Tawuran Pistol Jeli Resahkan Warga Makassar, DPRD Soroti Peran Orang Tua

Makassar, Respublica— Fenomena “tawuran” menggunakan senjata mainan berpeluru jeli di kalangan remaja belakangan ini menimbulkan keresahan di sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan, termasuk di Makassar.

Aksi tersebut biasanya dilakukan dengan cara saling menembak menggunakan pistol mainan berisi bola-bola jeli, menyerupai adegan dalam gim perang. Aktivitas ini kerap dilakukan secara berkelompok di ruang publik hingga mengganggu kenyamanan masyarakat.

ads

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Komisi D DPRD Makassar, Ari Ashari Ilham, menilai fenomena tersebut tidak semata menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif orang tua dalam mengawasi anak-anak mereka.

“Sehingga kita berharap bahwa para orang tua yang ada di Kota Makassar ini sama-sama bisa mengawasi anaknya untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan kenyamanan dan keamanannya orang lain,” ujarnya, Senin (9/3/2026).

Menurut Ari, maraknya permainan tembak-tembakan yang viral di media sosial seharusnya menjadi pengingat bagi para orang tua untuk lebih memperhatikan aktivitas anak-anak mereka. Ia menilai seluruh orang tua di Makassar perlu bekerja sama dengan pemerintah dalam mengawasi dan menjaga anak-anak agar tidak terlibat dalam aktivitas yang meresahkan.

Ari juga mengingatkan bahwa sebelumnya Pemerintah Kota Makassar pernah memiliki program “Jagai Anak Ta’” yang digagas pada masa kepemimpinan Danny Pomanto. Ia menilai program tersebut seharusnya dapat terus dilanjutkan karena dinilai efektif dalam mendorong pengawasan terhadap anak-anak di lingkungan masyarakat.

“Kan ada program yang dulu itu, program ‘Jagai Anak Ta’’. Harusnya kan itu tidak berakhir sampai di zamannya Pak Danny saja, tetapi kan harusnya bisa diduplikasi juga di apa namanya kepemimpinan yang ada saat ini melanjutkan apa yang sudah bagus, toh?” jelasnya.

Selain peran keluarga, Ari juga menekankan pentingnya keterlibatan aparat lingkungan seperti RT dan RW dalam melakukan pengawasan di tingkat masyarakat.

Menurutnya, RT dan RW merupakan perpanjangan tangan pemerintah di tingkat paling bawah yang dapat membantu mengawasi aktivitas anak-anak di lingkungan masing-masing.

“Nah, kita berharap bahwa RT/RW juga punya peran penting di sini untuk bagaimana mengawasi anak-anak yang ada di lingkungannya masing-masing agar supaya ya tidak terlalu keluar jauh mainnya supaya tidak mengganggu keamanan dan kenyamanan orang berlalu lintas,” ujarnya.

Ia menambahkan, aktivitas bermain di sekitar rumah sebenarnya masih dapat ditoleransi selama tidak mengganggu masyarakat atau pengguna jalan. Namun, masalah muncul ketika para remaja membuat titik kumpul hingga bermain di jalan raya.

“Tapi kalau mereka bikin titik kumpul kemudian mereka sampai turun ke jalan itu kan sudah mengganggu, mi, Kak, apa namanya mengganggu kenyamanan orang berkendara,” tambahnya.

Di sisi lain, Ari menilai munculnya sejumlah kafe yang menyediakan arena permainan tembak-tembakan bisa menjadi alternatif positif untuk menyalurkan hobi anak muda secara lebih aman.

Ia pun mendorong Pemerintah Kota Makassar untuk melihat tren tersebut sebagai peluang menyediakan ruang aktivitas yang lebih terarah bagi anak-anak dan remaja, misalnya dengan memanfaatkan berbagai fasilitas umum yang ada.

“Kan banyak fasilitas umum atau tempat-tempat yang bisa dipakai oleh Dispora, misalnya untuk mengakomodir apa yang menjadi keinginan atau hobinya anak-anak yang ada saat ini. Nah agar supaya mereka bisa melampiaskan hobinya di tempat yang benar seperti itu,” pungkasnya.

Comment