Kabut Asap Belum Hilang, DPRD Makassar Usul WFH Jika Kondisi Berlarut

Makassar, Respublica— Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan, termasuk Kota Makassar, memicu kekhawatiran terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Selain dugaan kiriman asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan dan Papua Selatan, keberadaan titik api di wilayah Sulawesi Selatan juga perlu ditelusuri untuk memastikan sumber pencemaran udara.

ads

Sekretaris Komisi D DPRD Kota Makassar, dr Fahrizal Arrahman Husain, meminta pemerintah dan instansi terkait segera mengidentifikasi sumber asap serta mengambil langkah penanganan.

Menurutnya, imbauan penggunaan masker yang telah disampaikan pemerintah provinsi merupakan langkah awal untuk mengurangi paparan partikel pencemar, tetapi perlu diikuti tindakan yang menyasar sumber masalah.

“Untuk imbauannya sudah sangat benar untuk penggunaan masker. Tetapi yang saya harapkan semestinya, pemerintah harus segera menentukan di mana semestinya titik lokasi untuk daerah Sulawesi Selatan ini yang menyebabkan udara seperti ini,” ujar Fahrizal, Rabu (14/10/2026).

Ia menjelaskan, masker dapat membantu mengurangi partikel pencemar yang terhirup. Namun, masyarakat tetap berpotensi terpapar udara yang tercemar selama kabut asap masih menyelimuti wilayah permukiman dan tempat beraktivitas.

Fahrizal menilai, penelusuran sumber asap penting dilakukan agar pemerintah dapat menentukan langkah penanganan secara tepat. Ia meminta pemerintah memastikan apakah kabut asap yang menyelimuti Makassar berasal dari kebakaran di luar daerah atau terdapat titik api di wilayah Sulawesi Selatan sendiri.

“Apakah memang dari Kalimantan, dari arah Papua, atau memang ada titik-titik kebakaran di Sulawesi Selatan ini, Kak, atau khususnya di Makassar yang menyebabkan udara seperti ini?” tuturnya.

Ia mengaku memperoleh informasi mengenai adanya titik api di Sulawesi Selatan, termasuk di Makassar, berdasarkan informasi yang dibacanya pada pagi hari. Meski demikian, informasi tersebut menurutnya perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan verifikasi oleh instansi berwenang.

“Karena per hari ini atau tadi malam ini saya dapat info ternyata ada memang juga titik-titik api, iya, di Sulawesi Selatan. Dan di Makassar utamanya juga ada, ini saya pagi ini saya baca, ada titik api di Makassar,” ungkapnya.

Fahrizal mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) segera berkoordinasi untuk mengidentifikasi titik api dan menyusun langkah penanganan. Jika ditemukan kebakaran, ia berharap pemadaman dapat segera dilakukan agar sumber asap tidak terus memperburuk kualitas udara.

Menurutnya, penanganan kabut asap membutuhkan respons yang cepat dan terukur. Selain menyampaikan imbauan kepada masyarakat, pemerintah perlu memastikan sumber pencemaran dapat ditangani sehingga paparan asap tidak berlangsung berkepanjangan.

Ia juga menyoroti kemungkinan perlunya kebijakan tambahan apabila kondisi udara buruk terus berlanjut. Salah satu opsi yang menurutnya dapat dipertimbangkan ialah imbauan bekerja dari rumah atau work from home (WFH), terutama jika paparan asap berlangsung lama dan mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Fahrizal mengatakan, kebijakan tersebut tidak harus langsung diterapkan, tetapi dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah apabila situasi tidak kunjung membaik.

“Kalau ini berlarut ke lebih dari seminggu kayaknya dan sudah ada dampak yang peningkatan peningkatan pasien batuk di puskesmas ataupun di rumah sakit, ya mungkin sebaiknya pemerintah memikirkan untuk mengeluarkan lagi imbauan WFH seperti kemarin pada saat langkah BBM, Kak. Mungkin seperti itu,” jelasnya.

Fahrizal berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada imbauan pencegahan, tetapi juga bergerak memastikan sumber kabut asap teridentifikasi dan tertangani. Langkah tersebut dinilai penting untuk melindungi kesehatan masyarakat sekaligus mencegah kondisi kualitas udara buruk berlangsung lebih lama.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap memperhatikan kondisi udara sebelum beraktivitas di luar ruangan serta mengikuti imbauan resmi dari instansi terkait selama kabut asap masih terjadi.

Comment