Makassar, Respublica— Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengaku akan mengambil langkah yang sama dengan Nadiem Makarim terkait kebijakan pengadaan laptop berbasis Chromebook.
Jika dirinya pernah diamanahkan sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek). Pernyataan tersebut disampaikan Ahok dalam sebuah siniar yang tayang di kanal YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo.

Dalam perbincangan itu, Ahok menanggapi kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook yang kini menjerat Nadiem Makarim.
Ahok menegaskan bahwa dirinya tidak ingin terseret dalam persoalan hukum yang kini menimpa Nadiem. Namun secara kebijakan, ia mengaku akan mengambil langkah serupa apabila berada pada posisi yang sama.
“Misalnya waktu itu Jokowi gua disuruh jadi Menteri Pendidikan. Gua pikir, kalau yang gua denger di media ya, gua pun akan beli Chromebook,” ujar Ahok.
Ahok menilai, narasi yang berkembang di ruang publik seolah menyudutkan Nadiem karena dianggap memaksakan kebijakan pembelian Chromebook sebagai sebuah kesalahan kebijakan.
Ahok kemudian membagikan pengalamannya saat menjabat sebagai bupati dan gubernur. Menurutnya, proses sertifikasi guru secara konvensional kerap menimbulkan biaya besar dan berpotensi rawan penyimpangan.
“Lu bayangin ya, ada ratusan, ribuan guru, mau ujian sertifikasi. Lu sewa tempatnya udah berapa duit? Bisa 2-3 hari makan, konsumsi, kalau pake hotel supaya gak pulang, itu udah berapa duit? Belum lagi kita gak tau nih, dia KKN apa gak tuh sertifikat,” katanya.
Ia menilai sistem sertifikasi berbasis teknologi seperti Google Education justru menawarkan transparansi dan efisiensi.
“Tiba-tiba ada sistem yang dikeluarkan, yang ada Google Education, kita sebut nama Google lah. Ada sertifikasi Google Internasional. Lu jam berapa ngetik, kita sebagai kepala sekolah atau pejabat, Bupati apapun, kita bisa tau nih, kapan dia belajar itu guru. Sertifikatnya lu lulus apa gak?” ucap Ahok.
Selain itu, Ahok juga menyoroti efisiensi biaya dan keberlanjutan sistem operasi Chromebook dibandingkan laptop konvensional.
“Tiba-tiba keluar namanya Chromebook, sekali bayar beli satu alat, gak bayar lagi seumur hidup. Terus sertifikasi Google Education 4 tahap. 10 dolar. Gua bisa kontrol guru, gua bisa kontrol murid, gak bisa buka portal, gak bisa jual online, gua bisa kasih pesan ke mereka, dan barang relatif murah,” jelasnya.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Ahok menegaskan sikap pribadinya jika dipercaya memimpin sektor pendidikan nasional. “Jadi kalo gua pribadi nih, kalo gua jadi Menteri Pendidikan, gua pasti akan pake sistem ini,” pungkas Ahok.
Diketahui, Nadiem Makarim telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook di lingkungan Kemendikbudristek.
Selain dia ada tiga tersangka lain yakni eks konsultan teknologi Kemendikbudristek Ibrahim Arief, eks Direktur Sekolah Menengah Pertama Kemendikbudristek Mulyatsyah, serta eks Direktur Sekolah Dasar Kemendikbudristek Sri Wahyuningsih. Jaksa penuntut umum mendakwa keempat terdakwa telah merugikan keuangan negara hingga Rp2,1 triliun.
Dalam dakwaannya, jaksa menilai pengadaan Chromebook atau CDM tersebut tidak diperlukan dan tidak dibutuhkan dalam program Digitalisasi Pendidikan Kemendikbudristek saat itu. Selain itu, proses pengadaan juga dinilai bermasalah karena tidak didahului kajian yang memadai.
Comment