Makassar, Respublica— Ketergantungan pada pasokan dari luar wilayah masih menjadi persoalan mendasar bagi Perumda Air Minum (PDAM) Kota Makassar dalam menjaga kestabilan distribusi air bersih ke pelanggan.
Hingga kini, PDAM Makassar belum memiliki sumber air baku yang berada di dalam kota. Seluruh kebutuhan untuk lima Instalasi Pengolahan Air (IPA) masih dipasok dari daerah tetangga, yakni Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa.

Pelaksana Tugas Direktur Utama PDAM Makassar, Andi Syahrum Makkuradde, menjelaskan bahwa suplai utama berasal dari Bendung Lekopancing di Maros, serta Bendungan Bili-Bili dan Sungai Jeneberang di wilayah Gowa.
Ketergantungan lintas wilayah tersebut membuat sistem penyediaan air bersih Makassar berada dalam posisi rentan, terutama ketika terjadi gangguan di sumber utama.
Dari Bendung Lekopancing, air baku dialirkan menuju IPA 2 Panaikang dan IPA 3 Antang melalui jaringan pipa sepanjang kurang lebih 30 kilometer.
Sementara dari Bendungan Bili-Bili, distribusi air diarahkan ke IPA 5 Somba Opu menggunakan pipa berdiameter 1.200 mm dengan panjang sekitar 29 kilometer.
Jalur distribusi ini tidak hanya dimanfaatkan oleh Makassar, tetapi juga digunakan bersama oleh PDAM Kabupaten Gowa serta instalasi Mamminasata. Total kapasitas pipa mencapai 3.000 liter per detik, dengan porsi untuk Makassar sebesar 1.760 liter per detik.
Selain itu, PDAM juga memanfaatkan aliran Sungai Jeneberang yang dipompa melalui Intake Malengkeri dan Sungguminasa. Air dari sumber ini kemudian disalurkan ke sejumlah IPA, seperti IPA 2 Panaikang, IPA 4 Maccini Sombala, dan IPA 1 Ratulangi. Meski demikian, persoalan serius muncul terutama dari sumber Bendung Lekopancing.
“Permasalahan utama terjadi pada saluran terbuka yang banyak mengalami kebocoran, baik karena faktor usia maupun aktivitas masyarakat,” ujarnya di Kantor PDAM Makassar Jl Ratulangi, Selasa (21/4/2026).
Kebocoran tersebut tidak jarang terjadi secara sengaja, dimanfaatkan warga untuk kebutuhan kolam ikan, kebun, hingga irigasi persawahan.
Selain itu, sumber air ini juga sangat rentan terhadap penurunan debit saat musim kemarau. Dampaknya langsung terasa pada pasokan ke IPA 2 Panaikang yang kini hanya berkisar 700 liter per detik, jauh di bawah kondisi normal yang mencapai 1.100 hingga 1.200 liter per detik.
IPA 2 Panaikang sendiri melayani sekitar 68 ribu sambungan pelanggan yang tersebar di wilayah utara dan timur Makassar, mencakup Kecamatan Wajo, Ujung Tanah, Bontoala, Tallo, Biringkanaya, hingga Tamalanrea.
Untuk mengurangi defisit, PDAM menambah suplai dari Sungai Jeneberang melalui Intake Malengkeri. Namun tambahan tersebut hanya berkisar 260 liter per detik. “Suplai dari Malengkeri belum mampu menutupi kekurangan secara keseluruhan,” jelasnya.
Dari sisi distribusi, tantangan juga muncul di wilayah utara kota. Plt Kabag Distribusi dan Kehilangan Air (DKA) PDAM Makassar, Wahidin, menyebut sistem yang masih mengandalkan gravitasi dengan tekanan maksimal sekitar 1,3 bar belum mampu menjangkau seluruh pelanggan secara optimal.
Kondisi semakin krusial ketika debit air turun di bawah 550 liter per detik. Akibatnya, pelanggan di bagian ujung jaringan seperti Kecamatan Tallo, Ujung Tanah, dan Wajo kerap mengalami gangguan suplai.
Sebagai langkah antisipasi, PDAM memasang pompa inline di sejumlah titik dan mengoperasikan booster pump di Jalan Gatot Subroto Baru untuk membantu meningkatkan tekanan air.
Di sisi lain, jaringan pipa yang ada juga menjadi persoalan tersendiri. Sejumlah pipa dinilai sudah tidak lagi memadai dibandingkan dengan jumlah pelanggan yang terus bertambah. Banyak di antaranya telah melewati usia teknis dan mengalami korosi.
Untuk itu, PDAM merancang program rehabilitasi jaringan secara bertahap dengan skala prioritas, termasuk penyesuaian diameter pipa sesuai kebutuhan layanan.
Dalam jangka pendek, PDAM menyiapkan alternatif sumber air baku dari Sungai Moncongloe dengan pemasangan pompa tambahan guna meningkatkan debit pasokan. Dari langkah ini, diharapkan ada tambahan sekitar 600 hingga 900 liter per detik.
Selain itu, percepatan pembangunan Intake Manggala juga terus didorong sebagai bagian dari upaya memperkuat suplai.
Sementara untuk jangka panjang, pemanfaatan Sungai Jeneberang diproyeksikan menjadi solusi utama sebagai sumber air alternatif karena dinilai memiliki ketersediaan yang lebih stabil sepanjang tahun. “Ini menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada Lekopancing,” ujarnya.
Mengantisipasi musim kemarau ekstrem maupun fenomena El Nino, PDAM juga menyiapkan langkah darurat, di antaranya pengoperasian mobil tangki air untuk wilayah terdampak serta injeksi air ke jaringan distribusi guna menjaga tekanan.
Koordinasi dengan berbagai pihak juga dilakukan untuk menambah armada tangki air bersih. Dari lima IPA yang dimiliki, IPA 2 Panaikang menjadi instalasi yang paling rentan terdampak saat musim kemarau, mengingat wilayah layanannya mencakup kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi.
Melalui berbagai langkah tersebut, PDAM berharap distribusi air bersih tetap dapat berjalan meski di tengah keterbatasan sumber air baku yang masih menjadi tantangan utama.
Comment