Jejak Awal Manusia Berjalan Tegak Terungkap dari Fosil 7 Juta Tahun Lalu

Sumber: Science Advances

Makassar, Respublica— Selama lebih dari satu abad, satu pertanyaan terus menghantui ilmu paleoantropologi: kapan manusia mulai berjalan dengan dua kaki?  Pertanyaan ini penting. Sebab, kemampuan berjalan tegak di atas dua tungkai atau bipedalisme bukan hanya cara bergerak.

Ia adalah fondasi dari seluruh sejarah manusia. Dari cara kita berburu, menggunakan alat, hingga bagaimana tubuh dan otak kita berevolusi, bergantung dari kemampuan bipedal.

ads

Studi ilmiah terbaru berjudul Earliest evidence of hominin bipedalism in Sahelanthropus tchadensis kembali menghidupkan perdebatan klasik ini. Studi yang dipimpin oleh Scott A. Williams bersama peneliti lainnya dipublikasikan di jurnal Science Advances pada 2 Januari 2026.

Fokusnya adalah Sahelanthropus tchadensis, fosil hominin yang hidup sekitar 7 juta tahun lalu, sangat dekat dengan titik percabangan antara garis keturunan manusia dan simpanse.

Fosil yang mengubah cara kita membaca masa lalu

Ketika Sahelanthropus pertama kali ditemukan di Toros-Menalla, Chad, ia hanya dikenal lewat sebuah kranium. Posisi foramen magnum, yakni lubang tempat sumsum tulang belakang masuk ke tengkorak, mengarah ke bawah.

Ciri ini mengisyaratkan posisi kepala khas makhluk yang berdiri tegak. Namun, tanpa tulang tubuh lainnya, klaim bahwa Sahelanthropus adalah biped awal masih dianggap spekulatif.

Situasi berubah ketika para peneliti mengumumkan penemuan dua ulna parsial (tulang lengan bawah) dan sebuah batang femur (tulang paha) yang diasosiasikan dengan spesimen ini. Tulang-tulang inilah yang menjadi pusat kajian terbaru dan juga sumber perdebatan sengit.

Simpanse dalam bentuk, manusia dalam fungsi

Analisis morfometrik geometris menunjukkan hasil yang kelihatannya paradoksal. Secara ukuran dan bentuk eksternal, tulang-tulang Sahelanthropus paling mirip dengan simpanse modern (genus Pan).

Namun ketika para peneliti menelaah proporsi relatif antar anggota gerak, gambaran yang muncul lebih dekat ke hominin awal seperti Australopithecus.

Dengan kata lain, Sahelanthropus terlihat seperti kera dalam siluetnya, tetapi mulai berfungsi seperti hominin. Lebih penting lagi, femur Sahelanthropus memperlihatkan ciri-ciri biomekanik yang tidak ditemukan pada kera.

Salah satunya adalah antetorsi diafisis yang kuat. Yaitu rotasi batang femur yang hanya muncul pada hominin dan berhubungan langsung dengan cara lutut dan panggul bekerja saat berjalan tegak.

Tulang paha yang bicara tentang cara berjalan

Dalam bipedalisme, sudut antara panggul dan lutut, yang dikenal sebagai sudut valgus, sangat krusial. Sudut ini membuat lutut berada dekat dengan pusat massa tubuh, sehingga berjalan menjadi lebih stabil dan efisien.

Meski femur Sahelanthropus tidak terawetkan cukup lengkap untuk menghitung sudut ini secara langsung, antetorsi yang kuat menunjukkan bahwa mekanisme serupa sudah mulai berkembang.

Yang paling mencolok adalah ditemukannya tuberkel femur, sebuah tonjolan kecil pada tulang paha. Fitur ini menjadi tempat perlekatan ligamen iliofemoral, ligamen terkuat dalam tubuh manusia modern. Ligamen ini berfungsi mencegah tubuh jatuh ke belakang saat berdiri dan berjalan—sebuah adaptasi kunci bagi postur tegak.

“Bersama ligamen iskiofemoral, ligamen iliofemoral menegang saat ekstensi panggul (dan mengendur saat fleksi), memperkuat integritas sendi panggul serta mencegah batang tubuh jatuh ke belakang saat berdiri dan berjalan,” ujar Scott A. Williams.

Menariknya, kera besar tidak memiliki tuberkel femur. Kehadirannya pada Sahelanthropus menjadi bukti kuat bahwa sendi panggulnya sudah bekerja dengan cara yang khas hominin.

Biped, tapi belum sepenuhnya “manusia”

Meski demikian, penelitian ini tidak menggambarkan Sahelanthropus sebagai pejalan dua kaki seperti manusia modern. Banyak ciri tubuhnya, terutama pada lengan, masih menunjukkan kemampuan memanjat dan bergerak di pepohonan.

Morfologi ulnanya menyerupai simpanse, dan pola otot panggulnya menunjukkan keseimbangan antara fungsi berjalan dan memanjat. Para peneliti menyimpulkan bahwa Sahelanthropus kemungkinan adalah biped habitual, tetapi belum obligat.

“Selain bipedalisme terestrial, Sahelanthropus kemungkinan menjalani berbagai perilaku posisi arboreal, termasuk memanjat vertikal, suspensi anggota gerak depan di bawah cabang, kuadrupedalisme dan bipedalisme arboreal, serta berbagai bentuk pemanjatan lainnya,” ujar Scott A. Williams.

Bipedalisme sebagai proses, bukan lompatan mendadak

Salah satu pesan terpenting dari studi ini adalah cara ia memandang evolusi bipedalisme. Berjalan dengan dua kaki tidak muncul sebagai inovasi instan, tetapi sebagai proses bertahap, di mana berbagai bentuk bipedalisme hidup berdampingan dalam jutaan tahun awal evolusi hominin.

“Kami memandang evolusi bipedalisme sebagai suatu proses, bukan peristiwa tunggal—sebuah proses di mana perilaku bipedal meningkat seiring waktu evolusioner dan menjadi komponen yang semakin menonjol dalam repertoar posisi tubuh hominin,” ujar Scott A. Williams.

Bipedalisme Sahelanthropus tampaknya berbeda dari Australopithecus, dan berbeda pula dari manusia modern. Keragaman ini tidak menyangkal bahwa bipedalisme berevolusi satu kali dalam garis keturunan manusia.

Sebaliknya, temuan ini menunjukkan bahwa bentuk dan fungsinya terus dimodifikasi oleh seleksi alam seiring perubahan lingkungan dan gaya hidup.

Mengintip leluhur bersama manusia dan simpanse

Dengan tulang-tulang yang menyerupai simpanse dalam bentuk, tetapi bekerja seperti hominin dalam fungsi, Sahelanthropus memberi petunjuk penting tentang leluhur bersama terakhir manusia dan simpanse.

Leluhur ini kemungkinan besar bukan makhluk yang sepenuhnya arboreal. Ia adalah semi-terestrial, mampu berjalan di tanah sekaligus memanjat pohon.

Jika hipotesis ini benar, maka langkah pertama menuju manusia bukanlah lompatan heroik menuju tegaknya postur, tetapi rangkaian kompromi evolusioner—antara memanjat dan berjalan, antara kera dan manusia. Dari kompromi inilah, sejarah manusia perlahan dimulai.

Comment