Selayar tidak pernah kehabisan orang-orang hebat yang mewakili zamannya. Mursalin Daeng Mamangun merupakan orang Selayar pertama yang berkiprah di kancah nasional pada era Orde Lama dan Orde Baru. Selain itu ada pula nama Tanri Abeng, sosok yang dikenal manajer 1 Milyar, julukan ini disematkan kepadanya karena keberhasilannya memimpin perusahaan besar milik Aburizal Bakrie.
Tanri Abeng lahir di Selayar 7 Maret 1942, seorang pengusaha Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pendayagunaan BUMN pada Kabinet Pembangunan VII dan Kabinet Reformasi Pembangunan. Kesuksesan yang dicapai melalui lika-liku yang panjang. Terlahir sebagai anak bungsu dari pasangan Palahe dan Kinriati, kondisi keluarga saat itu terbilang cukup pas-pasan memaksanya untuk harus bekerja keras.

Memulai pendidikannya di salah satu Sekolah Dasar yang ada di Selayar pada tahun 1948 dan lulus pada tahun 1955 Jarak yang jauh dari rumah ke sekolahnya menjadikan Tanri kecil harus tinggal bersama paman serta jauh dengan orang tuanya. Untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya Tanri kecil berjualan pisang dan hasil jualannya pun ditabung agar terus bersekolah untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang guru.
Keinginan menjadi guru dan mengajar itu muncul sejak duduk dibangku sekolah dasar kelas lima sosok yang menginspirasinya ialah kepala sekolahnya bernama Pak Dorra dianggapnya jujur, adil dan memiliki kewibawaan yang seolah olah ada pada dirinya dari situlah minat Tanri untuk menjadi seorang guru.
Tanri sejak kecil sudah terlatih berwirausaha, ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga petani yang mempunyai tanah yang luas dikampung halamannya. Ketika memasuki usia 10 tahun orang tuanya meninggal, oleh karena itu ia diasuh oleh saudara sepupunya yang bernama Achmad Ronrong kala itu menjabat sebagai Kepala Stasiun Radio milik Perumtel. Tanri yang mengenyam pendidikan dasar di Selayar kemudian mengikuti Achmad Ronrong pindah ke Ujung Pandang.
Tahun 1955 Tanri melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Negeri di Ujung Pandang. Semasa sekolah di SMEP Tanri terbilang pandai ia dapat mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diberikan gurunya tak lama kemudian lulus pada tahun 1958 dari SMEP negeri lalu melanjutkan ke sekolah menengah ekonomi atas (SMEA) negeri dan lulus ujian negara dengan angka tertinggi pula pada saat itu. Bagi Tanri belajar adalah tindakan menyerap sesuatu termasuk segala hal yang sifatnya baru. Belajar itu macam-macam termasuk membaca koran, majalah, mengikuti seminar, dan berdiskusi.
Menjelang lulus SMEA pada tahun 1962 , Tanri mengikuti seleksi AFS (American Field Service) program pertukaran pelajar Amerika – Indonesia dan lulus yang akhirnya ia pun berangkat ke Amerika lalu tinggal bersama keluarga Wallace Gibson di Buffalo New York. Usai program AFS Tanri kembali ke Indonesia dan mendaftarkan diri di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Ujung Pandang saat itu.
Selain kuliah dalam aktivitas yang dilakukannya sebagai mahasiswa Tanri aktif mengajar dan berorganisasi ia tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam. Kehadirannya dalam organisasi itu Tanri dipertemukan dengan gadis Sumatera yang bernama Farida Nasution yang dinikahinya pada 13 Oktober 1968, dari hasil pernikahannya Tanri dikarunai dua orang putra yang bernama Emil Abeng dan Edwin Abeng.
Kekaguman Tanri Abeng terhadap Emil Salim dikarenakan sosoknya yang memiliki wawasan luas dan pemikirannya yang sangat terorganisasi pada saat memberikan ceramah di kampus. Hingga anak pertamanya diberi nama Emil dan anak kedua diberi nama dengan huruf depan E.
