Makassar, Respublica— Anggota DPRD Kota Makassar Irwan Djafar meminta warga, khususnya pengurus RT dan RW di Kelurahan Banta-Bantaeng, tidak sungkan menyampaikan berbagai persoalan yang terjadi di lingkungannya.
Hal itu disampaikan Irwan saat menggelar Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Makassar serta Pemerintah Kelurahan Banta-Bantaeng di Hotel Grand Town Makassar, Rabu (16/9/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Kesbangpol Makassar Fathur Rahim, Ashari Fakhsirie Radjamilo, dan Lurah Banta-Bantaeng Anselmus Watratan sebagai pembicara.
Irwan mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi langsung dengan masyarakat dan perangkat kewilayahan. Menurutnya, aspirasi warga tidak akan dapat diperjuangkan secara maksimal apabila persoalan di lapangan tidak disampaikan kepada wakil rakyat.
Ia menyebut, pemanggilan RT dan RW dalam agenda serupa telah dilakukan secara bergiliran hingga empat kali. Langkah tersebut dilakukan agar komunikasi antara masyarakat dan DPRD dapat terus terbangun.
“Saya punya pengalaman sejak ada RW baru banyak kebutuhan yang mungkin tidak ada komunikasi sehingga permintaan dipantul-pantul. Ada kebutuhan warga di Banta-Bantaeng, lampu mati. Lewat orang lain, padahal bisa langsung telepon saya,” ujarnya.
Irwan juga meminta masyarakat tidak lagi membawa suasana politik setelah pelaksanaan pemilu ke dalam hubungan antara warga dan anggota DPRD. Ia menegaskan, setelah proses pemilihan selesai, anggota dewan memiliki kewajiban memperjuangkan kepentingan masyarakat di daerah pemilihannya.
“Jangan miki malu-malu, pemilihan kemarin sudah selesai. Tidak ada urusannya. Kita disumpah siap memperjuangkan aspirasi dapil yang diwakili, jadi akan jadi tanggung jawab sosial saya,” tegasnya.
Karena itu, Irwan membuka ruang komunikasi langsung bagi masyarakat yang ingin menyampaikan persoalan di wilayahnya. Ia mengatakan banyak program pemerintah yang dapat diarahkan untuk membantu masyarakat, tetapi hal tersebut membutuhkan informasi dan permintaan dari warga di lapangan.
Menurut Irwan, pertemuan tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk menyampaikan aspirasi, tetapi juga menjadi ruang memperkuat hubungan antara wakil rakyat, pemerintah kelurahan, RT-RW, dan masyarakat.
Dalam forum tersebut, persoalan persampahan juga menjadi salah satu hal yang dibicarakan. Irwan meminta persoalan sampah di tingkat lingkungan dapat dipetakan secara jelas sehingga penanganannya bisa dilakukan sesuai kondisi di lapangan.
Sementara itu, Ashari Fakhsirie Radjamilo menyoroti pentingnya penguatan wawasan kebangsaan masyarakat di tengah maraknya informasi yang tidak benar atau hoaks.
Ia mencontohkan persoalan sampah yang pernah ramai di media sosial. Menurutnya, informasi yang beredar tidak selalu menggambarkan maksud sebenarnya dari kebijakan atau penataan yang dilakukan pemerintah.
“Saat ini penurunan wawasan kebangsaan, berita hoaks banyak contoh. Sampah pernah viral membuang sampah tidak pada tempat, padahal mau ditata, dipilah mana sampah diangkut dan tidak. Karena adanya berita hoaks tidak seperti itu maksudnya,” ujarnya.
Radjamilo juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar. Menurutnya, sejumlah persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui komunikasi justru berpotensi membesar ketika dipengaruhi informasi provokatif.
Ia berharap tensi sosial dapat ditekan melalui komunikasi dan penyampaian informasi yang benar. Dalam kondisi tersebut, Radjamilo menilai anggota DPRD memiliki posisi penting sebagai penghubung antara masyarakat dan pemerintah.
Lurah Banta-Bantaeng Anselmus Watratan menyambut baik forum tersebut sebagai ruang bagi pemerintah kelurahan dan RT-RW untuk menyampaikan kebutuhan masyarakat kepada DPRD Kota Makassar.
Ia berharap aspirasi yang disampaikan dalam pertemuan itu dapat diteruskan dan ditindaklanjuti hingga tingkat DPRD.
“Momen menyampaikan aspirasi, kami besar harapan kami diaspirasikan RT-RW kami dapat ditindaklanjuti sampai ke DPRD Kota dan dapat kami sampaikan juga,” kata Anselmus.
Ia juga menjelaskan bahwa masyarakat Banta-Bantaeng selama ini telah memanfaatkan layanan LONTARA+ untuk menyampaikan berbagai pengaduan. Menurutnya, sebagian besar laporan yang masuk mendapatkan tindak lanjut, meskipun waktu respons terhadap laporan terkadang berbeda-beda.
Selain persoalan pelayanan dan persampahan, Anselmus meminta perhatian terhadap potensi kebakaran yang meningkat selama musim kemarau. Ia mengatakan kejadian kebakaran telah beberapa kali terjadi di wilayahnya dalam beberapa bulan terakhir.
“Saya menyampaikan lagi bahaya kebakaran, sudah berbulan-bulan musim kemarau, sudah berapa kejadian Kelurahan Banta-Bantaeng kebakaran. Saya kira ini jadi perhatian, mengingatkan warga masyarakat melakukan pencegahan di lingkungan masing-masing,” pungkasnya.
Comment