Piramida Makanan Baru AS Ubah Pola Diet, Protein dan Lemak Kini Jadi Andalan

Makassar, Respublica— Kalau selama ini kamu diajari bahwa nasi, roti, dan buah harus jadi bintang utama di piring, bersiaplah kaget. Awal Januari ini, Pedoman Diet Amerika resmi dibalik.

Pada 7 Januari 2026, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan bersama Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS) meluncurkan piramida makanan baru yang isinya cukup mengagetkan.

ads

Dalam versi terbaru ini, daging, produk susu berlemak penuh, minyak zaitun, serta sayuran kini berada di bagian atas segitiga terbalik. Sementara biji-bijian dan buah-buahan turun ke bagian bawah. Pesannya jelas: saatnya berhenti takut makan protein dan lemak.

Protein dan lemak sehat jadi prioritas

Pedoman baru ini seolah menandai berakhirnya “perang terhadap protein”. Setiap kali makan, tubuh didorong untuk memprioritaskan protein berkualitas tinggi yang padat nutrisi, baik dari sumber hewani maupun nabati.

Telur, ikan laut, daging, susu full-fat, hingga kacang-kacangan, biji-bijian, zaitun, dan alpukat kini masuk daftar makanan utama. Target proteinnya pun cukup spesifik: sekitar 0,54–0,73 gram protein per pon berat badan per hari. Artinya, makan enak dengan lauk yang “serius” bukan lagi dosa, tapi kebutuhan.

Sayur dan buah wajib, tapi real food

Meski protein dan lemak naik pangkat, sayur dan buah tidak ditinggalkan. Keduanya tetap dianggap fondasi penting dari pola makan berbasis makanan asli. Kuncinya ada pada variasi, warna, dan keutuhan bahan.

Pedoman ini menyarankan konsumsi sayuran sekitar tiga porsi per hari dan buah dua porsi per hari, dalam bentuk utuh, segar, dan minim proses. Smoothie instan dan produk olahan tinggi gula? Masih boleh, tapi bukan pilihan utama.

Pilih biji-bijian yang utuh, bukan olahan

Biji-bijian masih direkomendasikan, tapi dengan catatan tegas: yang utuh, bukan yang dipoles sudah dipoles. Gandum utuh, beras merah, atau oats kaya serat tetap dianjurkan, sekitar dua sampai empat porsi per hari.

Sebaliknya, karbohidrat olahan seperti roti putih, sereal manis, dan makanan ultra-proses diminta untuk dikurangi drastis. Alasannya sederhana: makanan ini sering menggusur nutrisi nyata yang seharusnya didapat tubuh.

Menuju budaya makan yang lebih waras

Perubahan ini bukan sekadar soal piramida makanan. Ini adalah sinyal bahwa Amerika sedang mencoba keluar dari puluhan tahun kebiasaan makan yang keliru, menuju pola makan yang lebih berakar pada sains, transparansi, dan tanggung jawab personal.

Intinya, makan sehat tak harus hambar atau penuh rasa bersalah. Dengan fokus pada makanan utuh, protein berkualitas, lemak sehat, serta sayur dan buah yang nyata, pola makan bisa kembali jadi sumber energi, bukan sumber stres.

Comment