Makassar, Respublica— Cheetah dikenal sebagai hewan darat tercepat di dunia. Namun, sayangnya, populasi kucing besar ini telah menyusut drastis secara global. Saat ini, cheetah telah punah secara lokal di sekitar 91 persen wilayah sebaran historisnya, termasuk di Arab Saudi.
Ironisnya, justru di wilayah yang telah lama kehilangan cheetah inilah para ilmuwan menemukan petunjuk penting tentang masa lalu—dan mungkin masa depan—spesies ini.

Penemuan tersebut terjadi secara tak terduga. Di sejumlah gua di Arab Saudi bagian utara, para peneliti menemukan tujuh cheetah yang termumifikasi secara alami, bersama 54 sisa rangka cheetah lainnya, serta tulang-tulang hewan yang diduga sebagai mangsanya.
Temuan ini kemudian menjadi dasar penelitian penting oleh Ahmed Boug dan rekan-rekannya yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment (2026), yang membuka jendela baru untuk memahami sejarah evolusi cheetah di Semenanjung Arab.
Mumi alami dari dunia Arid
Berbeda dengan mumi buatan seperti kucing-kucing yang ditemukan di situs arkeologi Mesir, cheetah-cheetah ini terawetkan secara alami. Lingkungan gua yang panas, kering, bersuhu stabil, dan berkelembapan rendah menciptakan kondisi ideal untuk proses desikasi—pengeringan alami yang menghambat aktivitas bakteri pembusuk.
Hasilnya, jaringan lunak dan struktur tubuh cheetah dapat bertahan selama ribuan tahun. Melalui penanggalan radiokarbon (^14C), para peneliti mengetahui bahwa cheetah-cheetah tersebut hidup dalam rentang waktu sekitar 4.200 tahun hingga hanya sekitar 127 tahun yang lalu. Artinya, cheetah masih berkeliaran di wilayah Arab Saudi hingga periode yang relatif dekat dengan zaman modern.
Membaca DNA dari masa lalu
Yang membuat temuan ini luar biasa bukan hanya kondisi fisiknya, namun juga informasi genetik yang masih dapat diekstraksi. Dengan teknik paleogenomik modern, para ilmuwan berhasil mengurutkan genom cheetah-cheetah purba tersebut.
Hasilnya, cheetah yang paling muda secara genetik berkerabat dekat dengan cheetah Asia (Acinonyx jubatus venaticus), subspesies yang kini hanya tersisa dalam jumlah sangat kecil di Iran.
Sementara itu, cheetah-cheetah yang lebih tua berkelompok dengan cheetah Afrika Barat Laut (A. j. hecki), salah satu subspesies paling langka di dunia saat ini.
Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah Arab Saudi di masa lalu pernah menjadi titik temu atau wilayah peralihan bagi setidaknya dua garis keturunan cheetah yang berbeda—keduanya kini telah lenyap dari kawasan tersebut.
Apakah cheetah pernah tinggal di gua?
Selama ini, cheetah modern dikenal sebagai pemburu dataran terbuka dan tidak pernah dilaporkan menggunakan gua untuk berlindung atau bersarang. Namun, temuan cheetah dari berbagai kelas umur di dalam gua-gua ini menimbulkan pertanyaan baru.
Proporsi cheetah yang jauh lebih besar dibandingkan hewan mangsa di dalam gua mengisyaratkan bahwa gua-gua tersebut mungkin digunakan sebagai lokasi beranak atau sarang.
Fenomena serupa pernah diketahui pada “cheetah Amerika” yang telah punah (Miracinonyx trumani), meski spesies ini kini dianggap lebih dekat dengan puma dan hanya mirip cheetah karena evolusi konvergen.
Meski demikian, para peneliti juga membuka kemungkinan bahwa sebagian cheetah masuk ke gua secara tidak sengaja. Mungkin mereka terperangkap di sinkhole atau lereng curam yang sulit diakses kembali.
Gua sebagai arsip keanekaragaman hayati
Arab Saudi memiliki jaringan gua dan sinkhole yang luas, terutama di wilayah utara yang berbatasan dengan Irak. Dalam konteks ekologi purba, gua berfungsi sebagai “arsip alam”, tempat sisa-sisa fauna terakumulasi dan terawetkan selama ribuan tahun.
Eksplorasi sebelumnya di kawasan ini telah menemukan tulang serigala dan hyena belang, namun keberadaan cheetah baru terungkap melalui survei terbaru ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih banyak informasi tentang sejarah fauna kawasan arid yang belum terungkap.
Rewilding berbasis bukti
Penelitian ini menjadi laporan pertama tentang kucing besar yang termumifikasi secara alami dan memungkinkan analisis DNA purba. Nilai terbesarnya terletak pada implikasi konservasi.
Kepunahan cheetah dari Semenanjung Arab terjadi jauh sebelum ilmu konservasi modern berkembang. Akibatnya, upaya reintroduksi atau rewilding selama ini kekurangan data dasar: cheetah jenis apa yang dahulu hidup di sana? Dari mana asal genetiknya?
Dengan menggabungkan data paleontologi dan genomik, penelitian ini berhasil merekonstruksi “garis dasar yang hilang” tentang distribusi, keragaman genetik, dan hubungan ekologis cheetah di masa lalu.
Informasi ini menjadi kunci untuk menentukan sumber genetik yang paling tepat dan realistis bagi upaya rewilding di masa depan. Di wilayah seperti Semenanjung Arab—yang sejarah ekologinya terhapus oleh perubahan iklim dan tekanan manusia selama ribuan tahun—jejak DNA purba dari gua-gua sunyi justru menjadi penunjuk arah.
Dari sisa-sisa tubuh cheetah yang membisu, sains menemukan suara masa lalu yang kini dapat membantu merancang masa depan konservasi yang lebih cermat dan berbasis bukti.
Baca selengkapnya di:
Boug, A.A., Mir, Z.R., Jbour, S. et al. Mummified cave cheetahs inform rewilding actions in Saudi Arabia. Commun Earth Environ 7, 24 (2026). https://doi.org/10.1038/s43247-025-03021-6
Comment