Luwu Timur, Respublica — Pemerintah Luwu Timur (Lutim) kini menunjukkan keseriusannya dalam mendorong sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak utama ekonomi.
Hal tersebut terlihat jelas dalam pernyataan Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, dalam berbagai kesempatan. Ia selalu menempatkan pengembangan destinasi unggulan sebagai prioritas pembangunan.

Salah satu fokus utama adalah penataan kawasan pesisir Danau Matano di Kecamatan Nuha. Hal itu disampaikan Bupati Irwan dalam Safari Ramadan hari kedua pada Minggu (1/3/2026). Danau Matano sendiri dikenal sebagai salah satu danau terdalam di Indonesia dan menjadi ikon wisata andalan di kawasan Sorowako.
“Karena satu yang menjadi target kami adalah bagaimana menjadikan Sorowako ini menjadi kawasan pariwisata paling unggul di Sulawesi Selatan. Selain wisata tambang, wisata danau ini yang menjadi andalan kita di Luwu Timur, khususnya di Sorowako ini,” ujarnya.
Tak hanya berfokus pada Danau Matano. Perhatian pePemkab Lutim juga menyasar destinasi wisata lainnya. Saat melakukan kunjungan ke objek wisata Uwilanti di Kecamatan Mangkutana, Sabtu (28/3/2026), Irwan kembali menegaskan pentingnya menjaga dan mengembangkan potensi wisata lokal secara berkelanjutan.
“Destinasi seperti ini harus kita rawat bersama. Selain menjadi tempat rekreasi, juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat lokal,” ujarnya.
Dorongan pengembangan sektor pariwisata ini sejalan dengan hasil penelitian Syahrul dari Universitas Hasanuddin berjudul Indeks Daya Saing Pariwisata Kabupaten Luwu Timur Menggunakan Metode Competitiveness Monitor (2024).
Penelitian tersebut mengungkapkan, Lutim memiliki potensi wisata yang besar, baik dari segi kekayaan alam, budaya, maupun adat istiadat masyarakat setempat.
Meski demikian, kajian tersebut juga mengamati sejumlah tantangan yang masih dihadapi. Sistem pariwisata di Lutim dinilai belum optimal, khususnya dari sisi infrastruktur, fasilitas pendukung, dan layanan tambahan yang katanya masih perlu ditingkatkan.
Selain itu, jumlah wisatawan mancanegara yang relatif rendah juga dipengaruhi oleh keterbatasan aksesibilitas, mengingat jarak daerah ini yang cukup jauh dari pusat transit utama.
Dalam pengukuran indeks daya saing pariwisata periode 2018–2022, hanya indikator lingkungan (Environment Indicator/EI) yang mencatat nilai di atas rata-rata, yakni 1,895.
Sementara indikator lainnya seperti Human Tourism Indicator (HTI), Price Competitiveness Indicator (PCI), Openess Indicator (OI), dan Social Development Indicator (SDI) masih berada di bawah standar daya saing tinggi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor pariwisata Luwu Timur masih membutuhkan perhatian serius dan langkah strategis dari pemerintah daerah, khususnya dalam meningkatkan aksesibilitas, kualitas layanan, serta kenyamanan wisatawan.
Dengan komitmen yang terus ditegaskan oleh Bupati Irwan Bachri Syam, diharapkan pengembangan pariwisata di Luwu Timur tidak hanya mampu meningkatkan daya tarik daerah, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Comment