Tana Toraja, Respublica— Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) STKIP Andi Matappa, Program Studi PGSD UKI Toraja, dan Program Studi Teknologi Pendidikan UKI Toraja menggelar kuliah tamu kolaboratif di Aula Kampus 1 UKI Toraja, Rabu (8/4/2026).
Kegiatan ini diikuti 275 mahasiswa dari tiga program studi dan menghadirkan pembahasan seputar dekolonisasi ruang kelas, penguatan karakter melalui sastra, serta literasi digital dalam pembelajaran.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UKI Toraja, Daud Rodi Palimbong, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya keberlanjutan kerja sama antarlembaga, tidak hanya dalam kegiatan akademik seperti kuliah tamu, tetapi juga pada bidang penelitian, pengabdian dan juga pertukaran mahasiswa.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti hari ini saja, tetapi dapat terus berlanjut dalam bentuk kerja sama penelitian pengabdian dan juga pertukaran mahasiswa. Kami juga berharap STKIP Andi Matappa nantinya dapat menerima kunjungan balasan dari pihak UKI Toraja,” ujarnya.

Sebelum sesi materi dimulai, kegiatan diawali dengan penyambutan budaya berupa tarian Pa’gellu sebagai ungkapan syukur (Pa’pangando) yang dibawakan mahasiswa UKI Toraja.
Suasana acara kemudian semakin semarak dengan penampilan tarian kreasi mahasiswa UKI Toraja yang diiringi lagu Sangmaneku To Mangla dan Marendeng Marampa, dibawakan melalui musik angklung oleh mahasiswa STKIP Andi Matappa.
Peserta kegiatan terdiri atas 125 mahasiswa PGSD STKIP Andi Matappa, 100 mahasiswa PGSD UKI Toraja, dan 50 mahasiswa Teknologi Pendidikan UKI Toraja.
Pada sesi pertama, Khaerun Nisa’a Tayubu, M.Pd., dosen Program Studi PGSD STKIP Andi Matappa, menyampaikan materi bertajuk “Dekolonisasi Ruang Kelas: Mengintegrasikan Tradisi Lisan dan Ecopedagogi dalam Pembelajaran Sastra SD.”
Ia menegaskan bahwa pembelajaran sastra di sekolah dasar tidak semestinya dipahami hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai medium untuk membentuk cara pandang, kesadaran budaya, dan kepedulian ekologis peserta didik.
Menurutnya, tradisi lisan dan cerita rakyat menyimpan pola pikir leluhur, pengetahuan ekologis, serta nilai pemecahan masalah yang relevan dengan pendidikan masa kini.
Karena itu, ruang kelas perlu didekolonisasi dengan menghadirkan realitas lokal, menjadikan budaya setempat sebagai sumber belajar yang otentik, serta menempatkan guru sebagai kurator kebudayaan. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan, tetapi juga produsen kebudayaan.
Materi kedua disampaikan oleh Hakpantria, M.Pd., dosen Program Studi PGSD UKI Toraja. Ia mengangkat pentingnya pembelajaran sastra sebagai sarana memperkuat pendidikan karakter di sekolah dasar.
Melalui sastra, kata dia, siswa tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi dan berbahasa, tetapi juga mengembangkan empati, imajinasi, wawasan budaya, dan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan, penguatan karakter melalui sastra memerlukan pemilihan materi yang relevan, pengembangan modul pembelajaran, serta evaluasi karakter yang menyeluruh.
Sebagai penguat gagasan, ia juga mengutip pandangan Aristoteles yang menyebut puisi lebih filosofis daripada sejarah karena berbicara tentang hal-hal yang mungkin terjadi dan bersifat umum.
Pandangan itu menunjukkan bahwa sastra memiliki kekuatan besar dalam membantu anak memahami kehidupan dan nilai-nilai yang membentuk karakter mereka.

Sementara itu, Ervianti, M.Pd., dosen Program Studi Teknologi Pendidikan UKI Toraja, pada sesi ketiga memaparkan materi “Literasi Digital dalam Pembelajaran.”
Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa transformasi digital telah mengubah pola pikir, cara berkomunikasi, perilaku, dan kebutuhan masyarakat, sehingga dunia pendidikan harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa literasi digital tidak hanya berarti kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan menemukan, mengevaluasi, menggunakan, dan menciptakan informasi secara sehat, bijak, cerdas, dan patuh hukum.
Karena itu, penguatan literasi digital perlu dibangun melalui empat pilar utama, yakni kecakapan digital, budaya digital, etika digital, dan keamanan digital.
Selain itu, materi tersebut juga menekankan pentingnya kesadaran terhadap jejak digital, perlindungan data pribadi dan privasi, serta kewaspadaan terhadap berbagai risiko di ruang digital, seperti hoaks, cyberbullying, dan plagiarisme.
Melalui materi ini, peserta diajak untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta konten yang kritis, kreatif, cerdas, dan bertanggung jawab dalam mendukung pembelajaran.
Kuliah tamu kolaboratif ini menjadi ruang pertemuan gagasan antara budaya, sastra, karakter, dan teknologi dalam konteks pendidikan dasar. Melalui kegiatan ini, ketiga program studi menunjukkan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi akademik yang berkelanjutan dan relevan dengan tantangan pendidikan masa kini.
Comment