Makassar, Respublica— Selama bertahun-tahun, para ilmuwan berdebat, seberapa besar peran gen dalam menentukan umur panjang manusia? Apakah panjang-pendeknya hidup lebih ditentukan oleh DNA yang kita warisi, atau oleh lingkungan, gaya hidup, dan nasib?
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Science (2026) oleh Ben Shenhar dan timnya memberikan jawaban yang cukup optimistis bagi riset penuaan.

Setelah mengoreksi faktor-faktor yang selama ini mengaburkan data, mereka menemukan bahwa sekitar 50–55% variasi umur panjang manusia ternyata diwariskan secara genetik. Angka ini jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, yang hanya berkisar 6 hingga 25 persen.
Kematian tak selalu soal penuaan
Mengapa selama ini peran gen terlihat kecil? Jawabannya terletak pada satu hal yang sering luput: penyebab kematian tidak selalu berkaitan dengan proses penuaan.
Dalam sejarah manusia, banyak orang meninggal bukan karena tubuhnya “menua”, tapi diakibatkan oleh faktor eksternal. Seperti perang, kecelakaan, wabah penyakit, atau kondisi sanitasi yang buruk. Faktor-faktor ini disebut mortalitas ekstrinsik.
“Jika seseorang meninggal karena infeksi atau kecelakaan di usia muda, gen umur panjangnya tidak pernah punya kesempatan untuk ‘bekerja’,” kira-kira begitulah masalahnya.
Studi-studi sebelumnya sering mencampuradukkan kematian ekstrinsik ini dengan kematian intrinsik—yakni kematian yang benar-benar berkaitan dengan penuaan biologis, mutasi genetik, dan penyakit degeneratif.
Membongkar data kembar lebih dari satu abad
Untuk mengatasi masalah tersebut, Shenhar dan koleganya menganalisis data tiga kohort kembar Skandinavia—dari Denmark dan Swedia—yang lahir pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Periode ini penting karena tingkat kematian akibat faktor eksternal masih sangat tinggi. Yang menarik, mereka juga menggunakan data kembar yang dibesarkan terpisah, termasuk dari studi SATSA (Swedish Adoption/Twin Study of Aging).
Dengan pendekatan matematis dan model mortalitas khusus, para peneliti “memisahkan” kematian akibat faktor eksternal dari kematian akibat penuaan itu sendiri, tanpa harus memiliki data rinci penyebab kematian.
Hasilnya konsisten. Penelitian tersebut menemukan, mortalitas ekstrinsik secara sistematis membuat kontribusi genetik tampak jauh lebih kecil dari kenyataannya.
Setelah dikoreksi, gen menyumbang setengah umur panjang
Ketika pengaruh kematian ekstrinsik dikurangi, estimasi heritabilitas umur panjang melonjak drastis—dari sekitar 20–25% menjadi sekitar 55%. Angka ini sejalan dengan Heritabilitas umur pada tikus.
Ia juga sejalan dengan eritabilitas banyak sifat kompleks manusia lainnya, seperti tinggi badan, tekanan darah, atau kapasitas fisiologis, yang rata-rata memang berada di kisaran 50%. Artinya, umur panjang bukan pengecualian biologis. Ia mengikuti pola umum sifat kompleks manusia.
Gen penting, tapi bukan segalanya
Meski temuan ini menegaskan peran besar genetika, para peneliti menekankan satu hal penting: sekitar setengah variasi umur panjang tetap tidak ditentukan oleh gen.
Sisa faktor tersebut kemungkinan berasal dari:
- Lingkungan dan gaya hidup (pola makan, aktivitas fisik, stres),
- Kondisi sosial dan ekonomi,
- Akses layanan kesehatan,
- Proses biologis acak dalam tubuh,
- Efek epigenetik dan interaksi gen yang kompleks.
Dengan kata lain, gen memberi “modal awal”, tetapi bagaimana modal itu berkembang tetap sangat bergantung pada konteks hidup seseorang.
Mengubah cara kita memahami penuaan
Studi ini juga membawa pesan metodologis penting. Bahwa reritabilitas bukan angka mutlak. Ia selalu bergantung pada populasi, lingkungan, dan periode waktu tertentu.
Itulah sebabnya penelitian yang mencakup ratusan tahun sejarah, dengan kondisi hidup yang sangat berbeda, cenderung menghasilkan estimasi genetik yang rendah.
Dengan membatasi analisis pada populasi yang lebih homogen dan mengoreksi kematian ekstrinsik, gambaran kontribusi genetik menjadi jauh lebih jernih.
Mengapa temuan ini penting?
Jika umur panjang memang sangat dipengaruhi gen, maka mengidentifikasi varian genetik yang terlibat dapat membuka jalan baru untuk:
- Memahami mekanisme dasar penuaan manusia,
- Mengembangkan strategi pencegahan penyakit terkait usia,
- Dan merancang kebijakan kesehatan yang lebih berbasis biologi penuaan, bukan sekadar usia kronologis.
Singkatnya, studi ini menggeser cara kita memandang umur panjang: bukan semata hasil nasib atau gaya hidup, tetapi juga warisan biologis yang nyata—dan kini lebih terukur.
Sumber artikel
Ben Shenhar et al., Heritability of intrinsic human life span is about 50% when confounding factors are addressed.Science391,504-510(2026).DOI:10.1126/science.adz1187
Comment