Mengapa AI Generatif Belum Bisa Menandingi Kreativitas Manusia?

Sumber gambar: Pixabay

Makassar, Respublica— Beberapa tahun terakhir, AI generatif seperti ChatGPT menjadi perhatian karena kemampuannya membuat tulisan, puisi, atau ide-ide baru. Hal tersebut membuat orang bertanya: apakah AI ini benar-benar kreatif?

Penelitian terbaru berjudul “The Cat Sat on the …? Why Generative AI has Limited Creativity” yang ditulis oleh David H. Cropley memberi jawaban yang cukup mengejutkan: AI bisa terlihat kreatif, tapi ada batasannya.

ads

Cropley menggunakan definisi standar kreativitas, yakni gabungan antara kebaruan (novelty) dan efektivitas (effectiveness), untuk menilai keluaran Large Language Models (LLM), jenis AI yang mendasari ChatGPT.

Hasilnya menunjukkan bahwa kreativitas AI memang bisa dihitung. Tapi ternyata, paling tinggi hanya setara dengan kreativitas manusia amatir sampai profesional awal. Dengan demikian, AI belum bisa menembus kreativitas manusia yang di level mahir.

Kenapa bisa begitu? Ternyata bukan karena AI dilatih kurang baik atau arsitekturnya jelek. Masalahnya ada pada cara AI memilih token: kata, set karakter, atau kombinasi kata dan tanda baca yang dihasilkan oleh model bahasa besar (LLM) saat menguraikan teks.

Token dengan probabilitas tinggi bersifat semantik tepat tetapi mudah diprediksi; token dengan probabilitas rendah tidak terduga tetapi sering tidak masuk akal. Hasilnya, AI sulit mencapai kombinasi ideal antara kebaruan dan efektivitas, dua hal yang dibutuhkan dalam kreativitas tinggi.

Bahkan ketika AI membuat puisi atau karya seni, sering kali ada sentuhan manusia di baliknya, entah melalui prompt yang disiapkan, evaluasi, atau penyuntingan. Jadi, klaim bahwa AI benar-benar kreatif tanpa campur tangan manusia berisiko menyesatkan.

Temuan ini punya implikasi penting. Di era AI masuk ke pendidikan, profesi kreatif, dan bahkan hukum hak cipta, penting untuk membedakan antara output yang hanya dihasilkan AI dan karya yang benar-benar kreatif.

Salah paham di sini bisa membuat orang salah menilai, salah memberi kredit, atau bahkan merusak pemahaman kita tentang kreativitas itu sendiri.

Lalu, adakah harapan agar AI bisa benar-benar kreatif? Cropley menyebut, hal ini kemungkinan membutuhkan desain ulang AI secara fundamental, bukan sekadar menebak kata berikutnya.

Bisa jadi AI masa depan perlu menetapkan tujuan sendiri, menilai konteks, atau berinteraksi dengan dunia nyata. Sampai saat itu tiba, AI tetap peniru kreativitas yang luar biasa, tapi bukan sumber kreativitas sejati.

Comment