Indonesia Merdeka, Pendidikan Jangan Kehilangan Arah

Setiap 17 Agustus kita merayakan kemerdekaan. Bendera dikibarkan, lagu Indonesia Raya dinyanyikan, upacara dilaksanakan, dan kisah perjuangan para pahlawan kembali dikenang. Tetapi di tengah perayaan 81 tahun Indonesia merdeka, ada pertanyaan yang layak kita ajukan: ke mana arah pendidikan Indonesia?

Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Pendidikan kita sedang bergerak dalam perubahan yang sangat cepat. Kecerdasan buatan mulai masuk ke ruang belajar, teknologi digital semakin melekat dalam kehidupan peserta didik, dan tuntutan kompetensi terus berubah.

ads

Kita tentu tidak boleh menolak perubahan. Tetapi ada yang lebih penting dari sekadar berubah: memastikan kita tidak kehilangan arah. Hari ini, seorang siswa dapat menemukan jawaban hampir untuk apa saja melalui internet. Dengan kecerdasan buatan, tulisan dapat dibuat dalam hitungan detik. Informasi yang dahulu sulit diperoleh kini berada di ujung jari.

Lalu, apa yang harus dilakukan pendidikan?
Bukan sekadar mengajarkan anak menggunakan teknologi. Pendidikan harus mengajarkan anak kapan harus percaya, kapan harus bertanya, dan kapan harus berpikir dengan caranya sendiri.

Di sinilah tantangan pendidikan menjadi semakin kompleks. Ketika mesin semakin mampu memberikan jawaban, manusia justru harus semakin kuat dalam mengajukan pertanyaan.

AI boleh membantu pembelajaran. Tetapi AI tidak boleh menggantikan proses berpikir. Teknologi boleh mempercepat pekerjaan, tetapi pendidikan tetap harus membangun karakter, empati, kreativitas, integritas, dan tanggung jawab.

Karena itu, peran guru tidak menjadi semakin kecil. Justru sebaliknya. Ketika mesin dapat memberikan jawaban dengan cepat, guru memiliki peran yang semakin penting untuk membantu peserta didik memahami makna, menilai kebenaran, membangun karakter, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Namun, kita juga tidak boleh terlalu larut dalam pembicaraan tentang AI hingga melupakan persoalan pendidikan yang lebih mendasar.

Kita masih berbicara tentang pemerataan mutu, kualitas pembelajaran, kesiapan guru, fasilitas pendidikan, dan kesenjangan akses. Bahkan di Sulawesi Selatan, hasil Tes Kemampuan Akademik 2025 menunjukkan capaian SMA dan SMK masih berada di bawah rata-rata nasional pada sebagian besar mata pelajaran.

Artinya, tantangan pendidikan kita bukan hanya bagaimana menjadi lebih digital, tetapi bagaimana menjadi lebih bermutu dan lebih adil. Jangan sampai kita sibuk membicarakan sekolah masa depan sementara sebagian anak masih berjuang mendapatkan pendidikan yang layak hari ini.

Di sinilah merdeka belajar seharusnya dimaknai secara lebih substantif. Merdeka belajar bukan sekadar perubahan istilah atau kebijakan. Ia harus terasa di ruang kelas: ketika peserta didik berani bertanya, guru memiliki ruang untuk berinovasi, dan proses belajar tidak berhenti pada mengejar nilai.

Pendidikan yang terlalu takut pada kesalahan akan melahirkan anak yang takut mencoba. Pendidikan yang hanya mengejar angka akan melahirkan kebiasaan mengejar hasil tanpa memahami proses.

Padahal, bangsa yang merdeka membutuhkan manusia yang mampu berpikir dan menentukan pilihannya sendiri. Maka, 81 tahun kemerdekaan Indonesia seharusnya menjadi momentum untuk kembali kepada pertanyaan paling mendasar: manusia seperti apa yang ingin kita bentuk melalui pendidikan?

Apakah kita hanya ingin menghasilkan generasi yang mampu menggunakan teknologi? Ataukah kita ingin menghasilkan generasi yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaannya?

Indonesia tidak membutuhkan pendidikan yang sekadar cepat mengikuti perubahan. Indonesia membutuhkan pendidikan yang mampu menentukan arah perubahan.

Teknologi boleh berkembang. Kurikulum boleh berubah. Metode pembelajaran boleh berganti.
Tetapi tujuan pendidikan tidak boleh kehilangan arah.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan seberapa manusiawi manusia yang berhasil kita bentuk. Indonesia telah merdeka. Kini tugas kita memastikan pendidikannya tidak kehilangan arah.

**Penulis adalah Andi Ratu Ayuashari Anwar Dosen administrasi pendidikan UNM

Comment