PKL Es Kelapa Rotterdam Demo di DPRD Makassar, Tolak Digusur demi Penataan Kota

Makassar, Respublica—  Aliansi Pekalima Melawan yang terdiri atas sembilan organisasi bersama para Pedagang Kaki Lima (PKL) Es Kelapa Muda yang berjualan di sekitar Benteng Rotterdam, Kelurahan Bulogading menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor sementara DPRD Kota Makassar, Senin (15/6/2026).

Massa menolak rencana penggusuran dan meminta Pemkot Makassar mengedepankan penataan tanpa menghilangkan sumber mata pencaharian pedagang. Aksi tersebut disambut langsung oleh dua anggota DPRD Makassar di antaranya Muchlis Misbah dan Arifin Majid.

ads

Dalam aksi tersebut, Jenderal Lapangan Aliansi Pekalima Melawan, Iswan Kusnadi, menilai kebijakan penertiban yang berujung relokasi berpotensi mengancam keberlangsungan usaha puluhan keluarga yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas berdagang di kawasan Rotterdam.

Menurut Iswan, keberadaan PKL Es Kelapa Rotterdam telah berlangsung selama sekitar 40 tahun dan menjadi sumber penghidupan lintas generasi bagi para pedagang.

“Di saat rakyat butuh dukungan untuk pulih ekonominya, harga kebutuhan pokok naik, daya beli turun, lapangan kerja makin sempit. PKL Es Kelapa Rotterdam adalah sumber penghidupan puluhan keluarga untuk kebutuhan dasar, pendidikan, dan kesehatan,” kata Iswan dalam pernyataan sikapnya.

Ia menegaskan, pemerintah seharusnya menghadirkan solusi yang berpihak kepada masyarakat kecil, bukan justru menghilangkan sumber penghasilan mereka dengan alasan penataan kota.

Menurutnya, lapak pedagang masih memungkinkan untuk ditata tanpa harus dilakukan penggusuran. Ia juga menilai alasan penataan kota perlu dikaji ulang agar tidak mengorbankan ruang hidup masyarakat.

“Kami minta DPRD Makassar untuk mengagendakan RDP menghadirkan teman teman aliansi dan seluruh stakeholder Pemkot Makassar yang kompeten berbicara soal penataan kota.

Dalam pernyataan sikapnya, massa aksi mengemukakan sejumlah alasan penolakan terhadap penggusuran. Di antaranya adalah keberlangsungan usaha yang telah berjalan selama empat dekade.

Kondisi trotoar yang dinilai masih memungkinkan untuk digunakan bersama dengan pejalan kaki, situasi ekonomi masyarakat yang masih sulit, adanya contoh penataan tanpa penggusuran pada periode pemerintahan sebelumnya, serta kekhawatiran menurunnya pendapatan pedagang apabila direlokasi ke lokasi baru.

Massa juga menilai relokasi berpotensi menghilangkan basis pelanggan yang telah terbentuk selama puluhan tahun sehingga mengancam keberlangsungan usaha para pedagang.

Comment