin dalam kutipan langsung atas, saya dan ia barangkali merasakan hal yang sama—bagaimana sistem pendidikan di Indonesia sedang mengalami persoalan fundamental. Tapi, itu kemudian tidak ingin diungkap dengan “jujur” oleh institusi pendidikan itu sendiri.

Menolak karangan bunga

Soal kedua bagaimana saya ingin hadir diacara pengukuhan Wahyuddin adalah karena ia menolak dengan tegas karangan bunga. Itu juga yang kemudian tersebar luas, termasuk dalam story WA Kak Maqbul dan Kak Ibe. Ketika membaca itu, saya langsung membalas ke Kak Ibe jika saya sebelumnya pernah menulis tentang karangan bunga ini.

Tapi, dalam konteks keresahan saya dengan mahasiswa—kadangkala baru selesai ujian proposal atau ujian hasil sudah banyak karangan bunganya di depan fakultas tempat saya mengajar.

Dalam tulisan yang diterbitkan Tribun Timur Makassar, Kamis, 5 Maret 2026 lalu itu, saya menyindir dengan sarkas “Sarjana bukan sekadar legitimasi bahwa seseorang telah menghafal setumpuk teori—seperti siswa yang hanya tahu hasil perhitungan tanpa memahami logika di baliknya. Gelar itu sebuah beban etis”.

Saya tidak tahu, apakah tulisan itu pernah dibaca oleh Wahyuddin, tapi dari suara dan tindaknya atau dalam Bahasa Bugis sadda, gau dan tau seperti dijelaskan dalam makalahnya, ia seperti membantah saya.

Ia adalah representasi intelektual publik yang saat ini dirindukan republik—tidak hanya membaca dan menghafal teori tapi lebih dari itu, ia bergerak dan berdampak—sebagaimana kata Rektor UIN Alauddin, Prof. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D. dalam sambutannya bahwa Wahyuddin adalah professor yang terlambat karena terlalu banyak menjadi pemateri di dalam luar negeri.

Tapi, saya kira, ada yang luput dari perhatian dan kesimpulan Prof. Hamdan tentang Wahyuddin. Barangkali, ini agak subjektif, lagipula ini pertama kali saya berinteraksi secara langsung Wahyuddin—bahwa gelar kebesaran hari ini itu bukan telat dan kebetulan.

Tapi, lahir dari proses dan pemaknaan yang amat panjang. Itu termanifestasi dari kesimpulan Wahyuddin yang tidak ingin dipanggil professor di luar dari kegiatan akademik—sebagaimana juga dalam tulisan ini. Artinya apa—jika saya tafsirkan kerendahan hati itu—adalah pada dasarnya jika ingin mengejar gelar, maka ia dapat melakukannya.

Tapi, saya kira, bukan itu inti dari seorang intelektual publik macam Wahyuddin. Memilih melambat seperti keong—yang dapat berjalan di atas pisau tajam adalah pilihan yang telah ditetapkan sejak awal.

Dengan begitu, pencerahan batin melalui kesabaran, ketelitian, kuuletan dan ketajaman akal sehat yang sedang diperagakan oleh Wahyuddin—adalah suri tauladan untuk semua orang—untuk apa menjadi yang tercepat dalam meraih gelar jika pada akhirnya tidak dapat dipertanggungjawabkan melalui suara, gerak dan tindak—sebagaimana dalam manifesto Bugis; ada, gau, tau.

**Penulis adalah Dosen Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Makassar

Comment