Fosil Homo Habilis Paling Lengkap Berusia 2 Juta Tahun Ditemukan di Kenya

Makassar, Respublica— Sebuah tim peneliti internasional berhasil mengungkap potongan penting dalam teka-teki asal-usul manusia. Mereka mendeskripsikan kerangka Homo habilis tertua dan terlengkap yang pernah ditemukan, berusia lebih dari 2 juta tahun.

Temuan ini mengisi celah besar dalam catatan fosil evolusi manusia awal. Fosil ini ditemukan di Turkana Timur, Kenya, dan hasil penelitiannya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah The Anatomical Record.

ads

Selama puluhan tahun, Homo habilis yang diketahui sebagai salah satu spesies paling awal dalam genus Homo, lebih banyak dikenal melalui fragmen tengkorak dan tulang yang terpisah-pisah. A

Akibatnya, para ilmuwan kesulitan memahami secara utuh bentuk tubuh, proporsi anggota gerak, serta cara bergeraknya. Penemuan terbaru ini mengubah situasi tersebut secara signifikan.

Spesimen yang diberi kode KNM-ER 64061 merupakan kerangka parsial yang berasal dari Anggota Burgi Atas Formasi Koobi Fora, dengan usia sekitar 2,02–2,06 juta tahun.

Secara tafonomis dan geokimia, kerangka ini berkaitan erat dengan satu set gigi rahang bawah yang hampir lengkap (KNM-ER 64060), yang secara meyakinkan diatribusikan kepada Homo habilis.

Yang membuat fosil ini luar biasa adalah tingkat kelengkapannya. Kerangka tersebut mencakup tulang selangka, fragmen tulang belikat, kedua tulang lengan atas, kedua tulang hasta, kedua tulang pengumpil, serta bagian tulang panggul dan sakrum.

Gigi rahang bawah serta elemen postkranial yang masing-masing membentuk spesimen KNM-ER 64060 dan KNM-ER 64061.

Hingga kini, belum pernah ada kerangka Homo habilis dengan elemen postkranial selengkap ini. Dari analisis anatomi, para peneliti menemukan bahwa anggota gerak atas Homo habilis memiliki ciri khas campuran.

Tulang lengan atasnya relatif ramping, dengan struktur sendi yang menyerupai spesies Homo awal lainnya. Namun, ketebalan korteks tulangnya mengingatkan pada kondisi yang lebih primitif, mirip dengan australopithecus.

Menariknya, meskipun tulang kaki tidak ditemukan, beberapa ciri pada tulang panggul menunjukkan bahwa mekanika berjalan Homo habilis lebih mendekati manusia awal daripada kera purba.

Artinya, spesies ini kemungkinan sudah beradaptasi dengan baik untuk berjalan tegak, meski masih mempertahankan ciri-ciri anatomi lama. Analisis proporsi tubuh juga memberikan gambaran baru.

Perkiraan indeks brakial menunjukkan bahwa Homo habilis memiliki lengan bawah yang relatif panjang, lebih panjang dibandingkan Homo erectus.

Berdasarkan panjang tulang lengan atas, tinggi badan individu ini diperkirakan sekitar 160 sentimeter, sementara berat badannya hanya sekitar 30–33 kilogram—lebih kecil dan lebih ringan dibandingkan Homo erectus.

Secara keseluruhan, temuan ini memperkuat pandangan bahwa Homo habilis merupakan spesies transisional. Ia telah melangkah menuju bentuk tubuh manusia, tetapi masih mempertahankan proporsi yang lebih primitif, baik dalam ukuran tubuh maupun struktur rangka.

Bagi para ilmuwan, KNM-ER 64061 bukan sekadar fosil baru. Ia adalah jendela langka menuju fase awal evolusi manusia. Yakni saat nenek moyang kita mulai meninggalkan ciri-ciri lama dan perlahan membentuk tubuh. Kelak hal itu memungkinkan penyebaran global Homo erectus dan akhirnya, manusia modern.

Informasi selengkapnya di:

Grine FE, Yang D, Hammond AS, Jungers WL, Lague MR, Mongle CS, Pearson OM, Leakey MG, Leakey LN. New partial skeleton of Homo habilis from the upper Burgi Member, Koobi Fora Formation, Ileret, Kenya. Anat Rec (Hoboken). 2026 Jan 13. doi: 10.1002/ar.70100.

Comment