Makassar, Respublica— Tidak semua film ingin kita paham. Ada film-film tertentu yang terasa seperti labirin: semakin diikuti, semakin membuat kita bertanya. Baik tentang cerita, tentang tokohnya, dan akhirnya tentang diri kita sendiri.
Lima film yang akan kami rekomendasikan termasuk dalam kategori ini. Film-film yang tidak menawarkan jawaban mudah, tetapi meninggalkan gema panjang di kepala dan perasaan. Berikut adalah sinopsisnya.

Mulholland Drive (2001)
Di permukaan, Mulholland Drive, film misteri dan Psychological Thriller ini tampak seperti kisah klasik tentang mimpi Hollywood. Betty Elms datang dari Kanada dengan mata berbinar, berharap menjadi aktris sukses.
Namun perlahan, film ini berubah menjadi teka-teki gelap tentang identitas, cinta yang gagal, dan rasa bersalah yang tak tertahankan. David Lynch menyusun cerita seperti mimpi yang retak: tokoh-tokohnya berlapis, waktu bergerak aneh, dan realitas terasa rapuh.
Banyak penonton membaca film ini sebagai mimpi Diane Selwyn, versi ideal dari hidup yang sebenarnya hancur. Mulholland Drive bukan sekadar film tentang Hollywood. Ia tentang cara manusia menciptakan fantasi untuk bertahan dari kegagalan hidupnya sendiri.
Synecdoche, New York (2008)
Caden Cotard adalah sutradara teater yang ingin menciptakan karya paling jujur sepanjang masa. Ia membangun replika kota di dalam gudang dan meminta para aktor menjalani kehidupan sehari-hari mereka di sana.
Tapi semakin ambisius proyeknya, semakin hidupnya runtuh. Film ini berbicara tentang waktu yang berlalu tanpa disadari, hubungan yang membusuk, tubuh yang melemah, dan obsesi manusia untuk mengabadikan hidup.
Synecdoche, New York adalah Psychological Drama dan film eksistensial yang terasa melelahkan dan memang seharusnya begitu. Ia mengingatkan bahwa hidup tidak bisa disempurnakan lewat seni tanpa kehilangan dirinya sendiri.
The Tree of Life (2011)
Berbeda dari film-film lain di daftar ini, The Tree of Life adalah Philosophical Drama yang terasa seperti puisi visual. Ceritanya sederhana: seorang anak tumbuh di Amerika tahun 1950-an, kehilangan kepolosannya, dan membawa luka itu hingga dewasa.
Namun Terrence Malick membingkai kisah kecil ini dalam skala kosmik, dari kelahiran alam semesta hingga akhir kehidupan. Film ini bertanya hal paling mendasar: mengapa penderitaan ada di dunia yang indah?
Dengan menempatkan konflik ayah-ibu, cinta dan kekerasan, rahmat dan kodrat, Malick mengajak penonton merenung tanpa memaksa kesimpulan. The Tree of Life adalah film yang lebih terasa daripada dipahami, dan di situlah kekuatannya.
Enemy (2013)
Adam Bell hidup monoton, sampai ia menemukan seseorang yang secara fisik identik dengannya. Dari sini, Enemy berkembang menjadi thriller psikologis yang sunyi dan mengganggu. Denis Villeneuve tidak tertarik menjelaskan segalanya. Ia membiarkan simbol, pengulangan, dan kegelisahan berbicara sendiri.
Film misteri dan Psychological Thriller ini sering dibaca sebagai kisah tentang pengulangan kesalahan hidup, tentang bagaimana manusia terjebak dalam pola yang sama meski sadar akan akibatnya.
Enemy menunjukkan bahwa konflik terbesar manusia sering kali bukan dengan dunia, melainkan dengan dirinya sendiri yang terbelah.
A Ghost Story (2017)
Seorang pria meninggal, lalu kembali sebagai hantu berbalut kain putih. Ia menunggu. Mengamati. Waktu berlalu: cepat, lambat, meloncat. Rumah berganti penghuni. Dunia berubah. Ia tetap di sana.
A Ghost Story adalah Philosophical Film yang sunyi dan sederhana, namun itu yang paling menghantam secara emosional. Ia berbicara tentang kehilangan, tentang keinginan meninggalkan jejak, dan tentang betapa kecilnya manusia di hadapan waktu. Film ini tidak menakutkan, tetapi melankolis dan sulit dilupakan.
Comment