Apa Arti Kemanusiaan di Tengah Perang?

Malam sering memberi ruang bagi manusia untuk memikirkan hal-hal yang tidak sempat dipertanyakan pada siang hari. Pada siang hari hidup bergerak cepat. Orang bekerja. Berita datang silih berganti. Peristiwa terjadi begitu saja. Tetapi ketika malam tiba dan layar-layar mulai redup, ada pertanyaan yang kadang muncul perlahan. Apa arti kemanusiaan di tengah dunia yang terus berperang?

Pertanyaan ini tidak sekadar pertanyaan moral. Ia lebih sebagai pertanyaan yang menyentuh inti keberadaan manusia. Setiap kali perang terjadi, kita selalu melihat dua hal yang bergerak bersamaan. Di satu sisi kita melihat kehancuran yang luar biasa. Kota kian runtuh. Rumah menjadi debu. Tubuh manusia menjadi sekadar statistik.

ads

Tetapi di sisi lain ada sesuatu yang tetap muncul dengan cara yang aneh. Di tengah kekacauan itu manusia masih mencoba menolong manusia yang lain. Seseorang menggendong anak yang bukan anaknya. Seorang dokter tetap bertahan di rumah sakit yang hampir hancur. Atau seorang ibu yang tetap menyanyikan lagu pengantar tidur meskipun suara bom tidak jauh dari rumahnya.

Seolah di tengah kehancuran itu ada sesuatu yang menolak untuk mati. Sesuatu yang membuat manusia tetap ingin mempertahankan hidup manusia lain. Itulah yang sering kita sebut sebagai kemanusiaan. Tetapi kata itu sendiri tidak selalu mudah untuk dipahami. Kemanusiaan sering kali diucapkan dalam pidato. Ia juga sering menjadi slogan politik. Ia bahkan muncul dalam deklarasi internasional. Tetapi ketika perang benar-benar terjadi, maka kata itu tiba-tiba menjadi rapuh.

Sejarah manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar lepas dari perang. Dari zaman kuno hingga dunia modern, perang selalu hadir dalam berbagai bentuk. Kekuasaan, wilayah, ideologi, identitas, bahkan agama. Semua pernah menjadi alasan bagi manusia untuk saling menghancurkan. Namun demikian, setiap zaman juga selalu melahirkan orang-orang yang mencoba memahami apa sebenarnya yang terjadi pada manusia ketika ia berperang melawan manusia lain.

Salah satu permenungan yang sering dikutip muncul dari seorang filsuf yang hidup setelah bencana besar abad kedua puluh. Hannah Arendt (1906-1975) mencoba memahami bagaimana kekerasan besar dapat terjadi di dunia modern. Ia tidak melihat kekejaman itu hanya sebagai ledakan emosi, tetapi ia melihatnya sebagai sesuatu yang lebih sunyi.

Dalam analisisnya tentang kekuasaan totalitarian, ia menemukan bahwa kekerasan besar sering kali terjadi ketika manusia berhenti berpikir tentang manusia lain sebagai manusia. Di situlah ia memperkenalkan gagasan yang kemudian dikenal sebagai banalitas kejahatan.

Kejahatan tidak selalu muncul dari monster, tetapi ia bisa muncul dari manusia biasa yang tidak lagi mempertanyakan tindakannya. Ketika seseorang berhenti melihat wajah manusia di hadapannya, maka kekerasan bisa menjadi hal yang terasa biasa.

Ketika kita memikirkan perang dengan cara ini, maka pertanyaan tentang kemanusiaan menjadi semakin mendalam. Perang tidak hanya tentang senjata atau strategi militer, tetapi ia juga tentang bagaimana manusia memandang manusia lain. Apakah ia masih melihat orang lain sebagai sesama manusia atau hanya sebagai musuh yang harus dihapuskan.

Pada titik ini filsafat sering mencoba kembali ke pertanyaan yang lebih dasar. Apa sebenarnya yang membuat manusia menjadi manusia? Beberapa pemikir melihat kemanusiaan sebagai kemampuan untuk berpikir. Yang lain melihatnya sebagai kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain. Ada juga yang melihatnya sebagai kemampuan untuk memilih tindakan moral bahkan ketika situasi tidak mendukung.

