Makassar, Respublica— Perjudian bukan lagi sekadar aktivitas rekreasi yang dilakukan segelintir orang di kasino atau arena taruhan. Ia telah menjelma menjadi fenomena global yang menyentuh hampir separuh populasi dunia.
Sebuah studi besar yang dipublikasikan dalam The Lancet Public Health pada tahun 2024 mengungkap, sekitar 46,2% orang dewasa di dunia—setara lebih dari 2,3 miliar manusia—pernah berjudi dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi dengan risiko, uang, dan hiburan di era modern.
Penelitian yang dilakukan oleh Lucy T Tran dan timnya ini merupakan tinjauan sistematis dan meta-analisis dari ribuan studi di berbagai negara. Dengan cakupan 68 negara dan ratusan sampel representatif, riset ini menjadi salah satu potret paling komprehensif tentang perjudian global hingga saat ini.
Namun, yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya seberapa banyak orang berjudi, melainkan seberapa banyak yang terjebak dalam risiko.
Dari hiburan ke risiko
Di balik angka partisipasi yang tinggi, terdapat fakta lain yang lebih serius. Bahwa sekitar 8,7% orang dewasa terlibat dalam perjudian berisiko, dan 1,41% sudah masuk kategori perjudian bermasalah.
Jika diterjemahkan ke dalam jumlah populasi, ini berarti ratusan juta orang di dunia mengalami dampak negatif dari aktivitas ini. Perjudian bermasalah bukan hanya soal kehilangan uang. Ia berkaitan erat dengan masalah kesehatan mental, utang, konflik keluarga, hingga penurunan kualitas hidup.
Bahkan, banyak individu yang tidak masuk kategori “kecanduan berat” tetap mengalami kerugian signifikan—fenomena yang sering luput dari perhatian kebijakan publik.
Menariknya, studi ini menunjukkan bahwa risiko tidak tersebar merata. Produk perjudian tertentu jauh lebih berbahaya dibandingkan yang lain.
Bahaya perjudian online
Perjudian daring muncul sebagai aktor utama dalam peningkatan risiko global. Di antara berbagai jenis perjudian, kasino online dan mesin slot digital mencatat tingkat perjudian bermasalah tertinggi, mencapai 15,8%. Angka ini jauh melampaui bentuk perjudian tradisional.
Fenomena ini tidak lepas dari transformasi digital yang masif. Dengan hanya bermodal ponsel dan koneksi internet, siapa pun kini bisa berjudi kapan saja dan di mana saja. Tidak ada lagi batasan ruang, waktu, atau bahkan usia yang benar-benar efektif.
Bahkan di kalangan remaja, yang secara hukum seharusnya dilindungi dari aktivitas ini, perjudian telah menjadi hal yang umum. Studi tersebut memperkirakan sekitar 17,9% remaja di dunia—sekitar 159 juta orang—telah berjudi dalam setahun terakhir.
Perjudian online bahkan menjadi salah satu bentuk paling populer di kelompok usia ini. Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan hanya memperluas akses, tetapi juga mempercepat normalisasi perjudian sejak usia dini.
Industri yang tumbuh, risiko yang mengikuti
Pertumbuhan industri perjudian global berjalan sangat cepat, terutama di sektor digital. Pendapatan dari perjudian online diproyeksikan mencapai ratusan miliar dolar dalam beberapa tahun ke depan.
Sejumlah negara bahkan mulai melegalkan perjudian daring, sering kali disertai kampanye pemasaran besar-besaran. Namun, ekspansi ini membawa konsekuensi.
Studi tersebut menemukan bahwa wilayah dengan pertumbuhan pasar perjudian yang cepat juga menunjukkan tingkat perjudian berisiko yang tinggi. Artinya, pertumbuhan industri tidak pernah netral. Ia selalu diiringi oleh pertumbuhan potensi masalah.
Ilusi angka kecil
Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah bagaimana angka prevalensi sering kali menipu. Ketika hanya melihat persentase kecil dari populasi yang mengalami “perjudian bermasalah”, kita cenderung meremehkan dampaknya.
Padahal, kerugian terbesar justru sering dialami oleh mereka yang berada di zona “abu-abu”—tidak sepenuhnya kecanduan, tetapi cukup sering berjudi hingga menimbulkan dampak ekonomi dan sosial.
Dengan kata lain, perjudian bukan hanya masalah minoritas ekstrem, melainkan spektrum luas yang menyentuh jutaan orang dalam berbagai tingkat.
Tantangan kebijakan di era digital
Temuan ini membawa implikasi besar bagi kebijakan publik. Jika hampir setengah populasi dunia terlibat dalam perjudian, dan sebagian signifikan mengalami risiko, maka pendekatan regulasi tidak bisa lagi bersifat parsial.
Terlebih lagi, karakter perjudian online yang cepat, anonim, dan adiktif membuatnya jauh lebih sulit dikendalikan dibandingkan bentuk konvensional.
Pemerintah di berbagai negara dihadapkan pada dilema: di satu sisi, industri ini menghasilkan pendapatan besar; di sisi lain, ia membawa beban sosial yang tidak kalah besar.
Menimbang masa depan
Studi ini pada akhirnya mengingatkan bahwa perjudian bukan sekadar pilihan individu, tetapi fenomena sosial yang kompleks. Ia berkaitan dengan teknologi, ekonomi, budaya, dan kebijakan.
Di tengah ekspansi industri digital, pertanyaan mendasar yang harus dijawab bukan lagi apakah perjudian akan terus berkembang, tetapi bagaimana masyarakat dan negara mengelola dampaknya.
Tanpa pengawasan yang ketat dan kebijakan yang adaptif, perjudian berisiko bisa menjadi “krisis sunyi” berikutnya—meluas, tersembunyi, dan sering kali terlambat disadari.
Sumber artikel:
Tran, L. T., Wardle, H., Colledge-Frisby, S., Taylor, S., Lynch, M., Rehm, J., Volberg, R., Marionneau, V., Saxena, S., Bunn, C., Farrell, M., & Degenhardt, L. (2024). The prevalence of gambling and problematic gambling: A systematic review and meta-analysis. The Lancet Public Health, 9(8), e594–e613. https://doi.org/10.1016/S2468-2667(24)00126-9
Comment