BPS: Harga Komoditas Naik, Inflasi Lutim Februari 2026 Capai 5,86 Persen

Luwu Timur, Respublica— Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Luwu Timur mencatat perkembangan harga berbagai komoditas pada Februari 2026 secara umum mengalami kenaikan. Kondisi tersebut tercermin dari inflasi tahunan (year on year/y-on-y) yang mencapai 5,86 persen.

Berdasarkan data BPS yang terbit pada 2 Maret 2026, Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 105,22 pada Februari 2025 menjadi 111,39 pada Februari 2026. Sementara itu, inflasi bulanan (month to month/m-to-m) tercatat sebesar 0,63 persen dan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) sebesar 0,98 persen.

ads

Kenaikan inflasi tahunan tersebut dipicu oleh meningkatnya harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan sebesar 6,81 persen.

Disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencatat lonjakan tertinggi hingga 17,93 persen. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga naik signifikan sebesar 10,96 persen.

Kenaikan juga terjadi pada kelompok kesehatan sebesar 5,80 persen, perlengkapan rumah tangga 1,27 persen, pendidikan 1,35 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,35 persen. Sementara kelompok transportasi justru mengalami deflasi tipis sebesar 0,06 persen.

Sejumlah komoditas tercatat menjadi penyumbang utama inflasi tahunan. Tarif listrik menjadi kontributor terbesar dengan andil 1,85 persen. Diikuti daging ayam ras sebesar 0,35 persen, ikan layang 0,30 persen, ikan bandeng dan ikan cakalang masing-masing 0,29 persen, serta sigaret kretek mesin sebesar 0,22 persen.

Komoditas lain seperti bawang merah, udang basah, emas perhiasan, telur ayam ras, hingga kopi bubuk juga turut memberikan tekanan inflasi. Kenaikan harga bahan kebutuhan sehari-hari tersebut memperlihatkan tekanan yang cukup luas di berbagai sektor konsumsi masyarakat.

Untuk inflasi bulanan Februari 2026, komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan harga antara lain tomat dengan andil 0,14 persen dan cabai rawit sebesar 0,11 persen.

Selain itu, nasi dengan lauk, bahan bakar rumah tangga, ikan cakalang, hingga beras juga menjadi faktor pendorong inflasi dalam periode tersebut.

Dari sisi andil kelompok pengeluaran terhadap inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi terbesar sebesar 2,85 persen.

Disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,07 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,58 persen.

Kelompok lainnya seperti pakaian, kesehatan, pendidikan, hingga restoran turut menyumbang inflasi meski dengan porsi yang lebih kecil. Adapun kelompok transportasi menjadi satu-satunya yang memberikan andil deflasi, meski sangat tipis yakni sebesar 0,01 persen.

Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi di Luwu Timur pada Februari 2026 didorong oleh kenaikan harga kebutuhan pokok dan energi, yang berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.

Comment