Seorang filsuf yang banyak berbicara tentang martabat manusia adalah Immanuel Kant (1724-1804). Dalam refleksinya tentang moralitas, Kant mengatakan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai alat. Setiap manusia harus dipandang sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Sehingga ketika manusia benar-benar melihat manusia lain sebagai tujuan, maka penghancuran manusia lain akan selalu terasa sebagai sesuatu yang melanggar sesuatu yang sangat mendasar dalam diri kita.

Namun demikian sejarah menunjukkan bahwa dalam perang gagasan seperti ini sering kali runtuh. Ketika perang dimulai, manusia dengan mudah membagi dunia menjadi dua kubu. Kita dan mereka. Teman dan musuh. Dalam pembagian itu sering kali terjadi sesuatu yang aneh. Manusia yang berada di sisi lain tiba-tiba kehilangan wajahnya. Ia tidak lagi dipandang sebagai individu dengan kehidupan yang unik, tetapi menjadi simbol dari kelompok yang harus dikalahkan.

Di situlah dehumanisasi terjadi. Manusia menjadi kehilangan kemanusiaannya bukan karena ia berubah menjadi makhluk lain. Ia kehilangan kemanusiaannya karena cara orang lain memandangnya berubah. Ia tidak lagi dilihat sebagai manusia yang memiliki kehidupan, tetapi ia kemudian dilihat sebagai ancaman.

Fenomena ini telah lama diamati oleh para pemikir tentang perang. Bahkan dalam refleksi tentang kekerasan politik, Frantz Fanon (1925-1961) menunjukkan bagaimana kolonialisme menciptakan dunia yang terbagi secara radikal antara manusia yang dianggap penuh dan manusia yang dianggap kurang manusia. Pembagian semacam itu membuat kekerasan terasa lebih mudah dilakukan.

Tetapi ketika perang begitu sering menghapus kemanusiaan, mengapa di tengah perang kita masih melihat tindakan-tindakan yang sangat manusiawi? Pertanyaan ini membawa kita pada dimensi lain dari pengalaman manusia. Bahwa di tengah kehancuran, manusia sering kali menemukan sesuatu yang tidak muncul dalam kehidupan yang tenang. Mereka menemukan bahwa kehidupan manusia lain menjadi sangat berharga.

Seorang psikiater yang pernah mengalami pengalaman ekstrem pernah menulis tentang hal ini. Viktor Frankl (1905-1997) menyaksikan bagaimana manusia tetap mencari makna bahkan ketika dalam situasi yang paling gelap. Ia juga melihat bahwa manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh kondisi eksternal. Bahkan dalam situasi yang sangat keras, manusia masih memiliki kebebasan batin untuk menentukan sikapnya.

Dalam refleksinya tentang penderitaan, ia mengatakan bahwa manusia selalu memiliki kemampuan untuk menemukan makna dalam situasi yang tampaknya tidak memiliki makna. Dalam konteks perang, gagasan ini membuka kemungkinan bahwa kemanusiaan tidak sepenuhnya hancur oleh kekerasan. Ia mungkin tersembunyi tetapi tidak sepenuhnya hilang.

Kita sering melihat hal itu dalam cerita-cerita remeh dari medan perang. Misalnya seorang tentara yang membagi air dengan warga sipil. Atau seorang dokter yang tetap merawat pasien dari kedua kubu. Cerita-cerita seperti ini memang jarang menjadi berita utama.

Media lebih sering menampilkan ledakan dan strategi militer. Tetapi ketika kita melihat lebih dekat, perang juga melahirkan momen-momen kecil yang mengingatkan kita bahwa manusia masih memiliki kemampuan untuk melihat manusia lain sebagai manusia.

Momen-momen seperti itu mungkin tampak remeh dibandingkan dengan skala kehancuran yang terjadi. Tetapi secara filosofis ia sebenarnya memiliki makna yang besar. Ia menunjukkan bahwa kemanusiaan bukan hanya konsep abstrak tetapi ia adalah sesuatu yang hidup dalam tindakan-tindakan sederhana.

Dalam tradisi spiritual banyak refleksi yang melihat kemanusiaan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kesadaran tentang keterhubungan manusia. Dalam berbagai ajaran spiritual manusia sering diingatkan bahwa kehidupan manusia saling terkait. Bahkan penderitaan satu manusia tidak sepenuhnya terpisah dari kehidupan manusia lainnya.