Jejak langkah Tanri Abeng dimulai pada perusahaan multinasional Carbide Corp sebagai management trainee setelah meraih gelar MBA di State University New York pada tahun 1968 lalu balik ke Indonesia dan langsung menjabat Manager & Chief Accountand Union Carbide Indonesia.
Pada tahun 1971 menjadi anggota dewan Direksi PT Union Carbide Indonesia dengan jabatan direktur keuangan. Akhir 1979, Tanti mendapat tawaran dari pihak Heineken Belanda untuk duduk menjadi Presiden Direktur PT perusahaan bir Indonesia dimana pada saat itu manajemen perusahaan sedang kacau, pemasaran yang merosot dan keuntungan kecil.
Ketika ia masuk nama PT Perusahaan Bir Indonesia diubah menjadi PT Multi Bintang Indonesia (MBI), nama yang dulu menggambarkan perusahaan Bir saja lewat gebrakan dan strategi yang dilakukan dalam penggantian nama untuk mengarahkan bahwa perusahaan ini tidak hanya sebagai penyedia bir melainkan perusahaan minuman semacam Beeverage Bussiness.
Selain itu Tanri melebarkan sayap dengan membeli pabrik Coca Cola di Medan pada tahun 1981. Walaupun mengelola perusahaan bir dan minuman, Tanri tidak begitu suka meminum bir. Lewat kesuksesannya dalam memimpin MBI banyak pengusaha mulai meliriknya diantaranya Aburizal Bakrie pemiliki perusahaan Bakrie and Brothers, yang kebetulan sedang ingin membenahi perusahaannya sehingga menawari Tanri untuk bergabung.
1989 mulai berkiprah di perusahaan ini (Bakrie & Brothers) dalam setahun ia telah berhasil meningkatkan keuntungan kelompok usaha Bakrie hingga 30 persen berkat keberhasilannya mendapat julukan sebagai ‘Manajer Rp 1 Miliar’, sebab dirinya mendapat bayaran sebesar itu ketika memimpin perusahaan tersebut.
28 November 1991 saat rapat luar biasa Tanri harus merelakan jabatannya sebagai Presiden Direktur MBI kepada Erik J Korthals namun dari pihak Heineken masih mempertahankan sebagai presiden Komisaris. Penggantian Tanri memang sudah dipersiapkan sejak Juni 1989. Mundurnya dari MBI bukan berarti kesibukan Tanri berkurang ia juga punya bisnis-bisnis pribadi yang dirintis bersama teman-temannya seperti Drs. Abdul Latief dan Pontjo Sutowo.
Keaktifannya di dunia politik sudah dimulai sejak 1991 ketika ia mewakili Golkar sebagai Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Kiprahnya di bidang pemerintahan terwujud dalam beberapa organisasi pemerintah maupun non pemerintah seperti Dewan Pendidikan Nasional mulai tahun 1993 dengan periode jabatan selama lima tahun, Dewan Riset Nasional (1990-1998), Badan Promosi Pariwisata (1990-1996), dan Yayasan Perlindungan Lingkungan.
Pada saat krisis ekonomi tahun 1997-1998, keberhasilan Tanri Abeng di Bakrie & Brothers rupanya mempengaruhi Presiden Soeharto hingga pada tahun 1998 ia ditunjuk Presiden Soeharto menjadi Menteri Pendayagunaan BUMN pada Kabinet Pembangunan VII dan mampu melakukan pembenahan yang cukup signifikan bagi wajah BUMN Indonesia. Pembelajaran politik ini diperoleh selama 7 tahun setelah Soeharto turun pada 21 Mei 1998 Jabatan tersebut berlanjut hingga Kabinet Reformasi Pembangunan pada masa kepemimpinan Presiden BJ Habibie.
Comment