Makassar, Respublica— Durian sering memecah opini. Ada yang memujanya sebagai “raja buah”, ada pula yang menghindar karena aromanya yang menyengat.
Namun di balik bau khas dan rasanya yang kuat, durian ternyata menyimpan potensi kesehatan yang serius, bahkan mulai dilirik dunia sains sebagai bahan pangan fungsional.

Sejumlah riset menunjukkan bahwa durian bukan sekadar buah tinggi kalori. Ia juga kaya senyawa bioaktif yang berperan penting bagi kesehatan tubuh.
Kaya energi, tapi bukan sekadar gula dan lemak
Penelitian yang dirangkum oleh Mhd Jalil (2021) menjelaskan bahwa durian (Durio zibethinus Murr.) merupakan buah tropis musiman dengan kandungan energi tinggi.
Kombinasi gula dan lemak membuat durian cepat mengenyangkan dan mampu menyumbang energi besar dalam waktu singkat. Inilah alasan durian sejak lama dikonsumsi sebagai pengisi tenaga di berbagai wilayah Asia Tenggara.
Namun, durian tidak hanya berisi makronutrien. Di dalam daging buahnya tersimpan flavonoid, antosianin, vitamin C, dan karotenoid, kelompok senyawa yang dikenal berperan sebagai antioksidan.
Antioksidan ini membantu tubuh melawan stres oksidatif, salah satu faktor pemicu penuaan dini dan penyakit degeneratif.
Aroma tajam, kandungan kimia yang kompleks
Aroma durian yang khas ternyata merupakan hasil kerja sama puluhan senyawa volatil. Ester memberikan nuansa manis dan buah. Sementara senyawa sulfur seperti dietil disulfida dan dietil trisulfida menyumbang bau tajam yang sering dianggap “menantang”.
Menariknya, komposisi senyawa volatil ini berbeda-beda antar varietas durian dari Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Artinya, setiap jenis durian bukan hanya berbeda rasa, tetapi juga berbeda profil kimia dan potensi biologisnya.
Potensi menurunkan gula dan kolesterol
Dalam studi laboratorium dan percobaan pada hewan, durian menunjukkan efek yang cukup menjanjikan. Konsumsi durian dilaporkan dapat membantu menurunkan kadar glukosa darah dan kolesterol.
Selain itu, ekstrak durian memperlihatkan efek antiproliferatif (menghambat pertumbuhan sel tertentu) serta mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus.
Meski hasil ini belum bisa langsung digeneralisasi ke manusia, temuan tersebut membuka jalan bagi riset lanjutan tentang durian sebagai bahan pangan terapeutik.
Apakah khasiat durian berubah setelah diolah?
Pertanyaan penting lainnya adalah, apakah durian tetap sehat setelah diolah? Penelitian mutakhir yang diterbitkan di Food Chemistry (2025) meneliti dampak pengolahan pascapanen terhadap kandungan kesehatan durian Monthong.
Berbagai produk mulai dari durian segar, stik durian, kue durian, hingga keripik durian dibandingkan kandungan polifenol dan aktivitas antioksidannya.
Hasilnya cukup jelas. Durian segar memiliki kandungan polifenol tertinggi, disusul oleh stik durian, kue, dan terakhir keripik. Artinya, semakin minim proses dan tanpa tambahan gula, semakin besar potensi kesehatan yang dipertahankan.
Penelitian ini juga menemukan bahwa polifenol durian mampu berinteraksi dengan protein dalam tubuh manusia, terutama dalam konteks glikasi, proses kimia yang berperan besar dalam komplikasi diabetes. Produk durian tanpa tambahan gula berpotensi membantu mengelola gangguan terkait glikasi tersebut.
Menuju status pangan fungsional
Gabungan temuan ini mengarah pada satu kesimpulan, durian berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional. Artinya, bukan hanya dimakan untuk kenyang atau kenikmatan rasa, tetapi juga untuk mendukung kesehatan.
Namun para peneliti mengingatkan satu hal penting. Sebagian besar bukti masih berasal dari studi in vitro dan hewan. Untuk benar-benar memastikan manfaat durian bagi manusia, diperlukan penelitian intervensi klinis yang lebih luas dan terkontrol.
Raja buah, raja potensi?
Durian memang tidak pernah netral. Selalu ada cinta dan benci. Tapi sains mulai menunjukkan bahwa di balik kontroversinya, durian adalah buah dengan kompleksitas kimia dan potensi kesehatan yang luar biasa.
Mungkin, di masa depan, durian tidak hanya dikenal sebagai buah beraroma tajam, tetapi juga sebagai simbol bagaimana pangan tradisional tropis bisa naik kelas menjadi solusi kesehatan modern.
Sumber artikel
Jalil, A. M. (2021, July 6). Health benefits of indigenous durian. Encyclopedia. https://encyclopedia.pub/entry/11694
Thobunluepop, P., Huang, D., Martinez-Ayala, A. L., Ramos-Zambrano, E., Robles-Sánchez, R. M., Lubinska-Szczygeł, M., Shafreen, R. B., Rombolà, A. D., Ezra, A., Merquiol, E., Glikin, S., & Gorinstein, S. (2025). Impact of postharvest processing on the health benefits of durian-derived products. Food Chemistry, 470, 142713. https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2024.142713
Comment