Dalam perspektif ini perang sering kali dipahami sebagai kegagalan manusia untuk melihat keterhubungan itu. Ketika manusia melihat dirinya sebagai pusat dunia, ia dengan mudah mengorbankan kehidupan orang lain demi tujuan yang dianggap lebih besar.

Tetapi refleksi spiritual juga sering mengatakan bahwa di balik semua konflik itu manusia tetap memiliki potensi untuk kembali pada kesadaran tentang kemanusiaannya. Potensi itu muncul dalam empati. Dalam kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain.

Empati sering dianggap sebagai salah satu inti dari kemanusiaan. Ia membuat manusia mampu membayangkan kehidupan orang lain. Ia juga membuka kemungkinan bagi solidaritas. Namun demikian empati juga memiliki batas. Dalam situasi perang empati sering kali dipersempit hanya pada kelompok sendiri. Kita merasa sedih ketika orang dari kelompok kita menderita. Tetapi kita tidak selalu merasakan hal yang sama ketika penderitaan terjadi pada kelompok lain.

Di sinilah tantangan kemanusiaan menjadi sangat besar. Apakah manusia mampu memperluas empatinya melampaui batas-batas identitas?

Beberapa pemikir etika mencoba menjawab pertanyaan ini dengan mengembangkan gagasan tentang tanggung jawab terhadap orang lain. Emmanuel Levinas (1906-1995) melihat bahwa hubungan dengan orang lain adalah dasar dari etika. Ia juga mengatakan bahwa wajah orang lain memanggil kita untuk bertanggung jawab. Sehingga ketika kita benar-benar melihat wajah manusia lain, maka kita tidak bisa sepenuhnya mengabaikan penderitaannya.

Dalam konteks perang, gagasan ini terasa sangat menantang. Perang sering kali dimulai dengan menutupi wajah manusia lain. Ia menggantinya dengan label, musuh, target dan ancaman. Ketika wajah manusia lain benar-benar terlihat, maka kekerasan akan menjadi jauh lebih sulit dilakukan.

Di tengah refleksi-refleksi seperti ini, pertanyaan tentang kemanusiaan sebenarnya kembali pada hal yang sangat sederhana. Apakah manusia masih mampu melihat manusia lain sebagai manusia? Mungkin pertanyaan seperti ini terlalu sederhana untuk dunia yang penuh dengan strategi geopolitik dan kepentingan negara. Tetapi jika kita melihat sejarah, banyak juga tragedi besar yang justru dimulai ketika pertanyaan sederhana seperti ini dilupakan.

Kemanusiaan mungkin tidak selalu mampu menghentikan perang. Tetapi ia dapat mengubah cara manusia menjalani perang. Ia dapat mendorong manusia untuk tetap mempertahankan batas-batas tertentu dalam kekerasan.

Dalam hukum humaniter internasional misalnya, ada upaya untuk menetapkan aturan tentang perlindungan warga sipil dan tawanan perang. Aturan-aturan ini lahir dari kesadaran bahwa bahkan dalam konflik bersenjata, selalu ada nilai-nilai yang tidak boleh sepenuhnya dihancurkan.

Namun demikian aturan saja tidak cukup. Kemanusiaan tidak hanya hidup dalam dokumen hukum. Ia harus hidup dalam kesadaran manusia. Dalam kemampuan untuk berhenti sejenak lalu melihat bahwa di balik semua identitas politik ada kehidupan manusia yang rapuh.

Sehingga ketika kita kembali pada pertanyaan awal tentang arti kemanusiaan di tengah perang, mungkin jawabannya tidak terletak pada definisi yang sempurna. Ia akan lebih dekat pada sikap tertentu terhadap kehidupan manusia.

Yaitu kemanusiaan adalah kemampuan untuk tetap melihat manusia di balik label. Ia lebih sebagai keberanian untuk mengakui bahwa bahkan musuh memiliki kehidupan yang berharga. Mungkin kemanusiaan juga adalah kesadaran bahwa setiap perang selalu meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada kemenangan yang dirayakan.

*Penulis adalah Pendiri dan Koordinator Rumah Kajian Filsafat

Comment