Apakah al-Bani adalah seorang Muhaddis?

Akhir-akhir sedang hangat pembicaraan soal al-Bani apakah seorang muhaddits/ahli hadis atau bukan? Di media sosial hingga sekarang. Ali Mustafa Yaqub seorang pakar hadis cenderung menolak hasil penelitian al-Bani, Ustadz Abdul Samad, Ustadz Adi Hidayat, Buya ar-Razi murid Ali Mustafa Yaqub pun berkomentar yang sama, Yang terbaru Tuan Guru Baja Zainuddin Majdi pun ikut berkomentar tentang al-Bani.

Kami pernah tanyakan tentang al-Bani kepada guru kami yang memiliki sanad hingga Sayyid Alawi al-Maliki, dia cenderung menolak pendapat al-Bani oleh karena dia belajar secara otodidak, sementara dalam ilmu hadis mengharuskan untuk memiliki jalur sanad keilmuan.

ads

Secara sederhana bisa dikatakan bahwa seorang muhaddis adalah mereka yang mengatahui sanad, matan, illat, menghafal, menguasai sebagian besar hadis. karena al-Bani belajar secara otodidak maka keilmuannya sulit diukur, namun al-Bani bisa disebut sebagai seorang muhaddis jika ukurannya adalah mereka yang menggeluti suatu bidang ilmu hadis dan mereka dapat melahirkan suatu bidang penelitian hadis yang sulit dilakukan, ditandingi oleh orang lain.

Nah, pada posisi ini al-Bani bisa disebut sebagai seorang muhaddis. Puluhan karya hadis yang beliau hasilnya dan ditulis dalam buku tersendiri yang sulit menandinginya. Bahkan para pengkritiknya pun mungkin tidak banyak yang bisa menandingi karya penelitian hadis beliau.

Ada kesan, penolakan para ulama terhadap al-Bani oleh karena dia berpaham Wahabi dan berani mengkritik Imam Bukhari dan Imam Muslim maupun para Imam Muhaddis  lainnya hingga berani mendaifkan sebagian hadis para Imam Muhaddis sebelumnya.

Mungkin kita tidak keberatan jika mengatakan bahwa Habib Umar bin Hafiz, Nuruddin Itr, Sayyid Alawi al-Maliki, Ali Mustafa Yaqub, Syuhudi Ismail sebagai seorang muhaddis, tetapi bila ukurannya adalah menghafal 100.000 hadis misalnya seperti yang diucapkan oleh Ustadz Adi Hidayat, siapa yang pernah membuktikan kalau mereka telah menghafal 100.000 hadis?

Jika didasarkan pada karya hadis, bukankah karya al-Bani masih lebih banyak daripada mereka pada bidang hadis? Oleh karena itu, kata guru hadis kami yang sedang belajar di al-Azhar, ukuran dan kriteria seseorang disebut muhaddis itu fleksibel. Jika merujuk kepada kriteria ulama klasik maka al-Bani nampaknya belum layak disebut muhaddis, namun kriteria tersebut tidaklah paten kata guru kami.

Dalam banyak hal, mayoritas tidak sepakat dengan pendapat al-Bani termasuk soal hasil penelitiannya terhadap sebuah hadis, namun sebagai karya yang ia lakukan secara otodidak layak diapresiasi, terlepas apapun gelar yang dilekatkan pada beliau sebagai orang yang menggeluti penelitian hadis.

**Penulis adalah Dr Muhammad Tahir Alibe. Dosen IAIN Manado dan MUI Sulawesi Utara

Comment