Enrekang, Respublica— Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah dasar didorong untuk keluar dari pola lama yang hanya menempatkan siswa sebagai penghafal fakta.
Gagasan itu mengemuka dalam kuliah umum yang dibawakan oleh Dr. Muh. Taufiq Halim, S.Pd., M.Pd. dengan tema “Keluar Kelas: Menemukan Karakter di Alam Nyata” di Aula Kampus Universitas Muhammadiyah Enrekang, Kabupaten Enrekang.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 230 mahasiswa, terdiri atas 130 mahasiswa PGSD STKIP Andi Matappa dan 100 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Enrekang.
Dalam pemaparannya, Dr. Taufiq menegaskan bahwa pembelajaran IPS seharusnya tidak berhenti pada pencapaian nilai ujian, melainkan diarahkan untuk membentuk karakter, kepedulian sosial, dan nilai kemanusiaan peserta didik.
Ia menilai, selama ini IPS kerap terjebak sebagai mata pelajaran hafalan yang membosankan, padahal tujuan utamanya adalah memanusiakan manusia melalui pengalaman belajar yang bermakna.
Ia menjelaskan, transformasi pendidikan perlu dilakukan dari paradigma tradisional yang berfokus pada aspek kognitif dan teori menuju paradigma transformatif yang menekankan pembangunan karakter, interaksi sosial, dan pengalaman nyata di lapangan.
Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah eduwisata, yang menurutnya bukan sekadar kegiatan rekreasi, tetapi dapat menjadi laboratorium karakter bagi siswa.
Melalui tahapan persiapan terarah, eksplorasi terbimbing, dan refleksi makna, siswa diajak belajar secara utuh dengan melibatkan aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Pengalaman langsung di alam dinilai mampu menumbuhkan religiusitas, kemandirian, tanggung jawab, serta kecintaan terhadap potensi lokal dan tanah air.

Selain itu, kuliah umum ini juga menekankan pentingnya kolaborasi inklusif lintas wilayah. Menurut Dr. Taufiq, inklusi tidak hanya berarti menghapus batasan fisik, tetapi juga membuka ruang penerimaan terhadap perbedaan sosial, ekonomi, dan budaya.
Kolaborasi antara wilayah pesisir atau perkotaan dengan wilayah pegunungan atau agrowisata dipandang dapat menjadi jembatan untuk mengikis etnosentrisme sekaligus menumbuhkan empati, toleransi, dan keterbukaan antarpeserta didik.
Untuk mewujudkan gagasan tersebut, ia menawarkan tiga jalur utama, yakni program sister school, proyek digital lintas wilayah, dan kunjungan gabungan.
Ia juga menekankan pentingnya integrasi eduwisata ke dalam modul ajar Kurikulum Merdeka dengan mengaitkan capaian pembelajaran, desain misi lapangan, dan penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Teknologi, lanjutnya, dapat dimanfaatkan sebagai gerbang pra-pembelajaran, salah satunya melalui virtual tour yang membantu siswa membangun konteks sebelum terjun langsung ke lapangan.
Dalam aspek evaluasi, Dr. Taufiq mengingatkan bahwa pendidikan modern tidak cukup hanya mengukur hasil belajar melalui angka ujian.
Penilaian, menurutnya, harus diarahkan pada perubahan sikap dan karakter siswa, seperti empati, toleransi, religiusitas, kemandirian, dan tanggung jawab, melalui jurnal refleksi, observasi terpandu, dan peer assessment.
Dengan pendekatan ini, karakter tidak sekadar diajarkan sebagai konsep, tetapi benar-benar dialami dan dibentuk melalui pengalaman nyata.
Kuliah umum ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerja sama antara STKIP Andi Matappa dan Universitas Muhammadiyah Enrekang.
Ke depan, kedua institusi berencana memperluas kolaborasi, termasuk dalam bidang publikasi dan kerja sama UPT Perpustakaan melalui berbagi sumber pustaka, baik buku maupun karya akademik dari masing-masing perguruan tinggi.
Sebagai penutup, Dr. Taufiq mengajak para pendidik dan calon guru untuk tidak lagi membatasi proses belajar di dalam kelas semata.
Menurutnya, bentang alam, interaksi sosial, dan kolaborasi tanpa sekat harus menjadi bagian penting dari pendidikan agar ruang kelas benar-benar meluas ke dunia nyata sebagai tempat tumbuhnya karakter peserta didik secara utuh.
Comment