BPS: Inflasi Pangan Lutim Tembus 6,81 Persen, Ayam dan Ikan Jadi Pemicu

Luwu Timur, Respublica— Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi di Kabupaten Luwu Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 2 Maret 2026, kelompok ini mengalami inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 6,81 persen pada Februari 2026.

Kenaikan tersebut ditandai dengan lonjakan indeks harga dari 112,03 pada Februari 2025 menjadi 119,66 pada Februari 2026. Seluruh subkelompok di dalamnya tercatat mengalami inflasi, dengan rincian subkelompok makanan sebesar 7,16 persen, minuman non-alkohol 7,09 persen, serta rokok dan tembakau 5,35 persen.

ads

Secara keseluruhan, kelompok ini memberikan andil inflasi tahunan sebesar 2,85 persen terhadap kondisi ekonomi daerah. Sejumlah komoditas tercatat menjadi pendorong utama kenaikan harga, di antaranya daging ayam ras yang menyumbang 0,35 persen, diikuti ikan layang sebesar 0,30 persen, ikan bandeng dan ikan cakalang masing-masing 0,29 persen.

Selain itu, kenaikan harga juga dipicu oleh komoditas seperti sigaret kretek mesin (0,22 persen), bawang merah dan udang basah masing-masing 0,18 persen, serta telur ayam ras dan ikan kembung yang masing-masing menyumbang 0,16 persen. Komoditas lain seperti kopi bubuk, buah-buahan, hingga minyak goreng turut memberikan kontribusi terhadap inflasi.

Meski demikian, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi atau mengalami penurunan harga secara tahunan. Di antaranya ikan teri yang menyumbang deflasi sebesar 0,10 persen, beras 0,08 persen, serta bawang putih, cabai, hingga tempe yang masing-masing memberikan kontribusi deflasi dalam skala kecil.

Sementara itu, secara bulanan (month-to-month/m-to-m), kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi sebesar 0,38 persen pada Februari 2026. Komoditas seperti tomat menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,14 persen, disusul cabai rawit 0,11 persen dan ikan cakalang 0,07 persen.

Kenaikan harga juga tercatat pada beras, telur ayam ras, serta sejumlah sayuran seperti terong dan wortel, meski dengan kontribusi yang relatif kecil. Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami penurunan harga secara bulanan, seperti ikan mujair yang memberikan andil deflasi 0,06 persen, bawang merah 0,05 persen, serta ikan layang 0,04 persen.

Data ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga pangan, khususnya komoditas perikanan dan protein hewani, masih menjadi faktor dominan dalam membentuk inflasi di Luwu Timur. Kondisi ini sekaligus menegaskan pentingnya stabilisasi pasokan dan distribusi bahan pangan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Comment