Makassar, Respublica— Hari ini, kafe tak bisa dilepaskan dari gaya hidup masyarakat konsumen. Deretan gelas kopi kekinian berjajar di meja, sudut-sudut ruangan ditata estetik demi kebutuhan konten, orang datang untuk menyesap minuman lalu jadi pusat tontonan.
Dalam pergeseran itu, kafe menjelma menjadi ruang hiburan, hura-hura, etalase fashion anak muda, sekaligus panggung kecil tempat narsisme dan gaya hidup dipertontonkan. Tak heran, jika kafe kini lebih dipahami sebagai tempat nongkrong estetik dibanding ruang berpikir.

Percakapan yang terdengar pun kebanyakan ringan: gosip, tren media sosial, atau sekadar upaya mencuri perhatian. Pelan demi pelan, kafe melekat dengan psikologi manusia modern: ingin terlihat, diakui, dan ingin tampak sibuk menikmati hidup.
Padahal, sejarah mencatat wajah kafe yang sama sekali berbeda. Pegiat literasi dan peminat filsafat, Muhajir MA, mengingatkan bahwa kafe, atau kedai kopi, pernah memikul peran sosial dan intelektual yang sangat penting dalam kehidupan publik.
“Setidaknya sampai akhir abad ke-18, kedai kopi di Inggris, juga di beberapa negara Eropa lainnya, menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan, sastrawan, seniman, para republikan, pebisnis, dan jurnalis. Bahkan, kedai kopi di Kota Oxford sudah seperti universitas alternatif, pelengkap kampus dalam membentuk masyarakat terdidik,” ujarnya.
Menurutnya, pada masa itu kedai kopi di Oxford bukan hanya tempat melepas penat. Ia menjelma menjadi ruang temu para virtuoso, yakni kaum terpelajar yang memiliki minat besar pada seni dan sains. Buku dibuka, argumen dipertukarkan, dan perdebatan berlangsung hangat, ditemani aroma kopi yang mengepul.
Lebih dari sekadar ruang obrolan, kedai kopi berkembang menjadi pusat kebudayaan sekaligus laboratorium terbuka. Muhajir menjelaskan, para filsuf alam kerap menjadikannya tempat untuk menguji temuan ilmiah.
Seperti mempresentasikan fakta baru hingga mengajukan dugaan-dugaan tentang hukum alam. Dari batu meteor, teori gravitasi, sampai prinsip gaya magnet, semuanya dapat diperdebatkan secara serius di meja kopi.
“Atmosfer sosial itu membuat ilmu pengetahuan keluar dari menara gading universitas. Sains tak lagi eksklusif bagi kalangan akademik. Ia hadir di tengah publik. Masyarakat bisa mendengar, mengkritisi gagasan baru secara terbuka. Sains hidup dalam percakapan sehari-hari,” ujarnya.
Sebagai jurnalis, Muhajir melihat jejak tradisi itu masih terasa hingga kini. Ia mengatakan, di banyak kafe modern, masih mudah ditemukan komunitas wartawan yang berkumpul untuk menulis dan mendiskusikan isu-isu terkini. Ternyata, kebiasaan tersebut sudah berlangsung sejak lama di kedai kopi Eropa.
“Para jurnalis dan penyebar kabar menjadikan kedai kopi sebagai rumah kedua. Di Inggris kala itu, kedai kopi adalah simpul informasi paling ramai. Siapa pun yang ingin tahu kabar terbaru, baik itu soal politik, sains, atau dinamika sosial, cukup datang ke kafe,” ujarnya.
Lebih jauh lagi, kata Muhajir, kedai kopi juga berfungsi layaknya sebuah republik kecil. Beragam latar belakang sosial bertemu dan duduk dalam posisi setara. Begitu berada di meja yang sama, hierarki sosial seakan melebur. Setiap orang bebas berbicara, dan setiap gagasan sah untuk diperdebatkan.
Kini, fungsi tersebut perlahan memudar. Kafe tetap penuh oleh pengunjung, tetapi sepi dari perbincangan bermakna. Kursi-kursi terisi, namun diskursus absen. Budaya pamer kian menggeser budaya pikir, dan kopi lebih sering hadir sebagai pelengkap gaya hidup ketimbang jembatan pertukaran ide.
“Pergeseran ini bukan semata soal minuman atau tempat nongkrong. Ia menandai perubahan cara kita memaknai ruang publik. Sebagai ruang sosial, fungsi kafe akan selalu berubah tergantung bagaimana dia digunakan dan dimaknai,” tutup Muhajir.
Comment