Ambon, Respublica— Pertumbuhan layanan buy now pay later (BNPL) atau PayLater di Indonesia semakin pesat. Nilai pembiayaan BNPL mencapai Rp31,56 triliun per Juli 2026.
Di tengah peningkatan akses terhadap kredit digital tersebut, penguatan literasi keuangan menjadi tantangan, terutama bagi generasi muda yang mulai mengelola keuangan secara mandiri.

Kredivo merespons kebutuhan itu dengan memperluas program edukasi finansial Generasi Djempolan ke Ambon, Maluku. Program yang berjalan sejak 2020 tersebut untuk pertama kalinya hadir di kota itu, setelah sebelumnya menjangkau sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Kupang dan Makassar.
Kehadiran program ini bertepatan dengan Bulan Inklusi Keuangan yang diperingati setiap Oktober. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk mendorong pemahaman bahwa akses terhadap layanan keuangan digital perlu diikuti kemampuan mengelola pinjaman dan pengeluaran secara bertanggung jawab.
Dalam Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo yang disusun bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), sebanyak 65,7% pengguna Kredivo tercatat memiliki tingkat literasi keuangan yang baik (well-literate).
Laporan yang sama mencatat rasio utang terhadap pendapatan atau Debt-to-Income Ratio pengguna berada pada kisaran 10–19%. Angka tersebut menjadi salah satu indikator kemampuan pengguna dalam mengelola kewajiban keuangan, meski tetap perlu dilihat sesuai kondisi dan kemampuan finansial masing-masing.
Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari, mengatakan edukasi keuangan menjadi bagian penting dalam memperluas akses layanan keuangan digital kepada generasi muda. selama enam tahun terakhir, Kredivo percaya bahwa literasi keuangan adalah fondasi utama sebelum generasi muda mengakses layanan keuangan digital.
Indonesia Timur adalah kawasan dengan potensi ekonomi digital yang terus tumbuh dan populasi muda yang besar, sehingga penting bagi Kredivo untuk hadir dan memastikan momentum pertumbuhan ini dibarengi kesiapan literasi yang memadai.
“Kali ini, Generasi Djempolan hadir di Ambon untuk membekali generasi muda agar menjadi konsumen digital yang cerdas dan bertanggung jawab. Ke depan, Indonesia Timur juga menjadi wilayah yang kami fokuskan untuk perluasan edukasi literasi,” ujarnya.
Memasuki tahun keenam pelaksanaan, Generasi Djempolan menyasar mahasiswa Universitas Pattimura, Ambon, melalui tema “Jago Atur Keuangan, Siap Hadapi Masa Depan.
Program tersebut sebelumnya telah menjangkau ribuan generasi muda di Makassar, Pontianak, Manado, Kupang, Semarang, Solo, Jakarta, Palu, Banjarmasin, Batam, dan Bandung.
Dalam pelaksanaannya, Kredivo memperkenalkan tiga prinsip pengelolaan keuangan. Pertama, set priority, yakni kemampuan menentukan prioritas dan membatasi pengeluaran sesuai kemampuan finansial.
Kedua, value over price, yaitu mempertimbangkan nilai dan manfaat suatu pengeluaran, bukan sekadar mengejar harga murah. Ketiga, best of both worlds, yakni membangun kecakapan dalam menggunakan teknologi sekaligus memahami pengelolaan keuangan.
Tantangan literasi keuangan semakin relevan seiring meluasnya penggunaan layanan BNPL. Secara nasional, jumlah rekening BNPL tercatat mencapai 33,55 juta akun per Juli 2026, tumbuh 33,54% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo juga mencatat 57% penggunanya berasal dari kelompok generasi muda. Sebanyak 51,4% pengguna mengaku terbantu memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui layanan tersebut, sedangkan 32,4% menggunakannya untuk kebutuhan mendesak.
Penggunaan PayLater secara terencana dapat membantu generasi muda mengakses kredit untuk pertama kalinya, mengelola arus kas (cash flow), hingga membangun riwayat kredit.
Namun, pemanfaatannya tetap membutuhkan perhitungan kemampuan membayar agar kewajiban cicilan tidak mengganggu kebutuhan lain.
Perluasan edukasi ke Ambon juga didorong pertumbuhan pengguna Kredivo di wilayah tersebut. Perusahaan mencatat jumlah pengguna aktif di Ambon meningkat hingga 4,5 kali lipat sepanjang 2022–2025. Pertumbuhan itu didominasi kelompok usia produktif 26–35 tahun.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura, Evelin Watumlawar, S.Ak., M.M., menilai kurangnya pemahaman tentang pengelolaan keuangan sejak masa kuliah dapat berujung pada perencanaan finansial yang kurang matang.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah budaya You Only Live Once (YOLO) dan Fear of Missing Out (FOMO) yang dapat mendorong perilaku konsumtif.
Menurut Evelin, penggunaan layanan keuangan digital perlu diimbangi dengan kebiasaan meminjam secara bertanggung jawab (responsible borrowing) dan membelanjakan uang secara bijak (smart spending).
“Generasi muda hari ini punya akses keuangan digital paling luas sepanjang sejarah. Tapi akses tanpa kendali sama saja jebakan. Kuncinya bukan menahan diri dari hidup enak, tapi tahu batas aman untuk kantong sendiri, dan memastikan fintech dipakai untuk membantu, bukan justru membebani,” ujarnya.
Comment