Irwan Djafar: Job Fit Bukan Hukuman, Tapi Kesempatan ASN Berkinerja Baik

Makassar, Respublica— Pemerintah Kota Makassar berencana segera menjalankan job fit atau uji kesesuaian jabatan bagi pejabat struktural pada awal tahun ini.

Selain job fit, pemerintah kota juga akan melakukan evaluasi kinerja aparatur sipil negara (ASN), rotasi camat, serta mengisi sejumlah posisi strategis yang hingga kini masih kosong.

ads

Rencana ini mendapat perhatian serius dari DPRD Makassar. Sekretaris Komisi A DPRD Kota Makassar, Irwan Djafar, menekankan bahwa job fit sebaiknya diawali dengan penilaian kinerja ASN secara menyeluruh, tidak hanya terbatas pada camat.

“Mungkin kita lihat kinerja dulu. Selama ini, ada kan beberapa tidak terkhusus kepada camat saja ya. Semua ASN, OPD, ada yang bekerja setulus hati dan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Irwan juga mengakui bahwa tidak semua pegawai memiliki dedikasi yang sama. Menurutnya, ada ASN yang memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk pelayanan publik.

“Tidak bisa kita justifikasi. Ada juga memang beberapa pegawai, dia sepertinya bekerja untuk kepentingan dirinya. Bagaimana begitu dia mendapat jabatan, dia urus cuma dirinya sendiri. Perhatian kepada tanggung jawab pekerjaannya, itu tidak dia fokuskan,” kata Irwan.

Ia menegaskan bahwa job fit dan rotasi jabatan yang direncanakan Wali Kota Makassar seharusnya tidak dipahami sebagai bentuk hukuman.

Sebaliknya, langkah ini dianggap sebagai penyegaran organisasi sekaligus memberi kesempatan bagi ASN yang berprestasi.

Irwan juga menanggapi rencana perluasan job fit, yang tidak hanya untuk pejabat eselon II tetapi juga eselon III. Ia menilai hal itu sah dilakukan selama bertujuan menempatkan orang yang tepat pada posisi sesuai kompetensi.

“Karena setetahu saya job fit itu kan biasanya hanya untuk eselon II, tapi kalau di job fit juga untuk eselon III, itu bukan sesuatu masalah, itu sah-sah saja untuk mendapatkan orang yang terbaik pada posisinya,” ujarnya.

Ia bahkan memberi apresiasi terhadap kebijakan rekrutmen dan penempatan pejabat yang dilakukan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin. Menurutnya, pola rotasi yang diterapkan menunjukkan kepemimpinan yang objektif dan bebas dari kepentingan pribadi.

“Jadi, saya apresiasi Pak Wali Kota, karena pengalaman sebelumnya ada rotasi eselon II, eselon III, dan seterusnya, itu menggambarkan bahwa Pak Wali Kota sekarang adalah pemimpin yang tidak ada dendam,” katanya.

Indikator keberhasilan penempatan pejabat juga terlihat dari respons dan etos kerja OPD pascarotasi. Irwan menilai antusiasme pejabat saat menghadiri rapat DPRD menjadi tanda positif.

“Karena selama kita berinteraksi dengan OPD-OPD yang setelah diberi jabatan, ya mudah-mudahan ini bukan karena euforia, tapi begitu ada panggilan ke DPR untuk rapat, semua sangat antusias. Berarti itu memperlihatkan bahwa orang ini mau bekerja dan mau berakselerasi,” pungkasnya.

Comment