Makassar, Respublica— Bayangkan sebuah botol kecil dari kaca Romawi. Selama puluhan tahun, para arkeolog mengira isinya dulu parfum, minyak pijat, atau cairan kosmetik untuk tubuh bangsawan.
Namun penelitian terbaru membuka kemungkinan yang jauh lebih mengagetkan: botol itu pernah berisi campuran kotoran manusia dan minyak wangi. Kedengarannya menjijikkan? Mungkin. Tapi bagi dunia kuno, itu bagian dari sains.

Sebuah studi yang terbit di Journal of Archaeological Science: Reports tahun 2026 menunjukkan bahwa praktik pengobatan berbasis feses—yang selama ini hanya dikenal lewat teks-teks kuno—ternyata benar-benar dipraktikkan. Dan kini, untuk pertama kalinya, sains modern menemukan bukti kimianya secara langsung.
Aroma, ritual, dan tubuh di dunia kuno
Di Mesir, Yunani, dan Romawi kuno, aroma bukan sekadar soal wangi atau bau. Wewangian adalah bagian dari cara manusia memahami tubuh, penyakit, bahkan hubungan dengan dunia gaib. Dupa dibakar di kuil, minyak aromatik dioleskan ke tubuh, dan ramuan berbau tajam digunakan untuk mengusir penyakit atau “pengaruh jahat”.
Teks medis kuno dari Papirus Ebers Mesir hingga tulisan Galen dan Dioscorides penuh dengan resep yang memadukan tumbuhan aromatik, resin, minyak, dan… kotoran. Kotoran hewan dan manusia dipercaya memiliki kekuatan terapeutik: mengatasi peradangan, infeksi, hingga gangguan reproduksi.
Selama ini, banyak sejarawan menganggap resep-resep tersebut simbolik, metaforis, atau sekadar kepercayaan pra-ilmiah. Masalahnya sederhana: tidak ada bukti material yang tersisa. Sampai sekarang.
Botol kecil dari Pergamon
Tim peneliti menganalisis residu dari sebuah unguentarium—botol kaca kecil Romawi—yang ditemukan di Pergamon (kini Bergama, Türkiye), salah satu pusat pengobatan terpenting di dunia Romawi. Menggunakan teknologi kromatografi gas dan spektrometri massa (GC–MS/FID), mereka mengurai “jejak molekuler” yang masih tertinggal di dalamnya.
Hasilnya, di dalam botol tersebut ditemukan biomarker khas feses manusia, seperti koprostanol dan 24-etilkoprostanol. Bersamaan dengan itu, terdeteksi pula senyawa aromatik karvakrol—komponen utama minyak thyme yang berbau tajam dan dikenal memiliki sifat antibakteri.
Artinya, isi botol itu bukan parfum biasa. Ia adalah ramuan medis: kotoran manusia yang dicampur bahan aromatik kuat untuk menutupi bau dan, kemungkinan besar, meningkatkan efektivitas serta penerimaan pasien.
Mengelola bau, mengelola pasien
Temuan ini mengungkap sisi menarik dari pengobatan Romawi: kesadaran sosial dan sensorik. Para tabib kuno tampaknya memahami bahwa bau menyengat bisa menimbulkan penolakan. Maka, kotoran—yang dianggap ampuh secara medis—“dipoles” dengan wewangian.
Bagi orang Romawi, batas antara obat, kosmetik, dan ritual tidak tegas. Wadah yang sama bisa menyimpan minyak pijat, salep penyembuh, atau ramuan yang secara simbolik dan biologis dianggap kuat, meski menjijikkan bagi standar modern. Dengan kata lain, sains kuno tidak hanya bekerja di tingkat tubuh, tetapi juga di tingkat persepsi.
Dari dunia kuno ke mikrobioma modern
Ironisnya, riset ini muncul di saat dunia medis modern kembali melirik terapi berbasis feses—seperti transplantasi mikrobiota usus—untuk mengobati berbagai penyakit. Praktik yang dulu dianggap irasional kini kembali dipelajari secara serius, dengan bahasa dan teknologi baru.
Temuan dari Pergamon memaksa kita meninjau ulang satu prasangka besar: bahwa pengobatan kuno bersifat naif atau tak berdasar. Sebaliknya, mereka bereksperimen, mengamati efek, dan bahkan memikirkan aspek psikologis serta sosial dari terapi.
Sumber artikel:
Atila, C., Demirbolat, İ., & Çelebi, R. B. (2026). Feces, fragrance and medicine chemical evidence of ancient therapeutics in a Roman unguentarium. Journal of Archaeological Science, Reports, 70(105589). doi:10.1016/j.jasrep.2026.105589
Comment